alexametrics

Nur-Sultan dan Almaty: Tinggalkan Masa Lalu di Kota Baru

26 Januari 2020, 20:59:15 WIB

Nur-Sultan dan Almaty, dua kota terpenting di Kazakhstan, sama-sama menyimpan sisi kejayaan negeri terluas kesembilan di dunia tersebut. Di Almaty ada jejak kejayaan masa silam. Sedangkan di Nur-Sultan ada harapan kejayaan untuk masa depan.

SISA kejayaan Almaty tak jua luntur. Kota itu masih punya sisa-sisa wibawa yang besar. ”Jangan heran, Almaty menjadi ibu kota selama 70 tahun,” tutur Dilyara Khassanova yang mengantar saya mengelilingi Almaty pada Senin (13/1). Memang, Almaty yang dulu bernama Verniy sudah ditahbiskan sebagai kota penting oleh Uni Soviet sejak zaman Revolusi Bolshevik pada 1918.

Sejak saat itu, Almaty terus menjadi kota terpenting di wilayah yang akhirnya menjadi negara Kazakhstan. Menyusul runtuhnya Soviet dan lahirnya Kazakhstan, Almaty menjadi ibu kota negara. Sampai 1998, saat ibu kota berpindah ke Astana yang lantas bernama Nur-Sultan.

Tujuh dekade menjadi kota nomor wahid, percik-percik masa lalu itu tak bisa begitu saja lenyap. Dengan 2 juta lebih penduduk, Almaty terasa lebih padat ketimbang Nur-Sultan. Sesak. Hunian komunal khas Soviet, blok-blok apartemen 5–6 tingkat dengan warna khaki, tersebar di penjuru kota. Jalan juga terasa sempit dengan kabel-kabel yang berseliweran di atasnya. Untuk menyokong perjalanan bus listrik ke berbagai penjuru kota.

Jejak era Soviet juga terasa pada hadirnya berbagai monumen yang ada di sejumlah sudut kota. Berbeda dengan Nur-Sultan yang taman-taman kotanya dihiasi berbagai bentuk geografis-futuristis. Pada hari yang hangat itu (-3 derajat Celsius, cukup nyaman untuk ukuran musim dingin Kazkhstan), Dilyara mengajak saya ke Park of 28 Panfilov Guardsmen. Itu adalah sebuah taman yang luas, dinaungi pepohonan yang dihuni tupai. ”Di Almaty, bukan hanya orangnya yang imigran dari berbagai negara. Tupai di sini juga imigran. Mereka dibawa orang Soviet yang ingin Almaty seperti tanah air mereka. Lucu, ya?” kata Dilyara, lantas tersenyum. Bikin hari itu kian hangat.

Di taman tersebut masih ada dua nisan tanpa nama. Sebentuk salib khas Ortodoks Rusia, satu garis vertikal dengan tiga garis horizontal, menghiasi kubur batu berukuran sekitar 1,5 x 3 meter tersebut. ”Tak ada yang tahu siapa yang dikubur ini,” ungkap Dilyara.

Di dekat kuburan itu ada Katedral Kristen Ortodoks Rusia. Orang biasa menyebutnya Katedral/Gereja Senkov. Gereja itu beken lantaran selamat dari gempa besar pada 1911 yang meluluhlantakkan Almaty. ”Gereja ini dibangun dari kayu dengan sendi-sendi yang tidak dipaku. Konstruksinya diikat dengan tali baja yang bisa bergerak saat ada guncangan. Lentur,” kata Dilyara.

Di taman itu pula berdiri patung besar yang menggambarkan kegagahan 28 prajurit Almaty saat melawan Jerman dalam Perang Dunia II. Di depannya ada sebentuk altar yang terus-menerus mengeluarkan nyala api abadi. Gestur para prajurit diabadikan dalam patung yang sangat heroik. ”Tapi, lihat background patung itu. Bentuknya apa? Negara Uni Soviet, kan?” kata Dilyara.

Ya, sebagai kota yang sekian lama berkelindan dengan Uni Soviet, prasasti negeri komunis tersebut terasa sangat kuat. Hal itulah yang tidak terlihat di Nur-Sultan. Di ibu kota baru itu, Kazakhstan seakan ”melepaskan diri” dari masa lalu itu. Di Nur-Sultan yang terlihat justru semangat Kazakhstan dalam menatap masa depan. Hal tersebut tergambar dalam gedung-gedung futuristis yang bertebaran di penjuru kota berikut ini. (*)

MENARA BAITEREK

Fungsi: Menara observasi dan museum mini
Filosofi: Menyimbolkan telur emas yang berada di pucuk pohon kehidupan
Pembangunan: 1996–2002
Tinggi: Total 105 meter dengan lantai observasi pada ketinggian 97 meter yang melambangkan tahun kemerdekaan Kazakhstan
Julukan: Si Lolipop atau Chupa-Cup

ISTANA PERDAMAIAN DAN REKONSILIASI

Fungsi: Gedung pertemuan lintas agama dan museum perdamaian
Pembangunan: 2004–2006
Dimensi: Piramida dengan dasar kubus bersisi 12 meter; tinggi piramida 62 meter
Julukan: Si Piramida

GEDUNG KONSER NASIONAL KAZAKHSTAN

Fungsi: Pusat pertunjukan seni di Nur-Sultan
Filosofi: Bangunan berbentuk bunga dengan kelopak yang sedang mekar
Pembangunan: 2004–2009
Luas: 60 ribu meter persegi
Julukan: Si Kubis

MALL KHAN SHATYR

Fungsi: Pusat perbelanjaan dan wisata urban (minigolf, pantai indoor, dan tempat skating)
Pembangunan: 2005–2010
Dimensi: Tinggi 150 meter dengan lantai seluas 100 ribu meter persegi
Julukan: Si Tenda

MENARA KAZYNA


Fungsi: Menara kembar sebagai penanda kompleks 15 kementerian di Kazakhstan; bangunan kompleks tersebut menjulur sepanjang 1,5 kilometer
Dimensi: Menara kembar berbentuk tabung emas setinggi 88 meter; menara itu merupakan gedung 21 lantai
Julukan: Kaleng Bir, Ember, atau Si Korek Api

NUR-ALEM-FUTURE ENERGY MUSEUM

Fungsi: Museum energi dan tempat ekshibisi sejak perhelatan Ekspo Astana 2017; menampung delapan lantai area pameran dengan tema-tema yang berkaitan dengan pemanfaatan energi
Dimensi: Bola kaca berdiameter 265 meter
Julukan: Si Bola atau Bola Dunia

Editor : Ilham Safutra


Close Ads