alexametrics
Laporan Bayu Putra Dari Kalimantan Timur

Jamride, Transportasi Online Pertama di Penajam Pasar Utara

Sarana Angkutan Jadi Wahana Edukasi
16 Februari 2020, 22:40:07 WIB

Minimnya transportasi umum dalam kota di Penajam Paser Utara (PPU) memunculkan ide di kepala Bondan Yudianto. Hampir setahun terakhir dia membuat sebuah platform digital layanan transportasi online di kabupaten tersebut. Bondan menamainya Jamride.

PAGI itu jalanan di sekitar pusat pemerintahan Kabupaten PPU masih lengang. Tak banyak kendaraan yang lalu lalang. Apalagi kendaraan umum. Teramat jarang. Dulu mungkin wisatawan seperti saya akan kebingungan untuk bepergian di daerah tersebut. Kini tidak lagi karena sudah ada layanan transportasi online di PPU.

Bukan Gojek atau Grab yang beroperasi di PPU. Melainkan Jamride. Diambil dari akhiran kata Penajam, disambung dengan ride, yang berarti perjalanan atau bepergian. Aplikasinya tidak berbeda dengan Gojek atau Grab. Mengandalkan ciri khas warna hijau, dengan logo helm yang di atasnya ada tanduk rusa.

Cara pemesanannya pun sama dengan dua unicorn tersebut. Bedanya, jumlah unit layanannya masih belum banyak. Karena secara resmi Jamride memang baru mengaspal pada 19 April 2019. Usianya belum genap setahun. Pemasaran awalnya dari mulut ke mulut.

Awal September saya sempat menjajal aplikasi tersebut. Setelah salah seorang jamaah masjid di PPU memberi tahu bahwa di PPU ada ojek online. Saya pun mengunduh aplikasinya di Playstore dan memesan untuk tujuan ke pelabuhan. Saat itu jumlah mitra pengemudi masih belasan. Alhasil, saya harus menanti sekitar setengah jam. Karena jarak pengemudi dari saya lebih dari 10 km.

Saat saya berkunjung untuk kali kedua pada pekan keempat Januari lalu, waktu tunggu sudah di bawah 10 menit. Dan tidak terlalu lama untuk mendapatkan pengemudi. ”Ojolnya sudah hampir 60 orang mitra, taksinya ada 25,” terang Bondan saat ditemui di kantor Jamride 23 Januari lalu.

Selain ojek dan taksi, dia membuka layanan makanan. Mitranya jauh lebih banyak. lebih dari 100 merchant telah bergabung. Mayoritas adalah UMKM, warung rumahan, hingga restoran. Juga, layanan-layanan lain yang hampir sama dengan dua platform transportasi online terbesar di tanah air.

Menghadirkan layanan transportasi online di PPU bukan hal yang mudah. Bukan karena perizinannya, melainkan budayanya. Dari sisi perizinan, menurut Bondan, tidak sulit. Justru dia mendapat banyak dukungan pemda. Baik dari wakil bupati, dinas kominfo, maupun dinas perhubungan.

Tantangan terbesarnya adalah mengedukasi masyarakat untuk beralih menggunakan teknologi digital. Karena bagaimanapun, penerimaan masyarakat setempat terhadap teknologi belum sebaik di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya. ”Kadang masih salah titik,” tutur pemuda 27 tahun itu.

Belum lagi budaya masyarakat yang bila memesan barang terbiasa menggunakan sistem delay. Artinya, memesan sesuatu dalam jumlah besar pada pagi hari untuk diantar pada sorenya dengan biaya tertentu. Sementara itu, Jamride menggunakan sistem pemesanan langsung.

Karena itu, bagi pengguna baru, pihaknya harus mengajari. Saat salah titik, pengemudi langsung komplain kepada admin karena itu berpotensi merugikan. Biasanya driver tetap diminta melanjutkan dengan revisi.

Saat bertemu dengan konsumen yang salah titik itu, barulah pengemudi mengajari. Bagaimana menentukan titik order yang benar. Sebab, kalau salah titik itu membuat jarak menjadi terlalu dekat, driver merugi karena tarifnya murah. Sebaliknya, bila jadi terlalu jauh, konsumen yang rugi karena biaya antar menjadi lebih mahal.

