alexametrics

Di Nur-Sultan Pusat Kota Harus Jadi Background

Laporan Doan Widhiandono Dari Kazakhstan
9 Februari 2020, 21:14:44 WIB

Pembangunan di Nur-Sultan tak bisa dilakukan secara serampangan. Kota itu harus tumbuh sesuai rencana awal yang sudah ditetapkan pada 2001. Meski begitu, rencana tersebut juga berjalan secara luwes sesuai geliat perkembangan kota.

LUWESNYA rencana pembangunan Kota Nur-Sultan itu diungkapkan Alibaev Maulet Bilyalovich, head of integrated architectural planning Astana Genplan. Astana Genplan adalah lembaga yang bertugas mengawal pertumbuhan Nur-Sultan agar tetap sesuai dengan perencanaan awal ketika ibu kota pindah dari Almaty pada 1998. Semacam badan perencanaan pembangunan kota (bappeko) di Indonesia. Di lembaga itu, Alibaev bertanggung jawab menjaga perencanaan arsitektural kota agar tetap selaras.

Menurut Alibaev, setelah ibu kota pindah sekitar 22 tahun silam, perencanaan kota segera dibuat. Perancang utamanya adalah Kisho Kurokawa, arsitek Jepang yang memenangi kompetisi desain ibu kota. ’’Rancangannya selesai pada 2001. Artinya, the first Genplan dijalankan pada 1998–2001,’’ kata dia kepada Jawa Pos pada 9 Januari di kantornya di Nur-Sultan. Dan perencanaan awal itu dirancang untuk dijalankan hingga 2030.

Tapi, perencanaan tersebut harus mengalami beberapa kali revisi. ’’Perubahan itu didasarkan pada pertumbuhan jumlah penduduk sehingga desain kota harus direvisi agar lebih detail dan komplet,’’ ujarnya sebagaimana diterjemahkan Gulnur Seisenkulova, warga Nur-Sultan yang menjadi staf Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Nur-Sultan.

Dan hingga tahun ini, desain itu sudah tujuh kali berubah. Saat ini pun desain tersebut bakal direvisi. Sebab, perencanaan yang terakhir dibuat untuk kota yang berpenduduk 1,1 juta jiwa. Sedangkan Nur-Sultan saat ini didiami hampir 1,2 juta jiwa.

Berdasar perencanaan, Nur-Sultan punya 80 ribu hektare area yang harus dibangun. Apakah saat ini sudah terisi semua? Belum. Masih banyak area yang kosong. Area tersebut akan menjadi bagian baru Nur-Sultan yang bakal terus berkembang sesuai jumlah penduduknya.

’’Seharusnya, dengan jumlah penduduk seperti ini, kami sudah harus merampungkan pembangunan seluas 37 ribu hektare. Tapi, yang sudah komplet masih 25 ribu hektare. Jadi, ya, kami masih punya banyak pekerjaan di sini,’’ katanya.

Meski begitu, cepatnya pertumbuhan penduduk harus tetap diimbangi dengan pembangunan yang terencana. Sesuai planning awal. ’’Misalnya, 50 persen kota harus area hijau. Tidak boleh untuk bangunan atau hunian,’’ paparnya.

Nur-Sultan memang punya iklim yang khas stepa, padang rumput yang sangat luas. Sangat beku saat musim dingin. Tapi, begitu hot di musim panas. Sangat berangin.’’Harus didukung dengan green belt. Kawasan hijau. Misalnya di kawasan sekitar sungai,’’ ujar Alibaev.

Pada 1998, kota baru Astana memang direncanakan berada di sisi kiri Sungai Isil (selatan dan barat sungai). Kawasan industri dipertahankan hanya di utara. Demikian juga hunian lama, sejak saat kota itu bernama Akmola di bawah kekuasaan Uni Soviet, tetap dipertahankan di sisi kanan sungai. ’’Namun, sekarang sisi kanan dan kiri sungai tumbuh bersamaan. Secara cepat. Secara paralel,’’ ujar Alibaev. Yang membedakan, di sisi kanan tidak ada pembangunan gedung-gedung baru. Yang dilakukan adalah memperbarui dan memindah gedung hunian yang lama.

