alexametrics

Menangkis Kekerasan terhadap Perempuan dan Remaja Putri

Prancis Perangi Femicide, Inggris Bantu Atasi
1 Desember 2019, 21:26:44 WIB

JawaPos.com – Kekerasan terhadap perempuan, baik fisik maupun verbal, terjadi setiap detik. Tidak hanya di negara miskin dan berkembang, tapi juga di negara-negara yang sudah maju. Perang melawan kekerasan tersebut sudah dikobarkan, namun kemenangan masih jauh dari genggaman.

DIA membunuhku.” Itu adalah kalimat terakhir yang terlontar dari mulut Julie Douib saat Maryse Santini, tetangganya, menemukan ibu dua anak tersebut dalam kondisi bersimbah darah Maret lalu. Dua timah panas bersarang di dada dan lengannya. Hanya dalam hitungan detik, Douib mengembuskan napas terakhir. Dia tewas di tangan ayah anak-anaknya.

Douib sudah berpisah dari pasangan hidupnya tersebut. Dia juga sudah belasan, bahkan mungkin puluhan kali, lapor polisi atas kekerasan yang diterimanya. Hanya dua hari sebelum kematiannya, dia juga menelepon polisi dan memberi tahu bahwa orang yang pernah dicintainya itu memiliki lisensi kepemilikan senjata api. Douib takut dirinya akan ditembak. Namun, polisi tidak merespons ketakutannya.

”Nyonya maaf, lisensinya tidak bisa dicabut kecuali dia mengacungkan senjatanya kepadamu,” papar ayah Douib yang menirukan jawaban petugas kepolisian. Sekitar 48 jam kemudian, senjata yang dimaksud betul-betul diarahkan dan ditembakkan ke Douib.

Douib hanya satu di antara ratusan perempuan di Prancis yang tewas setiap tahun di tangan suami, mantan suami, pasangan hidupnya. Dilansir Agence France-Presse, sepanjang tahun ini setidaknya ada 116 perempuan di Prancis dari berbagai rentang usia yang dibunuh suami, mantan suami, pasangan, kakak lelaki, ataupun putranya. Tahun lalu jumlahnya mencapai 121 perempuan. Sepertiga korban berusia di atas 50 tahun.

Femicide alias pembunuhan perempuan oleh pria jamak terjadi di negeri yang dipimpin Presiden Emmanuel Macron tersebut. Setiap tiga hari sekali, satu nyawa perempuan melayang. Setiap tahun, kekerasan dalam rumah tangga juga terjadi pada 220 ribu perempuan Prancis.

Pemerintah tak tinggal diam. Perdana Menteri Prancis Edouard Philippe mengungkapkan bahwa tahun depan pemerintah mengalokasikan EUR 360 juta (Rp 5,6 triliun) untuk berbagai program pencegahan kekerasan terhadap perempuan. Di antaranya, gelang elektronik untuk para pelaku kekerasan dan seribu shelter baru untuk perempuan korban kekerasan.

”Keberhasilan pertama dari usaha ini adalah untuk memecah rantai keheningan,” tegas dia Senin (25/11), seperti dikutip Associated Press.

Saat ini perempuan korban kekerasan juga bisa langsung mengajukan laporan lewat rumah sakit, tidak perlu ke kantor polisi. Kasus-kasus kekerasan dalam rumah tangga juga akan diproses lebih cepat. Pelaku femicide akan kehilangan akses terhadap anak-anaknya.

BUTUH PERLINDUNGAN: Aktivis feminis melakukan pertunjukan di Alun-alun Zocalo, Mexico City, Jumat (29/11). Rata-rata per hari 10 perempuan dibunuh di Meksiko. Negara tersebut dilabeli sebagai tempat paling berbahaya di dunia untuk perempuan. (AP Photo/Marco Ugarte)

Mulai 25 November Prancis juga menggelar konferensi kekerasan terhadap perempuan selama dua pekan di berbagai penjuru negeri. Total ada 91 konferensi yang digelar.

Salah satu bentuk lain kekerasan adalah mutilasi genital perempuan alias female genital mutilation (FGM). Praktik itu berbeda dengan sunat perempuan di Indonesia yang hanya dibuka sedikit kulit di ujung klitorisnya. Pada FGM, klitoris perempuan dipotong sebagian, bahkan seluruhnya. Salah satu efek sampingnya adalah rasa sakit saat berhubungan seksual.

Praktik FGM banyak terjadi di Afrika. Namun, di Inggris pun jumlahnya cukup tinggi. FGM dilakukan pada 6.200 perempuan sepanjang 2017–2018. Jumlah riil di lapangan bisa lebih tinggi. Kebanyakan pelakunya adalah imigran dari Afrika.

Pemerintah Inggris tidak hanya berusaha mengatasi bahaya FGM di dalam negeri, tapi juga di sumbernya. Pada 2018 mereka menjanjikan bantuan GBP 50 juta (Rp 912,3 miliar). Negara-negara di dunia sepakat untuk mengakhiri praktik FGM pada 2030.

Kepala Seksi untuk Mengakhiri Kekerasan pada Perempuan di UN Women Kalliopi Mingeirou mengungkapkan bahwa yang paling dibutuhkan adalah investasi di kesetaraan gender. Pasalnya, itulah penyebab kekerasan pada perempuan dan remaja putri. Mereka dianggap tak setara. ”Bukti menunjukkan bahwa kampanye saja tidak cukup dan tidak mampu mengubah mentalitas orang,” tegasnya.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : Siti Aisyah/c10/dos



Close Ads