
Penampakan Bandara Tabing
JawaPos.com - Saat ini masyarakat Sumatera Barat (Sumbar) sudah terbiasa memanfaatkan Bandara Internasional Minangkabau (BIM) untuk melakukan perjalanan via udara. Sebelum ada Bandara Minangkabau, di Sumbar terdapat bandara komesial. Namanya Bandara Tabing.
Bandara Tabing terletak di pusat Kota Padang. Masyarakat setempat menyebutnya kawasan itu Tabing. Semenjak Bandara Minangkabau mulai dioperasikan pada 2005, Bandara Tabing sepenuhnya menjadi pangkalan udara TNI-AU. Nama diubah menjadi Pangkalan Udara Sutan Sjahrir.
Sementara itu, Bandara Internasional Minangkabau (BIM) adalah bandara komersial. Letaknya sebetulnya tidak di Kota Padang, melainkan di wilayah Kabupaten Padang Pariaman. Meski berada di wilayah lain, masyarakat Kota Padang masih dapat mengaksesnya karena tidak terlalu jauh dari perbatasan Kota Padang.
Bandara Internasional Minangkabau dapat diakses dari arah utara dan timur wilayah Sumbar. Dari arah utara umumnya masyarakat Kota Pariaman, Kota Bukittinggi, Kota Payakumbuh, Kota Padang Panjang, Kabupaten Agam, Kabupaten Tanah Datar, Kabupaten 50 Kota, Kabupaten Pasaman, Kabupaten Pasaman Barat.
Dari arah timur, adalah masyarakat dari Kabupaten Solok, Kota Solok, Kabupaten Solok Selatan, Kabupaten Sijunjung, Kabupaten Dharmasraya, dan Kota Sawahlunto. Dari arah selatan yakni Kabupaten Pesisir Selatan.
Bandar Udara Internasional Minangkabau berjarak sekitar 23 km dari pusat Kota Padang. Bandara ini dibangun pada 2002 dan dioperasikan secara penuh pada 22 Juli 2005 menggantikan Bandara Tabing.
Bandara Internasional Minangkabau berdiri di atas tanah seluas 4,27 kilometer persegi dengan landasan pacu sepanjang 3.000 meter dengan lebar 45 meter. Bandara ini melayani penerbangan domestik dan internasional.
Terminal bandara memiliki luas 20.568 meter persegi. Kapasitasnya 2,3 juta penumpang setiap tahun. Pada 2017, bandara ini diperluas dua tahap hingga mencapai 49.000 meter persegi. Dengan pengembangan itu nantinya bisa menampung sekitar 5,9 juta penumpang per tahun.
Suryadi, sejarawan Minangkabau dan peneliti di Universiteit Leiden, Belanda, dalam niadilova.wordpress.com mengatakan, Bandara Tabing dibangun pada 1967 dan menjadi gerbang udara utama Sumatera Barat dengan wilayah-wilayah lain di Indonesia. Bandara Tabing pun menjadi melayani penerbangan ke negeri jiran, seperti Malaysia dan Singapura.
Kala masih beroperasi, maskapai favorit yang mendarat Bandara Tabing adalah Merpati Airlines. Bandara Tabing dibangun semasa pemerintahan Sumbar era gubernur Harun Zain.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
