← Beranda

Pertunjukan 100 Wayang Potehi Jelang Momen Imlek

Suryo Eko PrasetyoJumat, 20 Januari 2017 | 19.35 WIB
AGAR LESTARI: Wayang-wayang potehi dari Yayasan Po Tee Hie Fu He An Jombang dipamerkan di Art Gallery House of Sampoerna mulai Kamis (19/1).

JawaPos.com – Sebanyak 100 wayang potehi dipamerkan di Art Gallery, House of Sampoerna, mulai Kamis (19/1) hingga 25 Februari. Ia menggambarkan beragam tokoh dan cerita. Kostum yang dikenakan juga beragam.


Potehi adalah salah satu jenis wayang khas Tiongkok. Para perantau Tiongkok membawanya ke Indonesia pada abad ke-16. Kini potehi menjadi salah satu kesenian tradisional Indonesia.


Di Indonesia, keaslian potehi masih terjaga jika dibandingkan dengan di Tiongkok. Hal tersebut disampaikan Manajer Yayasan Potehi Po Tee Hie Fu He An Ardian Purwoseputro saat jumpa pers pada hari itu.


’’Beberapa abad setelah itu, ada pembakaran dan penghilangan besar-besaran terkait wayang potehi di Tiongkok,” ungkapnya. Beberapa wayang potehi asli yang dibawa saudagar Tiongkok pada abad ke-16 masih terjaga di Yayasan Po Tee Hie Fu He An.


Yayasan yang berlokasi di Gudo, Jombang, tersebut didirikan Toni Harsono. ’’Buyut Bapak Toni menjadi salah seorang yang berhasil mendapatkan wayang potehi yang dibawa pedagang Tiongkok,” jelas pria yang juga berprofesi sebagai fotografer tersebut. Kemudian, benda berharga itu dijaga turun-temurun oleh generasi setelahnya.


Dalam perkembangannya, potehi yang berasal dari suku kata pou (kain), te (kantong), dan hi (wayang) itu mengalami beberapa reformasi. Mulai material, tampilan, hingga bahasa yang digunakan.


Potehi dimainkan dengan menggunakan tangan. Ardian lantas mencontohkan cara menggerakkan wayang kain tersebut. Jari telunjuk digunakan untuk menggerakkan kepala. Lalu, jempol menggerakkan tangan kiri, sedangkan tiga jari lain menggerakkan tangan kanan si wayang.


Saat kali pertama dikenalkan di Indonesia, wayang potehi selalu dibawakan dengan bahasa asalnya, yakni Hokkian. Namun, kini cerita dan bahasa yang dipakai semakin beragam. Ada yang menggunakan bahasa Indonesia, ada pula yang memakai bahasa Jawa. Masih banyak juga pertunjukan yang menggunakan bahasa Hokkian.


Begitu juga cerita yang ditampilkan dalam pertunjukan. Tidak melulu tentang kehidupan di Kerajaan Tiongkok pada masa silam, bisa juga dikombinasikan dengan cerita yang berkembang saat ini. Salah satu cerita yang sering ditampilkan mengadopsi novel Se Yu (Pilgrimage to the West) yang mengambil lakon utama Kera Sakti.


Hal itu terlihat dalam koleksi Yayasan Po Tee Hie Fu He An dalam pameran bertema Potehi Reborn: Menghidupkan Kembali Wayang Potehi tersebut. Ada empat tokoh dalam cerita itu. Selain Sung Go Kong, ada Pendeta Tong, Tie Pat Kai, dan Wu Ching. Mereka tampil lengkap dengan aksesori dan pakaian yang menjadi ciri khas. Sung Go Kong, misalnya. Wayangnya menggunakan pakaian putih. Lalu, rambutnya perak dan membawa tongkat sakti yang terkenal dalam cerita.


Beda cerita, beda pula tokoh yang digunakan. Dalam cerita berjudul Sie Djin Koei Ceng See, ada empat tokoh utama yang dipamerkan. Mereka adalah Sie Djin Koei (Raja Muda), Sie Teng San (Anak Raja Muda), Lie Sie Bin (Raja Kerajaan Tong Tiauw), dan Jie Bou Kong (penasihat Kerajaan Tong Tiauw). Selain empat tokoh utama tersebut, ada tiga pemeran pembantu yang bisa dilihat dalam pemeran. Tiga tokoh itu merupakan istri Sie Teng San, yaitu Hijan Le Hoa, Tan Kim Teng, dan Touw Sian Tong.


Ardian mengungkapkan, wayang potehi memang kurang diminati saat ini. Apalagi oleh anak muda. Karena itulah, melalui pameran tersebut, dia berharap bisa mengundang ketertarikan generasi muda dan masyarakat dalam melestarikan kesenian Indonesia. ’’Yayasan kami selalu welcome dengan orang yang mau belajar. Ada juga workshop pembuatan potehi di sana,” katanya.


Selain pameran, Yayasan Po Tee Hie Fu He An sering kali manggung di berbagai tempat. Bukan hanya di kelenteng, mereka juga kerap tampil di mal, sekolah, pondok pesantren, gereja, dan tempat hiburan lainnya.


Meski sudah banyak perubahan, dalang potehi Yayasan Po Tee Hie Fu He An Purwanto mengatakan bahwa terdapat sesi yang khas dalam setiap pertunjukan potehi. Yakni, Suluk atau Siu Lampek. Syair yang dibacakan saat tokoh utama muncul di awal cerita. ’’Syair ini berisi kata-kata mutiara sebanyak 1–2 bait saja,” ujar dalang asal Jombang tersebut.



Purwanto melanjutkan, cerita potehi kental dengan nuansa kerajaan. Cerita-cerita yang disajikan selalu mengandung nasihat tentang kehidupan. Satu judul cerita tidak bisa dipertunjukkan dalam satu kali penampilan. ’’Paling lama bisa sampai 3–4 bulan untuk satu judul cerita saja,” jelas pria yang menjadi dalang potehi sejak 37 tahun lalu itu. Sebab, satu kali penampilan potehi memakan waktu dua jam. ’’Ini yang menjadi ciri khas potehi juga,” tambahnya.


Sementara itu, imlek atau hari raya umat konghucu tahun ini bertepatan pada akhir pekan, Sabtu (28/1). (bri/c7/jan/sep/JPG)

EDITOR: Suryo Eko Prasetyo