alexametrics

Pegawai di Putrajaya Lebih Suka Beli Rumah Sendiri

Laporan SITI AISYAH dari Putrajaya
19 April 2020, 22:30:23 WIB

Memindahkan ibu kota bukan hanya soal pembangunan infrastruktur. Namun, juga pemindahan para pegawai negeri sipil yang bekerja di dalamnya. Dibutuhkan rencana matang untuk melakukannya.

”ANTREANNYA masih panjang.” Pernyataan itu terlontar dari pegawai salah satu kementerian di Malaysia. Yang dia maksud adalah antrean quarters alias tempat tinggal yang diperuntukkan pegawai negeri sipil. Bentuknya semacam apartemen. Bagi pejabat penting, mereka mendapatkan rumah.

Sejak pusat pemerintahan Malaysia dipindahkan ke Putrajaya, para pegawainya otomatis ikut bermigrasi. Perpindahan rombongan pertama dilakukan Juni 1999. Ada 40 keluarga pegawai negeri sipil yang pindah dari Kuala Lumpur ke Putrajaya. Mereka dipimpin perdana menteri (PM) kala itu, Mahathir Mohamad.

Kantor Perdana Menteri alias Prime Minister Office (PMO) memang yang pertama pindah. Disusul dengan kementerian-kementerian lainnya. Rombongan keluarga pertama yang pindah adalah para pegawai di PMO. Hanya ada dua kementerian yang tidak pindah ke Putrajaya. Yaitu, Kementerian Perekonomian dan Kementerian Pertahanan.

”Ibu kota Malaysia tetap di Kuala Lumpur, tak ikut pindah di Putrajaya,” terang Bahagian Komunikasi Korporat Perbadanan Putrajaya Mohd Fairus bin Mohd Padzil.

KOMPLEKS KEMENTERIAN: Orang berlalu-lalang di depan gedung Perbadanan Putrajaya. Di seberangnya tampak gedung Istana Kehakiman. Beberapa orang sering mengira itu adalah bangunan masjid. ((SITI AISYAH/JAWA POS)

Karena itulah, Kementerian Pertahanan dibutuhkan di Kuala Lumpur untuk melindungi ibu kota. Pun demikian dengan Kementerian Perekonomian. Jantung perekonomian Malaysia masih di Kuala Lumpur. Beberapa konferensi internasional masih digelar di kota tersebut.

Kantor-kantor kedutaan besar rencananya juga akan dipindahkan seluruhnya ke Putrajaya. Saat ini yang sudah mulai pindah di kota baru itu adalah Kedutaan Besar Brunei Darussalam. Ia terletak di Jalan Diplomatik 2/5.

Pembangunan kantor-kantor kementerian dan quarters sejatinya dilakukan berbarengan. Namun, tetap saja yang harus dipindah ribuan pegawai. Karena itu, antrean untuk menempati quarters tersebut juga mengular.

Mereka yang sudah berkeluarga akhirnya memilih untuk tinggal di kota-kota sekitar Putrajaya. Cyberjaya menjadi jujukan. Selain karena dekat, kota tersebut memiliki fasilitas pendidikan yang lengkap. Permukiman di Cyberjaya juga cukup terjangkau.

Para pegawai tidak tinggal selamanya di quarters. Biasanya hanya 2 hingga 5 tahun. Quarters hanyalah tempat tinggal sementara. Jika sudah memiliki uang yang cukup, mereka lebih memilih membeli rumah atau apartemen sendiri di Putrajaya. Itu dirasa lebih menguntungkan.

Dalam gaji pegawai ada tunjangan perumahan. Nah, jika tinggal di permukiman yang disediakan pemerintah, pegawai tersebut tidak mendapatkan tunjangan tersebut. Padahal, nominalnya lumayan. Karena itu, mereka yang punya dana untuk membayar uang muka alias down payment (DP) rumah biasanya segera pindah. Sebab, uang tunjangan perumahan bisa untuk membayar cicilan rumah. Lebih menguntungkan.

Para pegawai memang butuh waktu untuk mengumpulkan uang muka rumah. Sebab, harga rumah di Putrajaya setara dengan permukiman di Kuala Lumpur. Harga untuk kelas yang biasa saja sekitar MYR 300 ribu atau Rp 1,06 miliar.

”Itu sudah paling murah, tak ada uang banyak tak bisa tinggal di Putrajaya,” ujar salah seorang sopir taksi online di Putrajaya.

Karena harganya yang mahal itu, mayoritas penghuni permukiman di Putrajaya adalah para pegawai negeri.

Saksikan video menarik berikut ini:

 

 

Editor : Ilham Safutra

Reporter : */c10/dos



Close Ads