alexametrics

Tantangan Menata Wilayah Mahaluas di Kutai Kartanegara

Laporan Bayu Putra Dari Kalimantan Timur
9 Februari 2020, 22:00:55 WIB

WILAYAH yang akan menjadi bagian ibu kota negara (IKN) Indonesia yang baru berada di dua kabupaten yang tergolong luas. Penataan ruang masih memungkinkan untuk dilakukan. Sebab, sebagian besar wilayah calon IKN saat ini memang berupa lahan konsesi yang tidak dihuni penduduk.

Bila tata ruang di Penajam Paser Utara berdekatan dengan teluk dan laut, di Kutai Kartanegara (Kukar) lebih beragam. Khususnya karena Kukar dilintasi Sungai Mahakam yang lebar dan panjang. Membentang mulai kawasan hulu di barat laut hingga kawasan hilir di sisi tenggara. Berbatasan dengan Selat Makassar yang lebar. Di peta, sekilas bentuk wilayahnya menyerupai kunci inggris.

Wilayah Kukar memang teramat luas, yakni 27.263,1 kilometer persegi. Atau 41 kali luas DKI Jakarta saat ini. ”Kepadatan penduduknya hampir 25 jiwa per kilometer persegi. Memang masih luas,” terang Bupati Kukar Edi Damansyah saat ditemui di rumah dinasnya beberapa waktu lalu. Pemkab Kukar sudah menata wilayahnya dalam beberapa klaster.

Secara umum, tata ruang di Kukar terbagi dalam dua zonasi. Pertama adalah zonasi budi daya non kehutanan. Satu lagi adalah zonasi budi daya kehutanan. Yang ditata adalah kawasan budi daya non kehutanan. Di situlah terdapat permukiman penduduk, kawasan investasi, industri, pertanian, perkebunan, dan sejenisnya.

Wilayah Kukar terbagi ke dalam 18 kecamatan. Ibu kota kabupaten terletak di Kecamatan Tenggarong. Terletak di tepi Sungai Mahakam dengan ikon Jembatan Kutai Kartanegara yang berwarna kuning. Di situlah terletak pusat pemerintahan Kukar. Lokasi tersebut sekaligus menjadi wilayah utama yang ditinggali penduduk.

Sejak lama, Kukar memang jadi salah satu tujuan para pendatang. Karena itu, di masa-masa sebelumnya pemda baru menata infrastruktur setelah ada sekelompok penduduk yang mendiami kawasan tersebut. Dia mencontohkan salah satu wilayah di Kecamatan Loa Janan di selatan Samarinda yang awalnya didatangi banyak orang Bugis.

Dulu belum ada infrastruktur di wilayah itu. Masyarakat membuka kebun dan ladang di pedalaman. ”Setelah ia tumbuh berkembang, baru kami menata infrastrukturnya,” lanjut Edi. Luasnya wilayah memang membuat penataan ruang menjadi tidak mudah. Khususnya dalam menetapkan skala prioritas pembangunan.

Di Kecamatan Samboja, penataan ruangnya beragam. Ada kawasan yang memang digunakan untuk pertanian. Ada pula kawasan pesisir yang menjadi tempat para nelayan beraktivitas. Di kecamatan itu pula terdapat jalan utama trans-Kalimantan dan tol Balikpapan–Samarinda. Jalan tersebut juga menjadi akses utama menuju wilayah inti IKN di Sepaku dari Balikpapan.

Sungai dan bukit menjadi ciri khas wilayah Kukar. Selain Mahakam sebagai sungai utama, ada 16 sungai lagi yang melintasi wilayah kabupaten tersebut. Juga ada 10 kawasan perbukitan yang membuat kontur wilayahnya tidak flat atau datar.

Kepadatan penduduk yang rendah memang membuat Kukar tampak tidak terlalu ramai. Di Tenggarong, misalnya, selama beberapa hari pengamatan koran ini tidak mendapati kemacetan lalu lintas. Sebab, jumlah kendaraan yang melintasi jalan-jalan di Tenggarong juga tidak banyak.

Justru wilayah yang paling ramai dilewati kendaraan bukanlah Tenggarong. Melainkan Samboja dan Loa Janan. Sebab, dua kecamatan itu adalah penghubung kawasan bisnis Balikpapan dengan ibu kota Kaltim, Samarinda. Wilayah Kota Samarinda dikelilingi Kabupaten Kukar, selain berbatasan dengan Selat Makassar.

Wilayah yang luas juga membawa konsekuensi tersendiri. Perjalanan dari satu tempat ke tempat lain terasa begitu jauh. Edi bercerita, malam sebelumnya dirinya baru kembali dari Tabang. Wilayah paling ujung Kutai Kartanegara. Perjalanan dari Tabang menuju rumah dinasnya di Tenggarong memakan waktu tujuh jam. Sebab, Tabang memang tidak dilalui jalan nasional.

Kawasan permukiman berada di DAS Mahakam maupun sekitar area industri dan perkebunan. Industri dan perkebunan berada di wilayah hulu, termasuk kawasan tambang. Lalu, pesisir timur adalah rumah bagi para nelayan.

Sementara itu, Penajam Paser Utara (PPU) tidak jauh berbeda. Sebagian besar kawasan permukiman penduduk berada di tepi jalur utama. Baik yang memanjang dari utara ke selatan maupun yang mengelilingi Teluk Balikpapan di Kecamatan Sepaku. Permukiman nelayan terpusat di beberapa titik di pesisir utara dan tenggara Kabupaten PPU.

Dengan jumlah penduduk yang masih sedikit, yakni sekitar 172.000, penataan ruang memang belum begitu terlihat. Namun, boleh dikatakan PPU merupakan kawasan penghubung antara Kalsel dan Kaltim. Perjalanan darat dari Kaltim menuju Kalsel atau sebaliknya pasti melalui Kabupaten PPU.

Presiden Joko Widodo saat peringatan Hari Pers Nasional di Banjarmasin kemarin (8/2) juga kembali memberikan gambaran tata ruang IKN. Yakni, menggunakan konsep green and smart city. ”Ramah pejalan kaki, orang bersepeda, dan dekat dengan alam,” terangnya. Artinya, penataan kawasan IKN akan berbasis hutan.

Kawasan IKN akan dibagi menjadi tiga, yakni pusat pemerintahan, kawasan IKN, dan perluasan IKN. Kawasan permukiman akan mendapatkan tempat yang memudahkan penduduk untuk mengakses transportasi umum. Dengan begitu, mobilitas penduduk sebisanya menghindari penggunaan kendaraan pribadi.

Gambaran kasar desain tata ruang IKN sebenarnya sudah terlihat dalam desain yang memenangi kompetisi. ”Dari desain yang terpilih, kita akan menerapkan gaya hidup perkotaan abad ke-21 yang rendah karbon dan peduli pada lingkungan,” tambahnya.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : */c11/dos


Close Ads