alexametrics
Genjot Kunjungan Wisatawan

Kapasitas Bandara Komodo Ditingkatkan jadi Dua Juta per Tahun

16 November 2019, 21:30:36 WIB

JawaPos.com – Pemerintah telah menetapkan empat destinasi wisata superprioritas di tanah air. Salah satunya, Labuan Bajo di Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT). Sebagai destinasi unggulan, Labuan Bajo perlu membenahi sarana dan prasarananya. Yang paling penting adalah meningkatkan kapasitas bandara untuk menampung lonjakan penumpang.

Kepala Badan Otorita Pariwisata Labuan Bajo Flores (BOPLBF) Shana Fatina Sukarsono mengatakan bahwa saat ini Bandara Komodo mampu menampung 500 ribu penumpang per tahun. “Kami mau naikkan menjadi 2 juta penumpang per tahun,” katanya Jumat (15/11).

Selanjutnya, status pelabuhan udara itu pun akan berubah menjadi bandara internasional. Sejauh ini, pembangunan baru sampai pada tahap lelang proyek.

Shana mengatakan bahwa prioritas pembangunan adalah runway. Nanti, panjang runway ditambah. Selain runway, BOPLBF mengusulkan peremajaan alat navigasi.

Tahun ini target jumlah wisatawan ke Labuan Bajo adalah 1,5 juta. Perinciannya adalah 1 juta wisawatan nusantara (wisnus) dan 500 ribu wisatawan mancanegara (wisman). Namun, target itu sepertinya tidak akan tercapai sampai akhir tahun.

Sebab, frekuensi penerbangan langsung dari berbagai area ke Labuan Bajo masih sangat rendah. Sekarang baru ada tiga penerbangan langsung dari Jakarta, empat penerbangan dari Bali, dan dua penerbangan langsung dari Surabaya.

Pada periode 2015–2017, pertumbuhan jumlah wisman ke Labuan Bajo meningkat sampai 207 persen. Arus kunjungan wisnus malah lebih tinggi. Yakni, 448 persen. Shana menambahkan bahwa persentase wisnus memang belakangan lebih tinggi ketimbang wisman.

“Jika pada 2015 sebesar 70 persen turis asing dan 30 persen wisnus, Sekarang komposisinya terbalik. Sebanyak 65 persen wisman dan 35 persen wisnus,” paparnya.

Shana juga mengakui adanya perbedaan perilaku antara wisnus dan wisman. Jika wisman lebih suka ke Labuan Bajo untuk menyendiri, wisnus lebih suka berfoto di lokasi populer.

Dalam kesempatan itu, Shana mengatakan bahwa BOPLBF ingin menjadikan Labuan Bajo sebagai pintu gerbang ecotourism di NTT. “Labuan Bajo itu didesain bukan (sebagai pintu masuk, Red) untuk ke Pulau Komodo, tapi untuk ke NTT. Itu kenapa semua pembangunan dipusatkan di Labuan Bajo,” ujarnya.

Selain Pulau Komodo, sebenarnya Pulau Rinca menjadi habitat alami komodo. Namun, mengembangkan wisata komodo sampai ke Rinca akan memakan banyak waktu. Jadi, konsep itu bakal dimatangkan pada Januari 2020 dengan tim bentukan menteri KLHK.

“Di New Zaeland bisa diatur, misalnya wisata mana sudah penuh nanti tiketnya dimahalin lalu lokasi lain dimurahin agar wisatawan ke sana. Kami tidak ingin hancur, tidak jelas lalu ditinggalkan,” ungkapnya.

Terobosan lain, menurut Shana, adalah sistem pemesanan paket wisata dalam jaringan (daring) alias online bagi wisatawan. Dengan demikian, wisman maupun wisnus sudah bisa langsung memikirkan itinerary sebelum datang ke Labuan Bajo.

Kepala Kantor Wilayah Ditjen Perbendaharaan NTT Lydia Kurniawati Christyana mengatakan, pemerintah juga terus melakukan pembangunan infrastruktur di kawasan Labuan Bajo.

Editor : Estu Suryowati

Reporter : (vir/c25/hep)



Close Ads