alexametrics

Kerja di Penajam, Tidur di Balikpapan

Laporan BAYU PUTRA dari Penajam Paser Utara
1 Maret 2020, 22:11:35 WIB

Kebutuhan transportasi publik di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) sedikit berbeda dengan tetangganya, Kutai Kartanegara. Di PPU ada satu alat transportasi publik yang begitu vital. Yakni, kapal penyeberangan. Baik feri, kelotok, maupun speedboat. Tiga jenis kapal itu dibutuhkan oleh banyak orang yang ingin menyingkat perjalanan.

KALIMANTAN Timur memang memiliki satu teluk yang cukup besar, yaitu Teluk Balikpapan. Bagian ujungnya mempunyai lebar 5 km. Teluk itu masuk ke dalam kurang lebih sejauh 35 km. Wilayah inti ibu kota negara (IKN) Indonesia yang baru tidak jauh dari bagian terdalam Teluk Balikpapan.

Pengguna jalan dari pusat kota Balikpapan ke ibu kota Kabupaten PPU punya dua alternatif jalur. Pertama, memutari teluk lewat Kecamatan Sepaku sejauh 150–160 km dengan waktu tempuh lima jam. Alternatif kedua, menyeberangi Teluk Balikpapan dengan kapal penyeberangan. Satu jam menyeberang dengan feri dan kelotok, atau yang tercepat menggunakan speedboat berkapasitas enam penumpang. Tidak sampai 15 menit.

Maka, pelabuhan feri di Kariangau, Balikpapan, tak pernah sepi kendaraan. Sepeda motor hingga truk tangki Pertamina memilih moda transportasi feri. Begitu pula Pelabuhan Semayang untuk kapal kelotok dan speedboat. Kapal-kapal itu mengantar penumpang dan kendaraan menuju Pelabuhan Ferry Penajam. Di pelabuhan itu tersedia ojek pangkalan dan angkot jarak pendek yang jumlahnya belum banyak.

Sarana penyeberangan teluk tersebut memudahkan mobilitas kedua daerah. Tak sedikit warga Balikpapan yang bekerja di PPU. Berangkat pagi dan pulang sore dengan kapal penyeberangan. Atau sebaliknya, warga PPU yang ingin sekadar berbelanja di pusat perbelanjaan di Balikpapan, berangkat sore dan pulang malam. Sudah seperti mobilitas warga Jabodetabek yang menggunakan KRL.

Sekda Kabupaten PPU Tohar menjelaskan, sarana transportasi publik dalam kota di PPU memang terbatas. ’’Yang ada itu L300 dari Penajam sampai Grogot,’’ terangnya. Ada pula angkot atau mikrolet yang sering disebut taksi. Kondisi geografis PPU yang memanjang dari utara juga membuat pilihan transportasi belum variatif.

Tohar mengakui, banyak pegawai yang tinggal di Balikpapan. ’’Insentif itulah yang cenderung diburu orang,’’ lanjutnya. Balikpapan sudah menjadi kota yang cukup besar dengan fasilitas yang lebih lengkap ketimbang PPU. Jadi, wajar jika banyak warga yang saat ini memilih tinggal di Balikpapan.

Ke depan, mobilitas masyarakat diprediksi semakin mudah. Akan ada dua jembatan yang melintasi Teluk Balikpapan. Pertama, Jembatan Pulau Balang yang dibangun Kementerian PUPR dan jembatan tol Balikpapan–Penajam yang dibangun konsorsium.

Dalam keterangan persnya, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono menyebutkan bahwa pembangunan Jembatan Pulau Balang II ditargetkan selesai akhir tahun ini. Akhir 2019, progresnya sudah 71 persen. Jembatan itu bakal memiliki panjang 971 meter.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : */c18/dos



Close Ads