alexametrics

Kereta Api Belum Ada, Jembatan dan Terowongan Sudah Tersedia

Laporan Siti Aisyah dari Malaysia
16 Februari 2020, 23:33:14 WIB

”INI highway?” Pertanyaan itu meluncur saat taksi yang saya tumpangi membelah jalanan Putrajaya, Malaysia, menuju kota tetangganya, Cyberjaya. Pertanyaan itu bukan tanpa alasan. Jalannya lebar dan hanya ada beberapa mobil yang lewat. Lengang dan lancar. Seperti jalan tol yang baru selesai dibangun.

Si sopir itu menjawab singkat. Tidak ada highway alias jalan tol di kota yang menjadi pusat pemerintahan Malaysia itu. Dia lalu menunjuk sebuah sepeda motor yang ada di depan kami. Sepeda motor tua yang berjalan tenang di sisi kiri jalan.

Mobil yang lalu-lalang di Putrajaya memang tak sebanding dengan jalan lebar yang disediakan. Mobil yang lewat setiap detiknya bisa dengan mudah dihitung dengan jari.

Kendaraan berlalu-lalang cukup banyak saat pagi dan sore hari ketika pegawai pemerintah berangkat dan pulang kerja. Selebihnya, sepi lebih terasa. ”Penduduk di sini belum penuh, masih sepertiga dari kapasitas maksimalnya,” ujar Bahagian Komunikasi Korporat Perbadanan Putrajaya Mohd Fairus bin Mohd Padzil.

Putrajaya mampu menampung sekitar 350 ribu penduduk. Nah, saat ini jumlah penduduknya hanya berada di kisaran 100 ribuan. Karena itulah jalanan di kota tersebut tidak padat. Penduduk juga tidak banyak berlalu-lalang di jalanan karena mayoritas adalah pekerja kantoran.

Ada beberapa moda transportasi yang bisa digunakan di kota ini. Mobil pribadi, sepeda motor, taksi, transportasi online, bus, dan kereta api. Tak ada antrean. Termasuk saat naik bus. Jarang sekali bus terisi penuh. Biasanya maksimal hanya separo. Bus kerap dipakai pekerja yang tinggal di kota-kota di luar Putrajaya.

Transportasi utama yang paling sering saya pakai di Putrajaya adalah kedua kaki saya. Berjalan menjadi jalan yang mudah untuk menikmati keindahan gedung-gedung di kota ini. Tapi, sekali lagi, tak banyak penduduk yang jalan kaki. Putrajaya juga bukan kota jujukan turis, jadi jarang sekali ada warga asing berseliweran layaknya di Kuala Lumpur.

Di beberapa lokasi, ada penyewaan motor dan mobil. Namun, syaratnya cukup rumit. Termasuk verifikasi SIM. Mayoritas pekerja lebih memilih membawa kereta, sebutan untuk mobil di Malaysia. Membawa mobil terbilang lebih praktis dan mudah. Terlebih, area parkir di tiap-tiap gedung sangat luas dan mampu menampung puluhan hingga ratusan kendaraan.

Transportasi belum terkoneksi sepenuhnya. Kereta api KLIA Transit yang berhenti di Putrajaya tidak terhubung dengan KRL ataupun monorel. Dari Putrajaya Sentral, opsinya adalah bus atau taksi. Putrajaya Sentral jauh berbeda dari Kuala Lumpur Sentral Station alias KL Sentral. Banyak opsi kendaraan yang bisa dipilih saat turun di KL Sentral. Hampir semua moda transportasi di ibu kota Malaysia itu terhubung.

Putrajaya Sentral berada di Presint 7 (semacam distrik, Red). Jaraknya cukup jauh dari pulau utama yang berisi gedung-gedung pemerintahan. Belum ada bukan berarti tidak akan pernah ada dan menjadi nyata. ”Ada rencana mengoperasikan monorel, tapi tidak sekarang,” terangnya.

Jembatan untuk monorel sudah jadi. Jembatan tersebut membentang di atas danau dekat Anjung Floria. Pun demikian dengan lokasi untuk stasiun kereta. Sudah siap di beberapa area di Presint 3. Terowongan untuk jalur kereta api juga sudah tersedia. Lorong tersebut membentang di bawah jalan raya di Putrajaya. Intinya, semua sudah siap.

Pemerintah Malaysia sudah berpikir jauh ke depan saat membangun Putrajaya. Karena itu, semua fasilitas yang seharusnya ada beberapa puluh tahun lagi sudah disiapkan. Bayangkan jika lorong untuk kereta api baru dibuat ketika penduduk sudah padat dan jalanan ramai, tentu itu sangat merugikan. Membongkar jalanan sepanjang itu dan mengeruknya menjadi terowongan pasti butuh waktu. Karena itulah pembuatan terowongan diselesaikan sejak awal.

Lalu, kenapa tidak direalisasikan? Salah satu alasannya adalah biaya. Pembangunan maupun operasionalnya mahal. Di sisi lain, penduduk belum membutuhkannya. Jika monorel hanya membawa belasan atau puluhan orang, yang ada hasilnya adalah rugi. Nanti, jika kapasitas penduduk sudah terisi penuh, fasilitas tersebut akan direalisasikan. ”Semua sudah tersedia, tinggal bawa (kereta apinya) saja,” jelasnya.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : */c17/dos



Close Ads