alexametrics

Ibu Kota Baru Malaysia Hampir 40 Persen untuk Area Hijau

Laporan Siti Aisyah dari Malaysia
2 Februari 2020, 23:45:22 WIB

Putrajaya tidak dibangun dalam semalam. Dibutuhkan waktu lama untuk proses perencanaan, pematangan ide, dan konstruksi. Hasilnya, pusat pemerintahan Malaysia itu berdiri hampir tanpa cela.

ASRI dan tertata. Dua kalimat itu cocok untuk menggambarkan Putrajaya. Kota seluas 49 kilometer persegi itu dipenuhi gedung-gedung modern aneka bentuk. Namun, di sekitar gedung tersebut dengan mudah ditemukan taman-taman yang luas penuh dengan bunga dan tempat duduk yang nyaman.

”Kota ini dibangun dengan konsep city in a garden,” terang Ketua Penolong Pengarah Seksyen Kawalan Perancangan Rekabentuk Bandar dan Permit Bahagian Pembangunan Tanah dan Kelulusan Pelan Jabatan Perancangan Bandar Perbadanan Putrajaya Amran bin Mohd Noor.

Konsep itu tidak muncul tiba-tiba. Ketika pemerintah sudah memutuskan akan membangun kota baru di Prang Besar alias Putrajaya, beberapa pihak diminta menyusun konsep pembangunan. Ada lima konsep yang terpilih dan diajukan pada Februari 1994. Yaitu, city in a garden, sub urban, elevated linear city, the cresent, dan build with nature. Nah, konsep pertamalah yang akhirnya dipilih kabinet.

Bukan tanpa alasan konsep city in a garden dipilih. Pemerintah Malaysia ingin menjadikan Putrajaya sebagai green city. Kota itu tidak sekadar hijau dalam arti banyak pepohonan, tapi juga mengedepankan konsep ramah lingkungan.

Setelah konsep terpilih, baru kemudian masterplan dibuat. Pembangunan Putrajaya akan ditekankan pada pentingnya integrasi antara alam dan lingkungan perkotaan. Sekitar 38,91 persen area di Putrajaya diperuntukkan sebagai taman, danau buatan, dan wetland. Sisanya digunakan untuk gedung-gedung pemerintahan, permukiman penduduk, area komersial, dan berbagai bangunan publik lainnya.

Masterplan itu menjadi acuan pembangunan di Putrajaya hingga saat ini. Semuanya diatur dengan detail. Termasuk cat, ketinggian gedung, pencahayaan, sanitasi, pengaturan air, dan berbagai hal lainnya.

”Rumah tak bisa berganti-ganti cat. Jika ingin ganti, harus izin dulu,” terang Amran saat ditemui di kantor Perbadanan Putrajaya. Komposisi warna tiap-tiap gedung sudah ditentukan.

Area permukiman yang terletak di dekat danau. Pemerintah kota menentukan cat apa yang bisa dipakai untuk tiap-tiap bangunan. (Siti Aisyah/JAWA POS)

Masjid Putra, misalnya. Masjid yang tampak mengapung jika dilihat dari tasik (danau) itu sengaja dicat pink agar terlihat lebih cantik dan menonjol jika dibandingkan dengan area sekitarnya yang dominan hijau. Salah satunya adalah Kantor Perdana Menteri (PMO) yang terletak tak jauh dari masjid yang menjadi tujuan wisatawan itu.

Tak ada warna-warna mencolok seperti merah, biru elektrik, dan oranye. Kota itu didominasi warna pastel yang kalem dan menenangkan. Opsi lainnya adalah warna putih yang membawa kesan modern.

Demikian juga pembangunan gedung. Batas ketinggian tiap-tiap gedung sudah diatur. Misalnya, gedung PMO yang terletak di ujung bukit tertinggi Presint 1. Dari sana terlihat Putrajaya International Convention Center yang berada di Presint 5. Dua gedung itu terletak dalam satu garis lurus. Gedung-gedung yang terletak di antara keduanya dibuat sedemikian rupa agar tak menjadi penghalang.

Gedung yang berada di dekat danau juga tidak boleh terlalu tinggi. Dengan begitu, gedung di belakangnya masih bisa menawarkan pemandangan yang langsung menghadap danau buatan. Singkatnya, makin dekat danau, ketinggiannya kian berkurang.

Putrajaya adalah pusat pemerintahan. Karena itulah, tidak ada kehidupan malam yang terlalu mencolok. Tidak ada kelab malam seperti halnya di Kuala Lumpur. Jadi, taman-taman dan area terbuka hijau itu menjadi salah satu hiburan penduduk saat pagi, sore, dan ketika malam menjelang.

Datanglah ke Dataran Putra saat malam. Di sanalah penduduk menghabiskan malam bersama keluarga. Ada yang hanya duduk dan bercanda hingga mengajari anaknya bermain sepeda.

”Ini kota untuk kerja. Tak ada yang pub di sini. Orang pulang kerja istirahat di rumah,” ujar Ahmad, salah seorang sopir taksi di Putrajaya. Mereka yang memiliki uang lebih biasanya akan pergi ke Kuala Lumpur pada akhir pekan.

Kalau toh tak ada uang, bukan berarti tidak ada hiburan. Ada waterfront sepanjang 38 kilometer yang mengelilingi Putrajaya. Ia berupa jalan setapak di dekat tasik atau danau. Waterfront itu menjadi magnet bagi penduduk maupun orang luar Putrajaya. Saat sore, biasanya rombongan orang dari luar kota datang untuk bersepeda di area tersebut.

Warga memanfaatkannya untuk lari sore atau mengajak bermain anaknya. Di sekitar waterfront ada beberapa taman bermain. Kursi panjang tersedia di berbagai titik. Para pemuda biasa memanfaatkannya untuk duduk bersama kekasihnya menikmati sore sembari memandang danau. ”Di sini seronok (senang, Red), tenang, tak ramai,” terang Ahmad.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : */c19/dos


Close Ads