alexametrics

Almaty Punya Gunung, Juga Berlimpah Gempa

19 Januari 2020, 21:08:38 WIB

Ada beragam alasan yang membuat Kazakhstan memindah ibu kotanya dari Almaty ke Astana (kini bernama Nur-Sultan) pada 1997 silam. Alasan yang cukup genting adalah Astana terletak di dataran yang relatif jauh dari bencana alam.

Laporan DOAN WDHIANDHONO, dari Nur-Sultan dan Almaty, Kazakhstan, Jawa Pos

ORANG-ORANG muda di Astana boleh membanggakan kota mereka yang berwajah modern, sistem transportasi yang simpel dan efektif, serta gedung-gedung apik yang menyangga langit. ”Tapi, kami punya selalu jawaban telak buat mereka,” kata Dilyara Khassanova, cewek Almaty yang bekerja sebagai pemandu wisata. Jawaban itu adalah, ”Kami punya metro (kereta bawah tanah, Red). Kami juga punya gunung! Haha,” cetus gadis kelahiran 1997 tersebut.

Ya, Almaty memang ”dilindungi” gunung. Dengan begitu, kota tersebut tidak terlalu berangin seperti Nur-Sultan yang dulu adalah stepa, padang rumput yang sangat luas. ”Karena banyak angin, Nur-Sultan bisa jadi city of plastic bags,” gurau perempuan ayu itu. Saking banyaknya angin, kadang-kadang ada satu dua tas plastik yang beterbangan sendiri.

Almaty terletak di selatan Kazakhstan. Jaraknya sekitar 1.000 kilometer dari Nur-Sultan. Almaty hanya berjarak tak sampai 200 kilometer dengan Bishkek, ibu kota Kirgistan. Seribu kilometer ke arah timur adalah Urumqi, Tiongkok.

Sisi selatan Almaty adalah Pegunungan Alatau dengan ketinggian sekitar 1.000 meter di atas permukaan laut. Alatau adalah sisi utara jajaran Pegunungan Thien Shan yang terbentuk dari tumbukan lempeng Benua India dan Eurasia.

Maka, Almaty benar-benar punya sesuatu yang tak ada di Nur-Sultan: pegunungan. Kontur Almaty pun mengikuti lereng gunung itu. Sebagian kecil (kawasan vila, permukiman mewah, resor ski) bertengger di lereng pegunungan tersebut. Sebagian lagi ada di kaki gunung.

Nur-Sultan adalah kawasan datar yang dulu adalah bekas stepa atau padang rumput. Kontur yang datar itu memudahkan pembangunan dan penataan kota. Dengan wialyah yang menjadi tetenger terlihat menonjol. Tampak dua gedung yang menjadi penanda sentral kompleks kementerian di Nur-Sultan. Di tengahnya adalah Ak Orda, istana kepresidenan. (DOAN WIDHIANDHONO/Jawa Pos)

Dan pegunungan itu adalah salah satu andalan wisata di Almaty. Senin lalu (13/1) Jawa Pos mengunjungi kawasan pelesir itu. Keelokan daerah tersebut tampak jelas. Punggung bukit berselimut salju. Pepohonan yang tak berdaun tampak seperti bertahan dalam dingin. Di salju itu tampak jejak-jejak kecil yang teratur. ”Di sini masih banyak marmut liar. Juga, masih ada snow leopard,” ungkap Dilyara.

Salah satu tujuan utama wisata di pegunungan itu tentu resor ski Shymbulak. Pengunjung lantas dibawa naik gondola, kereta kabel, menuju tempat pemberhentian pertama. Selama sekitar setengah jam, kereta melewati atas bukit bersalju. Kalau ingin bermain ski lebih jauh lagi, turis kembali harus naik gondola hingga ke dua pemberhentian berikutnya. Sangat tinggi.

Tapi, keindahan itu juga menyimpan sesuatu yang berbahaya bagi Almaty. Sebagai kawasan yang terbentuk oleh tumbukan dua lempeng benua, Almaty rawan gempa. Salah satu gempa besar terjadi pada 1911. Hampir 500 orang tewas karena bumi berguncang dengan kekuatan di atas 7 magnitudo.

Kenangan buruk tentang gempa tersebut diabadikan di Museum of Almaty. Foto retakan tanah sedalam 8 meter ditampilkan. Juga, gedung-gedung yang rata dengan tanah. ”Setelah itu, muncul kebijakan untuk membangun gedung yang tidak terlalu tinggi,” kata Dilyara.

Almaty adalah kawasan pegunungan. Selain menjadi andalan wisata, kawasan yang tinggi itu merupakan tempat perkebunan apel. Bahkan, Almaty berasal dari kata alma ata yang berarti bapak buah apel dalam bahasa Kazaks. Salah satu tempat pelesir di gunung itu adalah Medeu, tempat ice skating luar ruangan seluas lebih dari 10 ribu meter persegi. (DOAN WIDHIANDHONO/Jawa Pos)

Sebagai wilayah rawan gempa, Almaty juga punya jurus agar kerusakan infrastruktur tidak terlalu parah. Salah satunya adalah membangun jaringan pipa gas di atas tanah. Dengan demikian, kalau ada kerusakan, akan mudah terdeteksi. Maka, di kota itu banyak pipa gas di tepi jalan yang membentuk seperti tiang dan mistar gawang saat berada di depan gerbang rumah atau bangunan.

”Astana dulu dipilih, salah satunya, karena bukan kawasan gempa,” kata Head of Integrated Architectural Planning Astana Genplan Alibaev Maulet Bilyalovich kepada Jawa Pos.

Kontur Kota Almaty dan Nur-Sultan memang sangat bertolak belakang. Kalau Almaty bergunung-gunung, Nur-Sultan yang terletak di tepi Sungai Isil (Yessil) itu sangat datar. Datarnya kota itu juga tampak pada maket yang terletak di kantor Astana Genplan.

Datarnya Nur-Sultan terlihat pada maket yang dipajang di kantor Astana Genplan. Alibaev Maulet Bilyalovich sedang menjelaskan penataan Kota Nur-Sultan kepada Jawa Pos. (Jawa Pos Photo)

”Kami memusatkan pembangunan di kiri Sungai Isil,” kata Alibaev. Di sisi kiri itulah kini berdiri bangunan-bangunan modern yang menjadi tetenger kota.

”Saya ingat, tempat ini dulu kebun kentang. Kebun wortel. Juga kebun bit,” ungkap Murad Tulubayev, pekerja di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Nur-Sultan. Tempat yang dulu kebun itu kini sudah berubah wajah. Di sana berdiri Diplomatic Town, tempat beberapa kantor kedutaan berbagai negara. Di seberangnya terlihat pusat perbelanjaan, perkantoran, dan apartemen. Sebentuk hotel mewah juga ada di tempat itu. (bersambung)

Editor : Ilham Safutra

Reporter : */c10



Close Ads