alexametrics

Rumah Tanpa Pagar, Tak Ada Kejahatan Besar di Putrajaya

Laporan Siti Aisyah dari Putrajaya, Malaysia
23 Februari 2020, 21:35:37 WIB

”TAK ada kejahatan besar di Putrajaya.” Pernyataan itu diucapkan oleh Kepala Polisi Putrajaya Rosly Hassan. Dia tidak sedang menyombongkan kinerjanya. Namun, itulah yang terjadi di kota modern Malaysia tersebut sejak kali pertama berdiri.

Rasa aman itu tidak didapatkan dengan instan semudah membalikkan telapak tangan. Semua sudah diprogram ketika kota yang menjadi pusat pemerintahan Malaysia tersebut baru berdiri. Salah satunya adalah aturan tentang perumahan.

Hampir seluruh rumah di Putrajaya tidak menggunakan pagar. Kalau toh ada, maksimal ketinggian yang diperbolehkan adalah 4 kaki atau setara 1,2 meter. Salah satu contohnya adalah rumah-rumah di Presint 15. Deretan rumah yang didominasi warna putih dan krem itu tak berpagar.

Aturan tentang pagar itu sama dengan kebijakan tentang cat rumah, wajib ditaati dan tidak bisa diganggu gugat. Ketika membeli rumah di Putrajaya, pembeli harus tahu aturannya dan menaatinya. Jika tidak, denda di depan mata.

Pemerintah Malaysia punya alasan tersendiri mengapa perumahan tidak diperkenankan berpagar. Yakni, agar antartetangga saling mengenal dan bisa saling mengingatkan. Jika ada sesuatu yang terjadi di rumah seseorang, tetangga bisa langsung tahu dan cepat tanggap.

Misalnya saja, terjadi pencurian, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), insiden jatuh dari tangga, dan kejadian lainnya, tetangga bisa langsung menghubungi kepolisian atau rumah sakit.

Kepedulian dengan orang lain itu sudah langka dan hampir punah di kota-kota yang modern. Biasanya, rasa aman didapatkan dengan membangun tembok dan pagar setinggi-tingginya. Imbasnya, kedekatan dengan tetangga menjadi tiada. Jangankan bercengkerama, bertegur sapa saja sudah jarang. Putrajaya ingin diciptakan sebagai kota modern yang masih tetap menjaga nilai-nilai budaya ketimuran.

Pagar bukan satu-satunya pengaman. Rosly mengungkapkan, ada kurang lebih 400 CCTV yang tersebar di berbagai titik. Jumlah tersebut masih akan terus bertambah. CCTV tidak hanya diletakkan di jalan dan area perumahan, tapi juga jalan-jalan setapak di samping danau.

Selain CCTV, ada telepon darurat yang disediakan di beberapa lokasi. Telepon tersebut terlihat mencolok karena warna merah dengan tulisan ”Emergency” dan ”Kecemasan” dicetak tebal. Di dalamnya, hanya ada satu tombol yang akan langsung menghubungkan penelepon dengan bagian kedaruratan.

Aspek lain yang membuat Putrajaya aman adalah penduduknya. Mayoritas adalah pegawai negeri sipil. Peluang untuk melakukan kejahatan kecil karena bisa kehilangan pekerjaan. Mayoritas pelaku kejahatan adalah orang luar.

Tidak ada kasus perampokan atau pencurian besar. Yang paling sering adalah pencurian kotak amal di masjid atau surau. Itu pun sudah jauh berkurang karena uang di dalamnya disimpan per hari. Rosly menjelaskan, ada pertemuan berkala antara pihak kepolisian, pemerintah, dan masyarakat. Namanya majelis polis bersama komuniti. Tujuannya, mendengar langsung keluhan penduduk dan mencari jalan keluarnya.

PENJAGA KEAMANAN: Kepala Polisi Putrajaya Rosly Hassan saat berada di Putrajaya Hospital memantau kondisi pebulu tangkis Jepang Kento Momota yang mengalami kecelakaan. (SITI AISYAH/JAWA POS)

Editor : Ilham Safutra

Reporter : sha/c11/dos



Close Ads