alexametrics

Proyek Tol Jogja-Solo Dikebut, Pematokan Lahan Terus Berlanjut

8 September 2020, 12:25:12 WIB

JawaPos.com – Pembangunan proyek tol Jogja-Solo kini sudah memasuki tahap pemasangan patok. Meskipun masih ada tanah kelurahan terdampak tol yang belum memiliki peraturan desa (perdes), pematokan akan terus dilakukan.

Kepala Dinas Pertanahan dan Tata Ruang DIJ Krido Suprayitno menjelaskan, pematokan tanah akan terus berlangsung secara paralel. Yang berarti proses penyusunan perdes akan dilanjutkan oleh pemerintah kelurahan yang bersangkutan, namun pematokan juga tetap berjalan.

Krido menambahkan, pemasangan patok tidak membedakan apakah tanah itu hak milik atau tanah kas desa. Jika semuanya sudah sesuai dengan trase dalam izin penetapan lokasi (IPL), maka pematokan akan dilakukan. “Hanya saja proses pembebasan lahan nanti harus sesuai prosedur, yaitu Peraturan Gubernur Nomor 34 Tahun 2017 tentang Pemanfaatan Tanah Desa,” jelasnya seperti dikutip Radar Jogja, Selasa (7/9).

Krido menjelaskan, pemasangan patok di kelurahan pertama yakni Tirtomartani, Kecamatan Kalasan sudah selesai dilakukan. Untuk selanjutnya, pematokan mulai memasuki Kelurahan Tamanmartani. Usai dari kalurahan kedua, nantinya pemasangan patok akan berlanjut ke Selomartani yang merupakan kelurahan ketiga.

Namun, hingga saat ini perdes mengenai pemanfaatan tanah desa di Selomartani masih belum selesai. Saat ini, tambah Krido, pembuatan perdes di Selomartani masih dalam tahapan inventarisasi. Untuk mempercepat pembuatan perdes itu, Dispertaru Kabupaten Sleman juga telah melakukan pendampingan.

Krido berharap, perdes akan cepat rampung sehingga pematokan selesai dalam dua bulan mendatang. “Ini inventarisasinya di Kelurahan Selomartani belum selesai. Jenis-jenis tanah tadi belum selesai. Karena semuanya harus dituangkan di lampiran Perdes,” tambahnya. .

Ia mengaku, pihaknya juga masih belum dapat melihat secara keseluruhan luasan tanah kelurahan terdampak di Selomartani. Terlebih ketika pihak kelurahan belum mengirimkan data ke Pemprov DIJ.

Meskipun demikian, secara prinsip tahapan pematokan sampai saat ini tidak ada kendala. Hal ini karena permasalahan sudah diselesaikan saat konsultasi publik. Seperti pihak bersangkutan meminta tanahnya untuk dibebaskan.

“Misalnya luas lahan miliknya 500 meter, hanya terkena 300 meter, tapi yang 200 meter minta sekalian dibebaskan. Itu sah-sah saja, menggunakan mekanisme mengajukan permohonan. Hal itu diketahui ketika dipatok di lapangan,” ungkapnya.

Kegiatan pematokan, tambah Krido, bisa didampingi oleh sang pemilik tanah. Selain itu progres pematokan juga dilakukan di bawah pendampingan Kundha Niti Mandala sarta Tata Sasana Kabupaten Sleman.

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Mohamad Nur Asikin




Close Ads