Kelemahan lainnya adalah peta digital di wilayah PPU yang belum terlalu akurat. Di antara merchant yang mendaftar menjadi mitra, sangat jarang yang lokasinya sudah tercatat di Google. ”Jadi, tugasku mendaftarkan warung-warung ke Google,” tutur pemuda kelahiran 19 Juli 1993 itu. Dengan demikian, jumlah titiknya makin banyak dan memudahkan aplikasi Jamride untuk menyesuaikan.

Usahanya tidak sia-sia. Perlahan namun pasti, awareness masyarakat tentang transportasi berbasis platform digital meningkat. Salah titik berkurang, transaksi pun ikut meningkat. Khususnya transaksi makanan. Karena masyarakat setempat sudah mulai merasakan manfaat membeli makanan tanpa harus keluar rumah.

Merchant yang menjadi mitra pun ikut terangkat omzetnya. Hanya, Bondan selalu mengingatkan bahwa masyarakat PPU punya satu kebiasaan. Mereka selalu suka mencoba hal baru. Bila ada warung makan baru yang kreatif, misalnya, pasti akan diserbu. Namun, itu hanya pada dua bulan pertama. ”Kalau rasanya enak, ya lanjut. Tapi kalau tidak, sudah pasti ditinggal,” tuturnya.

Jamride menjadi alternatif moda transportasi di tengah minimnya transportasi umum di calon ibu kota negara (IKN) itu. Bagi pendatang seperti saya yang tidak punya akses transportasi pribadi, keberadaan transportasi online memudahkan untuk bepergian ke mana-mana. Namun, Jamride belum bisa menjangkau seluruh wilayah PPU. Sebab, luasnya memang lima kali Jakarta.

Meski belum genap setahun, calon-calon pesaing Jamride sudah bermunculan. Salah satunya Ko-jek, aplikasi ojek online asal Ketapang, Kalimantan Barat. Satu lagi adalah Grab. ”Kalau Grab saat ini masih dalam proses pengajuan izin,” jelasnya. Namun, sebagai layanan transportasi online pertama di PPU, Jamride masih punya keunggulan. Yakni, penguasaan medan.

Kini dia tidak hanya mengenalkan Jamride dari mulut ke mulut. Namun, sudah merambah media sosial. Terutama Instagram dan Facebook. Di Instagram, dia menyasar anak-anak muda yang sudah melek teknologi. Harapannya, pada tahun-tahun mendatang mereka akan terus terbiasa menggunakan layanan Jamride.

Tampilan aplikasi Jamride yang digunakan di Penajam Paser Utara. (JAMRIDE FOR JAWA POS)

***

Bondan lahir di Jogjakarta. Dia alumnus SMK 3 Jogjakarta. Jurusan teknik bangunan. Bondan tidak berasal dari keluarga mampu sehingga dengan terpaksa tidak bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang universitas.

Selepas lulus SMK sembilan tahun silam, dia mencoba bekerja di tempat servis komputer. Di situlah Bondan mulai mengenal lebih jauh soal internet dan teknologi digital. Termasuk website, coding, dan sejenisnya.

Bondan merancang Jamride untuk bisa melayani sebagian besar kebutuhan masyarakat PPU. Tidak hanya untuk transportasi dan makanan. Dia juga merintis Jam School. Dikembangkan untuk sarana antar jemput siswa ke sekolah. Juga, menyasar layanan guru les privat. Bila umumnya guru les privat dibayar bulanan, dia mencoba menjadikannya layanan sekali datang.

Bondan memiliki misi tersendiri menyediakan layanan tersebut. Yakni, menambah penghasilan para guru honorer yang selama ini gajinya masih minim. Tantangannya, dia harus memiliki mitra guru yang berkualitas. ”Saya sedang coba bekerja sama dengan dinas pendidikan untuk menentukan standar gurunya,” tambahnya.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : */c10/dos



Close Ads