alexametrics

Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung Membengkak Hingga Rp 26,9 Triliun

1 September 2021, 19:50:16 WIB

JawaPos.com – PT KAI (Persero) mengungkapkan, biaya proyek kereta cepat Jakarta-Bandung kembali membengkak dari sekitar USD 6,07 miliar menjadi USD 7,97 miliar atau sekitar Rp 113 triliun. Total pembengkakan biaya proyek tersebut telah mencapai USD 1,9 miliar atau atau tepatnya sekitar Rp 26,9 triliun.

Sebenarnya, pembengkakan estimasi biaya pembangunan juga sudah terjadi pada tahun 2016 lalu saat revisi jarak tengah antar rel ganda membuat biaya mega proyek kereta cepat itu menelan biaya lebih dari USD 5,135 miliar.

Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PT KAI Salusra Wijaya menjelaskan, awalnya biaya proyek mencapai USD 6,07 miliar atau sekitar Rp 85 triliun. Kemudian, di tengah jalan ada kemungkinan biayanya membengkak setelah peninjauan konsultan PT Konsorsium Kereta Cepat Indonesia-China (KCIC) selaku pemilik proyek dilakukan.

“Awalnya USD 6,07 miliar tadi perkiraannya berkembang menjadi USD 8,6 miliar waktu itu diestimasi pada November 2020 oleh konsultan dari KCIC,” ujarnya dalam rapat kerja dengan Komisi VI DPR, Rabu (1/9).

Menurutnya, penyebab dari pembengkakan biaya proyek tersebut diketahui pada September 2020 lalu ketika mengalami keterlambatan. Selain itu, juga mengalami kendala pembebasan lahan. Maka dari itu pemerintah meminta KCIC untuk melakukan peninjauan ulang.

Kemudian, lanjutnya, setelah hasil peninjauan pada November 2020 lalu, pada peninjauan ulang yang pertama, pembengkakan biaya proyek tercatat mencapai USD 2,5 miliar atau totalnya menjadi USD 8,6 miliar.

Sebagai informasi, KCIC selaku pemilik proyek kereta cepat Jakarta Bandung merupakan gabungan dari beberapa BUMN dalam PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) dan juga gabungan perusahaan China dalam perusahaan Beijing Yawan. 60 persen dari KCIC milik PSBI, sisanya adalah milik gabungan perusahaan Tiongkok. KAI sendiri merupakan salah satu perusahaan yang berada di dalam PSBI.

Salusra mengatakan, dampak dari temuan pembengkakan biaya peninjauan pertama, PSBI selaku perusahaan gabungan BUMN melakukan tinjauan ulang sendiri. Hasil peninjauan dengan konsultan, PSBI justru menemukan pembengkakan lebih besar bahkan mencapai USD 3,8-4,9 miliar atau kalau ditotal dengan biaya proyek di awal menjadi USD 9,9-10 miliar.

Sejak saat itu, kata Salusra, perbaikan dan efisiensi pun dilakukan di tubuh KCIC selaku perusahaan induk yang menangani Kereta Cepat Jakarta Bandung. Manajemen dirombak, kemudian efisiensi biaya banyak dilakukan. “Mulai dari efisiensi rencana TOD, pengelolaan stasiun melalui relokasi dan sebagainya,” pungkasnya.

Editor : Bintang Pradewo

Reporter : Romys Binekasri

Saksikan video menarik berikut ini:




Close Ads