alexametrics

Kutai Kartanegara, Berkah Alam yang Jadi Pemikat

19 Januari 2020, 22:07:47 WIB

Kutai Kartanegara adalah satu di antara dua kabupaten yang sebagian wilayahnya akan dijadikan ibu kota negara (IKN) Indonesia yang baru. Wilayahnya begitu luas dengan penduduk yang masih tergolong sedikit. Posisinya tepat berada di jantung Indonesia.

SUDAH lebih dari satu jam Muhammad Nur duduk di tepi Sungai Mahakam. Di sisi selatan Jembatan Kutai Kartanegara. Berkali-kali dia mengail, tak ada satu pun sasarannya –udang sungai– yang menyangkut di ujung pancing. Persediaan cacing tanah untuk umpan sudah menipis. Sore itu, Kamis (16/1), mungkin para udang sedang lihai karena mampu mencabut cacing dari kail Amat, panggilan Muhammad Nur.

Meski demikian, bagi Amat, bukan masalah bila tidak mendapatkan hasil. Sebab, bukan kali ini saja dia memancing tanpa hasil. Terkadang, dia juga berhasil mendapatkan udang berukuran besar. ’’Saya pernah dapat udang galah segini,’’ ujar dia sembari memberi batas di lengan. Kurang lebih 25 sentimeter panjangnya.

Warga Tenggarong itu tidak pernah risau bila tidak dapat hasil saat memancing. Karena pada dasarnya memancing hanyalah hobi yang dia lakukan saat senggang. ’’Kalau Sabtu-Minggu sore ramai yang memancing,’’ lanjut warga Tenggarong itu. Spot favorit para penghobi mancing ada di taman di sisi utara Jembatan Kukar.

Amat adalah salah seorang penerima manfaat dari anugerah alam di Kalimantan Timur. Sungai Mahakam sepanjang 920 kilometer yang airnya melimpah. Meskipun diprediksi akan terus menyusut seiring perkembangan kondisi di kawasan hulu maupun sepanjang daerah aliran sungai. Kutai Kartanegara menerima berkah Sungai Mahakam yang membelah wilayah tersebut.

Kabupaten Kukar adalah salah satu kabupaten terluas di Kalimantan Timur. Berdasar data Badan Pusat Statistik, luas wilayah Kukar adalah 25.988,08 kilometer persegi. Atau hampir 40 kali luas ibu kota negara kita saat ini, DKI Jakarta.

Wilayah Kukar memanjang mulai kawasan pedalaman Kalimantan Timur hingga ke Bukit Soeharto di utara Balikpapan. Dan tentu saja, kawasan pesisir timur di tepi Selat Makassar. Dari barat laut ke tenggara. Wilayahnya terdiri atas kawasan perbukitan dengan tinggi maksimal 2.000 mdpl hingga kawasan yang lebih rendah di daerah aliran sungai (DAS) Mahakam dan pesisir.

Topografi yang naik turun itu saya rasakan ketika berkendara dari Samarinda ke Tenggarong Rabu (15/1). Melewati jalan by pass yang ujungnya ada di dekat Jembatan Kukar. Makin ke hulu, jalannya makin menanjak. Maka, saya tidak terkejut melihat cukup banyak mobil berpenggerak empat roda yang melintasi jalanan di Kukar.

Sebagian kecil dari wilayah Kukar akan dijadikan lokasi IKN. Tepatnya di sisi selatan hingga tenggara di Kecamatan Samboja. Wilayahnya berbatasan langsung dengan Kecamatan Sepaku di Kabupaten Penajam Paser Utara. Sebagaimana Samboja, sebagian wilayah Kecamatan Sepaku juga akan dijadikan IKN.

Berkah alam di Kukar memang tampak sesuai dengan keinginan Presiden Joko Widodo. Saat meninjau kawasan calon IKN beberapa waktu lalu, presiden memamerkan keindahan alam Borneo yang berbukit-bukit. ’’Kalau arsitek diberi sebuah kawasan naik turun bukit pasti akan senang. Lihat saja nanti. Desainernya pasti akan senang sekali,’’ ujarnya saat meninjau lokasi IKN pada 26 Desember lalu.

Bila ditarik garis lurus, lokasi yang akan menjadi IKN itu memang berada di jantung Indonesia. Letaknya nyaris persis di tengah Indonesia. Berbukit-bukit, berada di jantung Nusantara, menyatu dengan alam karena bersebelahan dengan hutan. Benar-benar menjadi gambaran ideal kota masa depan.

Kamis (16/1) saya menyusuri wilayah Tenggarong, ibu kota Kabupaten Kukar. Saat itu siang hari terasa cukup terik dan lembap sehingga tak urung keringat membasahi pakaian yang melekat di badan. Saat petang, hujan turun sebentar.

Jalanan di Tenggarong siang itu cukup lengang. Tidak banyak kendaraan yang melintas di jalur utama. Cukup wajar, karena jumlah penduduk Kukar per 2019 adalah 692.776 jiwa. Kurang lebih seperempat dari penduduk Kota Surabaya. Dari jumlah penduduk tersebut, kurang lebih 68 persennya adalah penduduk usia produktif. Mulai 15–64 tahun.

Badan Pusat Statistik juga memproyeksikan tahun ini Kabupaten Kukar berpenduduk 802.903 jiwa. Ada empat suku besar di Kukar. Yakni, Dayak, Kutai, Jawa, dan Bugis. Mereka menempati wilayah yang sesuai dengan karakternya. ’’Kalau Bugis itu memang banyak menguasai wilayah pesisir,’’ terang Kepala Pusat Penelitian Kependudukan LIPI Herry Jogaswara.

Meski demikian, tidak berarti orang Bugis hanya di pantai. Masyarakat Bugis dulu juga berladang, dan salah satu komoditasnya adalah lada. Atau yang dalam bahasa Bugis disebut sahang. ’’Ada pertalian antara etnis dan jenis pekerjaan,’’ lanjutnya. Sementara itu, suku Dayak dan Kutai lebih banyak berada di daerah hulu. Orang suku Dayak dulu adalah peladang yang berpindah-pindah.

***

CARI REZEKI: Amat memancing di sekitar Jembatan Kutai Kertanegara yang membelah Sungai Mahakam. Jembatan itu adalah akses menuju Kabupaten Kutai Kertanegara dari Samarinda. (BAYU PUTRA/JAWA POS)

Hari sudah menjelang petang. Mentari sudah pamit untuk kembali ke peraduan. Umpan yang dimiliki Amat sudah tak tersisa. Hari itu Amat memang pulang dengan tangan hampa. Para udang tak tertarik untuk ikut dengannya. Tapi, tak mengapa, karena akhir pekan nanti dia kembali menyalurkan hobinya.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : Bayu Putra/c10/dos


Close Ads