WAJAH LAMA: Suasana di sisi barat Sungai Isil. Bangunan dan kawasan hunian masih berciri bangunan lama khas Soviet. Tidak terlampau tinggi dengan warna-warna pastel dan cokelat. (Doan Widhiandono/JAWA POS)

Secara kasatmata, wajah sisi kanan dan kiri Sungai Isil memang sangat kontras. Sisi kiri penuh dengan tetenger elok. Gedung-gedung kaca, berwarna biru-emas dan metalik, mendominasi cakrawala. Sedangkan sisi kanan masih penuh apartemen khas era Soviet. Kotak-kotak. Tinggi 4–5 lantai. Warna cokelat bata.

’’Memang, pusat kota di sisi kiri sungai harus tetap jadi pusat perhatian. Harus jadi background,’’ ungkap Alibaev. Karena itu, ada aturan ketat soal pembangunan infrastruktur di Nur-Sultan. Di tengah kota, tinggi maksimal bangunan adalah 40 lantai. Kecuali Abu Dhabi Plaza yang direncanakan setinggi 75 lantai. Dan semakin ke pinggir kota, bangunan harus lebih rendah. Dengan begitu, ketika orang memasuki kota, mereka masih bisa melihat tetenger di kawasan tengah. ’’Main landmark (tetenger utama) harus tetap di pusat kota,’’ tegasnya.

Karena itu, sejauh mata memandang, bangunan-bangunan tinggi di pusat kota tersebut akan menyembul di ujung cakrawala. Misalnya, menara Baiterek yang punya ciri khas bola emas di puncaknya. Atau menara tabung kembar berwarna keemasan yang menjadi penanda kawasan kementerian. Di tengah-tengah itu, muncul bangunan jangkung yang akan menjadi Abu Dhabi Plaza. Saking tingginya, pucuk bangunan yang masih digarap itu kerap tak terlihat. Tertutup kabut yang sering menyambangi Nur-Sultan saat musim dingin.

Nur-Sultan juga dibagi menjadi distrik-distrik. Ada 129 sektor di kota tersebut. Tiap sektor dihuni maksimal 10 ribu orang. Pada tiap sektor, setidaknya harus ada 1 sekolah, 2 taman kanak-kanak, 1 klinik, apotek, bank, toko, dan pusat layanan warga. ’’Dalam satu sektor harus ada 30 institusi. Sebelumnya, pada perencanaan awal, ada 67 institusi yang diwajibkan ada pada tiap sektor. Tapi, akhirnya banyak yang direvisi,’’ kata Alibaev.

Dengan demikian, warga tak perlu bepergian jauh kalau ingin berbelanja. Mereka juga tak harus menyeberangi kota kalau ingin mengurus layanan administratif. Tiap-tiap sektor menjelma menjadi kota mini yang bisa memenuhi kebutuhan tiap-tiap warga. Mulai administratif, rekreatif, sampai layanan kesehatan.

Bukan hanya pembangunan kota yang harus sesuai cetak biru. Pertumbuhan jalan dan sistem transportasi juga tak boleh melenceng dari perencanaan yang sudah lahir sekitar dua dekade silam.

MENYANGGA LANGIT: Emerald Toweer yang saat ini menjadi gedung tertinggi di Nur Sultan. Bangunan ini terdiri atas tiga menara setinggi 54 lantai 43 lantai, dan 37 lanta. Tingginya mencapai 210 meter. Dalam waktu dekat, ia akan dikalahkan oleh Abu Dhabi Plaza. (Doan Widhiandono/ JAWA POS)

Editor : Ilham Safutra

Reporter : */c10/bersambung


Close Ads