alexametrics

Sudut Kota Nur-Sultan Jadi Tempat Pelesir Warga

27 April 2020, 02:56:35 WIB

Pemerintah Nur-Sultan berupaya menyeimbangkan pembangunan ibu kota Kazakhstan tersebut. Bukan hanya bangunan modern menjulang yang mereka bangun. Tempat-tempat bagi warga melepas penat juga tersedia di beberapa penjuru kota.

ALIBAEV Maulet Bilyalovich, head of Integrated Architectural Planning Astana Genplan, mengungkapkan bahwa Nur-Sultan harus dibangun dengan seimbang. ’’Setiap sektor kota harus bisa memenuhi kebutuhan warganya,’’ kata Alibaev saat ditemui Jawa Pos di Nur-Sultan pada Januari lalu.

Astana Genplan adalah lembaga yang bertugas mengawal pertumbuhan Nur-Sultan agar tetap sesuai dengan perencanaan awal ketika ibu kota pindah dari Almaty pada 1998. Kalau di Indonesia, badan tersebut bisa diibaratkan badan perencanaan pembangunan kota (bappeko).

Alibaev menuturkan bahwa di Nur-Sultan terdapat 129 sektor yang masing-masing dihuni maksimal 10 ribu orang. Di tiap sektor setidaknya harus ada 1 sekolah, 2 taman kanak-kanak, 1 klinik, apotek, bank, toko, dan pusat layanan warga. ’’Dalam satu sektor harus ada 30 institusi. Sebelumnya, pada perencanaan awal, ada 67 institusi yang diwajibkan ada di tiap sektor. Tapi, akhirnya banyak yang direvisi,’’ kata Alibaev kepada Jawa Pos.

Karena itu, warga tidak perlu menyeberang ke sisi kota yang jauh untuk mendapatkan hiburan atau layanan publik. Semua sudah tersedia di sekitar tempat tinggalnya. Termasuk untuk berwisata.

Mal besar memang ada di tengah kota. Misalnya, Khan Shatyr, mal berbentuk tenda setinggi 150 meter yang dirancang Norman Foster, arsitek dari Inggris. Di mal tersebut, hiburan cukup komplet. Mulai aneka toko, tempat makan, sinema, hingga pantai dalam ruangan. Atau Mega Silk Way yang terletak sedikit di sisi timur kota. Mal tersebut juga punya skating rink untuk bermain seluncuran es.

MELUNCUR SAAT DINGIN: Sebentuk seluncuran es dibangun di bawah Monumen Kazakhs Eli, Nur-Sultan. Warga memanfaatkan tempat itu untuk rekreasi saat musim dingin. (DOAN WIDHIANDONO/JAWA POS)

Wisata luar ruangan pun memadai. Ketika Jawa Pos meliput ke Nur-Sultan pada Januari, negeri tersebut sedang dibekap musim dingin. Cuaca selalu di bawah 0 derajat Celsius. Paling ’’panas’’ adalah 1−2 derajat Celsius. Karena itu, wisata yang ada di luar ruangan pasti tidak jauh-jauh dari es dan salju. Misalnya, ice skating. ’’Di sini, skating sangat populer. Saya aja sekarang mau berangkat skating-an sama teman-teman,’’ kata Made Dwika Jarianti, WNI yang sedang bekerja di Nur-Sultan.

Salah satu tempat skating luar ruangan yang ketika itu berdiri ada di bawah monumen Kazakhs Eli, tugu setinggi 91 meter berbahan marmer putih. Di puncak tugu terdapat patung burung Samruk yang melambangkan kedaulatan rakyat. Monumen tersebut terletak di alun-alun yang sangat strategis.

Ia ada di sebelah Hazret Sultan, masjid terbesar di Kazakhstan dan Asia Tengah. Alun-alun itu juga ada di hadapan Shabyt Palace of Arts, gedung konser berkapasitas hampir 400 kursi yang dilengkapi ruang pameran dan aneka kelas kesenian.

Monumen Kazakhs Eli ada di belakang Ak Orda (Istana Kepresidenan) dan Istana Perdamaian yang berbentuk piramida. Di depan alun-alun ada kompleks hunian yang cukup modern dan elite.

Siang itu tempat skating tersebut cukup ramai. Padahal, salju sedang turun dengan lebat. Selain lintasan skating, lokasi tersebut dilengkapi tempat meluncur. Semua terbuat dari es. Tidak mungkin mencair. Sebab, suhu sedang berada pada titik minus 15 derajat Celsius.

MELUNCUR SAAT DINGIN: Sungai Isil yang beku juga dipakai warga Nur-Sultan untuk pelesir. Sekelompok warga Nur-Sultan melintas di belakang Istana Perdamaian yang berbentuk piramida. Beberapa figur Marvel menghiasi alun yang sedang tertutup salju tersebut. (DOAN WIDHIANDONO/JAWA POS)

Suhu yang beku itu juga membuat Sungai Isil yang membelah kota menjadi tertutup es. Karena itu, sungai tersebut menjadi tempat wisata es yang menyenangkan. Gratis pula. Di sejumlah tempat, warga berkumpul di tepi sungai dan bermain seluncuran pada salju yang membekukan tebing sungai. Selain itu, ada yang menyewakan kendaraan yang bisa melaju pada es beku di tengah sungai. Kendaraan itu menarik orang yang berdiri di dua bilah papan. Mirip ski. Tetapi di permukaan es.

Menurut Murad Tulubaev, warga Nur-Sultan yang bekerja di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI), kotanya kini memang sangat menyenangkan. Lelaki kelahiran 18 Desember 1968 itu sudah tinggal di Nur-Sultan saat kota tersebut masih bernama Tselinagrad. ’’Sekarang semua aman. Banyak tempat wisata,’’ katanya. Namun, Murad masih punya kenangan manis pada wajah kotanya sebelum menjadi ibu kota. ’’Dulu, di sini banyak tanaman. Ladang kol, wortel. Sekarang hilang. Menjadi lebih modern,’’ katanya. (*)

Saksikan video menarik berikut ini:

 

 

Editor : Ilham Safutra



Close Ads