Redam Gejolak Harga, Trump: Saudi Setuju Tambah Produksi Minyaknya

01/07/2018, 09:21 WIB | Editor: Mochamad Nur
Presiden Donald Trump dan Raja Salman (Reuters)
Share this

JawaPos.com - Produsen minyak terbessar dunia Arb Saudi telah menyetujui untuk menambah produksi minyak hingga 2 juta barel per hari guna meredam kenaikan harga dan menjaga stabilitas harga minyak dunia.

Kepastian itu diungkapkan Presiden AS Donald Trump yang menyatakan Raja Salman dari Arab Saudi telah menyetujui permintaannya untuk meningkatkan produksi minyaknya.

Dilansir dari Aljazeera pada Sabtu (30/6), klaim Trump pada Sabtu datang setelah Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak alias Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC), yang mencakup Arab Saudi, telah setuju untuk meningkatkan produksi sebesar satu juta barel per hari pada pertemuan awal bulan ini.

Anggota non-OPEC Rusia pada 23 Juni juga mendukung upaya itu. "Hanya berbicara kepada Raja Salman dari Arab Saudi dan menjelaskan kepadanya bahwa, karena gejolak & disfungsi di Iran dan Venezuela, saya meminta Arab Saudi meningkatkan produksi minyak, mungkin hingga 2 juta barel, untuk membuat perbedaan," tulis Trump di Twitter pada hari Sabtu.

emudian pada hari Sabtu, pejabat Saudi Press Agency (SPA) mengatakan Raja Salman telah berbicara kepada Trump tentang perlunya menjaga stabilitas pasar minyak dan pertumbuhan ekonomi global, tetapi tidak memberikan rincian lebih lanjut tentang peningkatan output.

"Kedua pemimpin menekankan perlunya melakukan upaya untuk menjaga stabilitas pasar minyak dan pertumbuhan ekonomi global," kata SPA.

Arab Saudi adalah pengekspor minyak utama dunia dan biasanya menyimpan setidaknya 1,5 juta hingga dua juta barel per hari kapasitas cadangan, menurut Administrasi Informasi Energi Amerika Serikat. Ini menghasilkan sekitar 10 juta barel minyak mentah per hari, menurut OPEC.

Presiden Trump memang mendorong negara-negara untuk memotong semua impor minyak Iran dari November ketika AS memberlakukan kembali sanksi terhadap Teheran. Tepatnya setelah Trump menarik diri dari kesepakatan nuklir 2015 yang disepakati antara Iran dan enam negara besar lainnya. 

Foto: reuters

(ina/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi