alexametrics

Penajam Paser Utara Masih Timpang, tapi Potensial Berkembang

Laporan Bayu Putra dari Penajam Paser Utara
26 Januari 2020, 23:31:37 WIB

SEBAGIAN besar wilayah utama proyeksi ibu kota negara akan terletak di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU). Sementara itu, sebagian besar kawasan pendukungnya akan berada di wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Keduanya punya potensi besar untuk berkembang menjadi wilayah yang maju dan modern.

Saat ini dua kabupaten itu memang jauh tertinggal jika dibandingkan dengan Jakarta. Namun, potensi kemajuan sudah tampak di dua kabupaten tersebut. Khususnya di PPU. Sebab, ruang pengembangan yang tersedia masih sangat besar tanpa perlu bersinggungan dengan alam.

Kabupaten PPU memiliki wilayah yang luasnya 3.333,06 kilometer persegi. Atau kurang lebih 10 kali luas wilayah Kota Surabaya. Namun, kabupaten tersebut dihuni 172 ribu penduduk. Sedikit lebih banyak daripada penduduk Kecamatan Wonokromo di Surabaya.

Wilayah PPU relatif datar bila dibandingkan dengan Kukar. Sebab, sebagian besar wilayahnya berada di sekitar teluk Balikpapan dan pesisir timur Kalimantan. Mengacu data BPS, wilayah tertinggi di PPU berada pada ketinggian 150 mdpl. Mirip Jakarta.

Sekretaris Daerah PPU Tohar menjelaskan, tata ruang wilayah di PPU sedikit berbeda dengan kawasan perkotaan lain. ”Di sini, jalan utama hanya ada satu,” terangnya. Jalur tersebut memanjang dari pelabuhan penyeberangan di teluk Balikpapan hingga perbatasan dengan Kabupaten Paser.

Kemudian, di kilometer 18, ada pertigaan untuk berbelok ke barat. Pertigaan itu adalah jalur utama menuju Kecamatan Sepaku yang ibu kotanya terletak di ujung terdalam teluk Balikpapan. Jalan tersebut mengitari teluk Balikpapan sepanjang 104 kilometer dan berakhir di jalur trans-Balikpapan–Samarinda di km 38.

Bila hendak ke Balikpapan via jalur darat, dibutuhkan waktu sedikitnya lima jam dengan jarak tempuh sekitar 150 km dengan memutari teluk. Karena itulah, di PPU terdapat alternatif jalur untuk menuju Balikpapan, yakni lewat jalur penyeberangan laut. Tersedia feri untuk menyeberangi teluk Balikpapan dan bisa memangkas waktu perjalanan sekitar tiga jam.

Kabupaten PPU tahun ini baru akan berusia 18 tahun. PPU merupakan wilayah pemekaran dari Kabupaten Paser pada 2002. Wilayahnya terbagi dalam empat kecamatan. Yakni, Penajam sebagai ibu kota kabupaten, Kecamatan Waru, Babulu, dan Sepaku. Kecamatan Sepaku itulah yang sebagian besar wilayahnya akan menjadi ibu kota negara (IKN).

Saat Jawa Pos berkunjung ke PPU pertengahan Januari lalu, tampak kondisi kabupaten tersebut mengonfirmasi data yang ada. Di jalur utama di Kecamatan Penajam saja, permukiman tidak terlalu banyak. Di sejumlah titik, jarak antara bangunan satu dan tetangganya cukup lebar.

Kondisi permukiman yang cukup padat baru terlihat di sekitar kawasan pelabuhan dan pertigaan Petung yang menjadi akses ke Kecamatan Sepaku. Jalanan di 10 kilometer pertama dari pelabuhan cukup lebar. Jalurnya berupa boulevard yang masing-masing memiliki 2–3 lajur. Selepas km 10, barulah jalan menyempit menjadi dua lajur untuk dua arah. Menjelang km 18, barulah terlihat boulevard lagi.

Tipikal tata ruang yang memanjang itu cukup menguntungkan. Hanya dengan menyusuri jalur utama, kita sudah bisa melihat hampir keseluruhan wilayah PPU. ”Kalau sampai nyasar di sini, itu keterlaluan sekali,” seloroh Adikade, warga PPU yang ditemui Jawa Pos. Sebab, kawasan permukiman maupun ekonomi berada di sekitar jalur utama.

GERBANG KOTA: Jalur masuk menuju Coastal Road Penajam Paser Utara yang direncanakan menjadi jalur utama menuju jembatan tol Penajam-Balikpapan. (BAYU PUTRA/JAWA POS)

Saat ini secara statistik memang cukup terlihat ketimpangan antara wilayah calon IKN dan DKI Jakarta. Baik dari sisi kependudukan, infrastruktur, dan terutama perekonomian. Keberadaan IKN diharapkan bisa memperkecil ketimpangan tersebut.

Kepala Departemen Perencanaan Wilayah dan Tata Kota Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya Adjie Pamungkas menuturkan, wilayah Kalimantan Timur adalah daerah yang potensial. Setidaknya memenuhi kriteria lokasi yang memiliki akses ke laut. ”Memiliki perairan yang tenang, relatif berada di tengah Indonesia, memiliki potensi bencana yang rendah, dilewati jalur fiber-optic backbone nasional (Palapa Ring), dan pola kepemilikan lahan yang mudah dikuasai pemerintah,” jelas Adjie Rabu lalu (22/1).

Pemindahan ke Kaltim, lanjut dia, juga dapat mengubah proses pembangunan saat ini. Yang cenderung terpusat di Jawa. Jika dilihat dari lingkungan, pemindahan IKN tentu tidak boleh mengganggu hutan lindung. Mengingat, Kaltim memiliki area hutan yang sangat luas. Baik hutan produksi, hutan lindung, maupun pertambangan.

Perlu dicari lahan tidak produktif dan bukan hutan lindung yang dapat mengakomodasi kegiatan pusat pemerintahan. Kemampuan mengendalikan skala kota menjadi kunci keberhasilan pembangunan tersebut. Mengingat, Kalimantan masih didominasi lahan hutan sebagai paru-paru dunia.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : */Agas Putra Hartanto/c11/dos


Close Ads