alexametrics

Kuala Lumpur Tak Pernah Tidur, Putrajaya Menenangkan

Laporan Siti Aisyah dari Malaysia
26 Januari 2020, 23:39:05 WIB

Ibarat dua sisi mata uang. Seperti itulah Putrajaya dan Kuala Lumpur. Dua kota itu sama penting. Yang pertama adalah pusat pemerintahan tempat semua kementerian berada. Yang kedua merupakan ibu kota sekaligus pusat pemerintahan. Tapi, ”rasa” di dua kota itu jauh berbeda.

JARUM jam sudah menunjuk pukul 01.35, tetapi suara musik masih terdengar mengentak dari jalanan Bukit Bintang. Gelak tawa membahana. Ada penyanyi jalanan yang sedang tampil. Begitu lagu-lagu India dilantunkan, sekelompok pemuda-pemudi langsung ikut menari.

Tak jauh dari kerumunan tersebut, antrean di salah satu gerai makanan cepat saji 24 jam masih mengular panjang. Orang-orang yang duduk untuk makan di Jalan Alor juga belum beranjak. Mereka baru bubar ketika subuh hampir menjelang. Keramaian itu digantikan dengan dibukanya warung-warung yang menjual makanan untuk sarapan.

Kuala Lumpur memang tak pernah tidur. Ia laksana jantung Malaysia. Terus berdetak setiap detik. Kota itu seakan tidak peduli mentari datang dan pergi. Lalu lalang orang silih berganti di jalanan. Dentuman musik juga terdengar hingga tengah malam. Dari yang di jalanan hingga di kelab-kelab malam. ”Di sini semua ada,” ujar Chai Woon Yin, salah seorang penduduk Kuala Lumpur.

Kota terbesar di Malaysia itu memang punya daya tarik di setiap sudutnya. Entah karena makanan, budaya, orang-orangnya, gedung-gedung tua, pusat perbelanjaan seperti Pavilion dan Suria KLCC, atau kehidupan malamnya. Hal itulah yang membuat turis berdatangan. Stasiun-stasiun kereta tak pernah sepi, selalu penuh.

Seperti namanya, Kuala Lumpur dulu merupakan pertemuan sungai yang berlumpur. Pelan tapi pasti, kota itu berubah wajah menjadi salah satu kota termodern di Asia. Namun, kepadatan bangunan dan penduduknya menyisakan satu masalah. Banjir. Di pusat kota, air akan surut dengan cepat. Namun, tidak dengan daerah-daerah pinggiran. ”Kalau nasib baik 2 jam habis (air banjirnya), kalau tak baik bisa 5 jam,” tegas Chai. Tapi, tentu saja, banjir itu hampir tak pernah menginap.

Kota seluas 243 kilometer persegi itu sangat heterogen. Orang India, Bangladesh, Tionghoa, dan Melayu membaur menjadi satu. Kuala Lumpur memang terkenal membuka diri untuk para imigran. Mereka bahkan punya sekolah masing-masing. Ada sekolah Indonesia serta India di kota itu.

”Saya bisa bahasa Inggris, Melayu, Telugu dan Tamil,” ujar Y. Ananthanarayanarao. Leluhurnya dulu tinggal di Andhra Pradesh, India. Sejak kecil dia masuk ke sekolah khusus peranakan India di Kuala Lumpur.

Segala hiruk pikuk itu lenyap seketika ketika saya masuk ke Putrajaya. Ketenangan tersebut langsung terasa saat menginjakkan kaki di Putrajaya Sentral, stasiun kereta api dan bus yang ada di Presint (semacam distrik) 7. Hanya ada kurang dari 30 orang di stasiun tersebut. Tak ada kebisingan ataupun hiruk pikuk yang berlebihan.

”Sini pusat pentadbiran (pemerintahan Red), makanya tak ramai. Orang datang sini untuk kerja,” terang Fadzilah binti Ezhak, sopir yang mengantarkan saya keliling Putrajaya.

Mayoritas penduduk Putrajaya memang pegawai pemerintahan. Mereka akan berada di kantor dari pagi hingga sore. Karena itulah, jarang ada orang berlalu lalang di jalanan. Kota ini didesain sedemikian rupa sehingga menjadi lingkungan yang sempurna untuk bekerja.

Jika Kuala Lumpur menawarkan hiburan tanpa jeda, Putrajaya menyuguhkan ketenangan tak berbatas. Kota yang menjadi pusat pemerintahan Malaysia itu jelas cocok untuk mereka yang sudah jemu dengan kemacetan dan hiruk pikuk perkotaan.

Putrajaya dibuat seperti pulau-pulau kecil yang dikelilingi danau buatan dan dihubungkan jembatan. Ada delapan jembatan besar di Putrajaya. Yaitu, Jembatan Putra, Seri Bakti, Seri Bestari, Seri Gemilang, Seri Perdana, Seri Saujana, Seri Setia, dan Seri Wawasan.

Penduduk kota yang dulu kebun kelapa sawit itu terasa lebih homogen. Penduduk Melayu jauh lebih dominan. Memang ada warga India dan Tionghoa, tapi tak banyak.

Jalan setapak yang mengelilingi tasik alias danau buatan menjadi tempat untuk menghabiskan sore hari. Entah itu untuk sekadar duduk dan bercakap, berolahraga, bersepeda, atau mengasuh anak di area bermain. ”Saya dulu di Kuala Lumpur, tapi sekarang tak mau, lah. Enak sini, tenang,” Fadzilah.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : */c10/dos


Close Ads