alexametrics

Pasar Petung, Sinergi Tradisi dan Modernitas

Laporan BAYU PUTRA dari Penajam Paser Utara
22 Maret 2020, 22:33:39 WIB

Pusat perekonomian di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) terletak di Kawasan Petung. Di kawasan itulah yang paling banyak konsentrasi penduduknya, juga paling banyak aktivitas transaksinya. Pasar Petung menjadi salah satu pusat ekonomi warga PPU.

PASAR Petung berjarak sekitar 9 kilometer dari pusat pemerintahan Kabupaten PPU. Tidak jauh dari Simpang 3 Silkar yang menjadi jalur penghubung menuju Kecamatan Sepaku yang akan menjadi lokasi ibu kota negara Indonesia. Pasar tersebut menjadi sentral yang menumbuhkan aktivitas ekonomi di sekitarnya.

Sebagaimana layaknya pasar tradisional, Pasar Petung didominasi para pedagang kebutuhan pokok dan dapur. Mulai daging, sayur, beras, hingga peralatan dapur. Ada pula stan yang menjajakan peralatan rumah tangga. Juga, tentunya warung-warung makanan dan pedagang keliling maupun kaki lima.

Di kawasan itu pula terdapat sejumlah aktivitas lainnya. Mulai layanan perbankan hingga seluler. Tidak ketinggalan pula toko yang menjual ponsel. Kawasan Petung diibaratkan sebagai pusat perniagaan PPU. Karena lokasinya memang benar-benar terpisah dengan pusat pemerintahan, dan aktivitas warga banyak terpusat di Kawasan itu, ditambah kawasan Babulu di selatan.

Sekda Kabupaten PPU Tohar menjelaskan, dalam hal melihat peluang ekonomi di suatu wilayah, tolok ukurnya sederhana saja. Yakni, adanya kantor-kantor bank di kawasan itu. Karena bank lebih cerdas dalam melihat peredaran uang. ’’Makanya, menaruh bank pertama itu bukan di Penajam, tapi di Petung,’’ terangnya.

Sejumlah bank BUMN membuka kantor di Petung. Yakni, BRI, BNI, dan Mandiri. Sementara itu, Bank Kaltim memilih Kawasan Penajam untuk penempatan kantornya. Tidak jauh dari pusat pemerintahan PPU.

Kawasan Petung juga menjadi hub (penghubung) menuju wilayah calon ibu kota negara. Logistik yang diperlukan di Kecamatan Sepaku cukup banyak dipasok dari Kawasan Petung. Namun, Pemkab PPU ke depan tidak hanya mengandalkan Kawasan Petung sebagai sentra ekonomi. ’’Ke depan kelihatannya bergeser ke Waru dan Babulu secara gradual,’’ lanjutnya.

Peluang penciptaan kawasan ekonomi di PPU masih sangat besar. Saat ini praktis belum ada bangunan pusat perbelanjaan modern yang besar seperti supermarket atau mal di PPU. Hanya ada beberapa jaringan minimarket yang sudah membuka cabang di Kawasan Petung. Selebihnya didominasi pasar tradisional.

Tohar menuturkan, pada prinsipnya Pemkab PPU terbuka bagi investasi di bidang perdagangan dan jasa. Namun, calon investor tentu juga akan melihat seberapa besar pangsa pasarnya. Selain itu, pemkab punya aturan untuk membatasi pusat perbelanjaan modern yang bisa didirikan di PPU. Boleh ada, tetapi jangan dibuat bebas tanpa terkendali. Yang terpenting, ada yang bisa dipotret oleh orang luar tentang pangsa pasar di PPU.

Demi memproteksi perekonomian warga juga, minimarket di PPU diwajibkan menampung produk dari masyarakat. Tentunya yang memenuhi persyaratan dan standar retail minimarket. Dengan begitu, terjadi simbiosis mutualisme antar pelaku usaha. Baik yang berasal dari investor maupun masyarakat sendiri.

Ke depan Tohar mengaku belum tahu arah perkembangan ekonomi PPU. Khususnya setelah IKN dibangun di kabupaten itu. ’’Biasanya orang pasar lebih cerdas melihat itu. kami yang di dalam kadang ketinggalan,’’ ucap Tohar. Yang saat ini dikerjakan adalah bagaimana pasar tradisional dan modern di PPU bisa tumbuh bersama dan saling melengkapi. Dengan begitu, tidak ada yang saling menjatuhkan untuk bisa berkembang.

Penataan pusat ekonomi di Petung juga tidak bisa dilepaskan dari konsep tata ruang wilayah PPU. Dengan hanya memiliki satu ruas jalan utama, pusat transaksi ditempatkan di tepi jalan utama tersebut. Sementara itu, kawasan perkebunan tetap berada di wilayah dalam kabupaten PPU. Terpisah dari jalur utama. Salah satunya adalah lahan konsesi yang dikelola PT ITCHI.

WAJAH MODERN: Suasana sebagian depan pasar Petung. Bagian depan pasar itu menunjukkan sisi modern pasar dengan bangunan yang berbentuk ruko. Sesuai tradisi, pasar itu akan lebih ramai pada Rabu dan Sabtu. (BAYU PUTRA/JAWA POS)

Rata-rata perkebunan yang ada di wilayah PPU adalah perkebunan sawit. Baik yang dikelola perusahaan maupun perkebunan rakyat. Sedangkan di pesisir, para nelayan menjadi penguasanya.

Salah seorang pedagang di Pasar Petung, Sigit Pramono, menuturkan bahwa secara tradisional ramainya aktivitas perdagangan di pasar-pasar di PPU bergantung hari pasaran. Pasar Petung akan lebih ramai pada Rabu dan Sabtu. Kemudian, Kamis dan Minggu lebih ramai di Waru dan Penajam.

Di luar hari-hari pasaran, aktivitas jual beli tetap berlangsung normal. Meskipun tidak seramai hari pasaran. Selain itu, ada waktu-waktu tertentu yang menjadi kebiasaan warga dalam berbelanja. ’’Biasanya orang membeli daging di sore hari,’’ tutur pria asal Banjarnegara, Jateng, itu. Sementara pedagang sayuran dan sejenisnya lebih ramai pengunjung di pagi hari.

Empat tahun lagi IKN selesai dibangun di PPU dan Kukar. Keberadaannya tentu akan diikuti aktivitas ekonomi yang besar. Sebab, akan banyak pendatang yang masuk ke kawasan IKN. Minimal para ASN yang bekerja di kementerian dan lembaga-lembaga pemerintah. Keberadaan IKN hampir bisa dipastikan bakal menarik investor lebih besar ke PPU. Tetangga terdekat IKN.

Saat ini PPU sudah siap menerima investor demi meningkatkan perekonomian di kabupaten itu.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : */c10/dos



Close Ads