alexametrics

Setiap Sudut Putrajaya adalah Spot Foto

Laporan Siti Aisyah dari Malaysia
9 Februari 2020, 22:50:45 WIB

BANGUNAN itu terlihat mencolok di gelapnya malam. Tiang-tiang tinggi yang menopang bangunan utama terlihat seperti kaki yang menginjak bumi. Tulisan SPRM (MACC) terpampang jelas di bagian atas. Bagi orang luar Purtrajaya, gedung itu tidak akan terlewat. Bentuknya yang tidak biasa membuat orang langsung menoleh.

”Orang tempatan (penduduk asli, Red) kata gedung itu mirip pesawat luar angkasa,” ujar sopir yang mengantarkan saya keliling Putrajaya, Malaysia, awal Januari lalu.

Malam di Putrajaya sangat jauh berbeda dengan Kuala Lumpur yang menjadi ibu kota Malaysia. Tidak ada ingar bingar. Bahkan gedung-gedung di kota itu tidak gemerlap dengan pencahayaan warna-warni. Tiap gedung menonjol dengan cara yang tidak mencolok. Termasuk gedung KPK-nya Malaysia itu.

”Kami menggunakan pencahayaan fasad,” ujar Ketua Penolong Pengarah Seksyen Kawalan Perancangan Rekabentuk Bandar dan Permit Bahagian Pembangunan Tanah dan Kelulusan Pelan Jabatan Perancangan Bandar Perbadanan Putrajaya Amran bin Mohd. Noor.

Aturan pencahayaan itu berlaku untuk semua gedung di Putrajaya tanpa terkecuali. Jenis lampunya pun diatur. Bagian bawah akan diberi lampu kecil-kecil dan semakin ke atas semakin terang. Jika waktu sudah di atas pukul 00.00, lampu-lampu di bagian bawah boleh dimatikan, tapi tidak di bagian atasnya. Ada kesan seakan-akan gedung-gedung itu memiliki kepala karena hanya bagian atas yang bercahaya. Putrajaya tak pernah terang benderang, tapi juga tak pernah gelap gulita.

Bukan hanya ukuran dan kekuatan cahaya lampu yang diatur, tapi juga jenisnya. Setiap lampu yang dipakai adalah lampu hemat energi. Jadi, meski lampu yang dipakai banyak, konsumsi listriknya minim.

Amran mengungkapkan bahwa setiap presint (semacam distrik) di Putrajaya sudah diatur sedemikian rupa. Mana area untuk gedung-gedung pemerintahan, permukiman penduduk, area komersial, sekolah, tempat rekreasi, dan berbagai hal lainnya. Di tiap-tiap permukiman penduduk pasti ada setidaknya 2–3 sekolah dasar, musala, dan pertokoan.

Putrajaya lahir dari ”ketiadaan”. Ia dulu adalah perkebunan sawit dan karet. Karena itu, menata kota tersebut tak perlu penggusuran. Semuanya dibangun bertahap sesuai dengan kebutuhan dan peruntukannya. Gedung-gedung pemerintahan tentu saja dibangun lebih dulu lantaran tujuan utama pembuatan kota tersebut adalah memindahkan pusat pemerintahan Malaysia. Bersamaan dengan itu, apartemen untuk relokasi aparat pemerintah juga dibangun. Menyusul kemudian sekolah, universitas, dan pusat-pusat perbelanjaan.

Jangan bermimpi melihat pedagang kaki lima (PKL) di trotoar Putrajaya. Seluruh trotoar bersih dan lebar. Di depan gedung-gedung pemerintah ada penjual makanan. Tapi, mereka berada di taman. Bangunan untuk berjualan didesain kecil mirip bentuk jamur dengan kursi-kursi di depannya. Rapi.

Pengaturan penggunaan lahan di Putrajaya sudah ada panduannya dan tidak bisa diganggu gugat. Misalnya, satu perusahaan mengajukan pendirian bangunan, mereka harus mendapat izin dulu dari Perbadanan Putrajaya (setara pemerintah kota). Bukan hanya izin lokasi, tapi juga desain bangunan akan dicek. ”Penggunaan kaca tidak boleh lebih dari 60 persen bangunan,” terang Amran.

Aturan itu punya tujuan tersendiri. Kaca memantulkan panas matahari dan menyilaukan. Sedangkan Malaysia adalah negara tropis yang panas. Jika banyak gedung menggunakan kaca, suhu udara akan semakin panas. Bangunan dengan banyak kaca lebih cocok di negara-negara yang memiliki empat musim.

Meski tak banyak kaca, tidak berarti gedung-gedungnya biasa saja. Putrajaya adalah surga arsitektur. Banyak bangunan dengan desain unik di kota yang menjadi pusat pemerintahan Malaysia itu. Tapi, bagi saya pribadi yang tak paham dengan arsitektur, saya hanya bisa menyebut kota ini memiliki kecantikan yang tidak biasa. Setiap sudutnya adalah surga untuk berfoto ria. Entah itu gedung pemerintah, jembatan, jalan, atau taman-tamannya.

FAVORIT: Pasangan calon pengantin melakukan sesi foto pre wedding di Jembatan Seri Gemilang, Putraya. (SITI AISYAH/JAWA POS)

Mungkin karena itu pula banyak wedding organizer memanfaatkannya untuk mengambil foto pre wedding. Selama sepekan saya berada di kota ini, berkali-kali saya bertemu pasangan pengantin yang sedang mengambil foto. Astaka Morocco menjadi salah satu lokasi favorit. Bangunan dengan ukiran-ukiran cantik itu membuat pengunjung serasa benar-benar berada di Maroko.

”Banyak calon mempelai yang ingin berfoto di sini,” ujar Mathan Rajj, salah seorang fotografer pre wedding.

Jembatan di Putrajaya juga menjadi spot yang sangat menarik. Ada delapan jembatan besar di kota tersebut. Masing-masing memiliki desain yang berbeda. Jembatan Seri Gemilang adalah salah satu yang sering dijadikan spot foto. Jembatan itu menghubungkan presint 4 dan presint 5. Di samping jembatan terdapat ukiran semacam selendang yang menjulur dari ujung ke ujung.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : */c10/dos


Close Ads