alexametrics

Bus Hopping tanpa Kesasar

Laporan Doan Widhiandono dari Kazakhstan
1 Maret 2020, 22:36:48 WIB

SISTEM transportasi dalam kota di Nur-Sultan, Kazakhstan, cukup mudah. Juga murah. Bus kota bisa membawa kita ke berbagai penjuru kota. ”Tidak mungkin tersesat,” kata seorang pegawai Best Western Atana, hotel tempat saya menginap pada Januari lalu.

Kemudahan transportasi dalam kota itu terlihat dari banyaknya halte bus di sekitar hotel. Kebetulan, tempat saya tinggal tersebut persis di hadapan kompleks kementerian Kazakhstan. Juga dekat betul dengan Ak Orda, istana kepresidenan. Jarak dengan istana hanya 300-an meter. Satu blok di belakang hotel adalah Menara Baiterek yang ikonik tersebut.

Hotel saya menghadap ke utara. Di depannya persis ada halte bus. Demikian juga di sisi kanan. Kalau di sisi kiri, jarak haltenya hanya dua blok, sekitar 300 meter juga.

”Kalau mau ke mana pun, tinggal perhatikan peta pada halte,” saran dia. Maka, Jumat (3/1) itu saya memutuskan untuk bus hopping. Secara acak naik bus, secara acak pula turun di halte. Pokoknya, ingin turun ya langsung turun saja. Tujuan selanjutnya dipikir kemudian.

Sebelum naik bus, saya harus membeli kartu di mesin yang ada di tiap halte. Harganya 400 tenge atau sekitar Rp 15 ribu. Kartu itu lantas diisi ”pulsa”, juga di mesin tersebut. Tarif sekali jalan adalah 90 tenge atau sekitar Rp 3.500. Semurah angkot di Indonesia. Yang bus ekspres bertarif 150 tenge (kira-kira Rp 6 ribu).

Di Nur-Sultan terdapat 69 jalur bus. Tiap bus punya nomor di depannya, menandakan jalur yang bakal dilewati.

Saya mengawali city tour itu pada halte yang terletak di seberang hotel. Cukup gampang rasanya ”menaklukkan” Nur-Sultan. Pada halte terpampang peta yang akan dilalui bus yang berhenti di halte tersebut. Tiap jalur bus digambar dengan garis yang berbeda warna. Cukup mudah dibaca. Sebab, keterangannya memakai dua huruf, Cyrillic dan Latin. Bahasa Kazakh dan bahasa Inggris. Misalnya, bus nomor 32 akan melewati kawasan Nurly Zhol, Palace of Peace and Reconciliation, Ak Orda, Nurzhol Boulevard, hingga ke kota lama. Dan sebagainya.

Selain itu, kita tidak perlu menunggu bus ”tanpa kepastian”. Sebab, pada halte itu ada papan keterangan yang menunjukkan berapa lama lagi bus berikutnya tiba. Bus nomor sekian akan datang sekian menit lagi. Begitu seterusnya.

Pukul 09.00 pagi itu saya mengawali perjalanan dengan bus nomor 28 yang membawa ke selatan. Melewati Baiterek, mal Khan Shatyr yang berbentuk tenda, lalu berbelok ke kanan menuju kota tua.

Di kawasan kota baru Nur-Sultan, perjalanan memang terasa mudah. Kemacetan tak begitu terasa. Bangunan-bangunan ikonik membuat kita tidak pernah kehilangan arah. Selalu tahu ke mana akan pergi dan ke arah mana akan kembali.

TRANSPORTASI MURAH: Salah satu bus melintas di pusat kota Nur-Sultan.
Laporan Doan Widhiandono dari Kazakhstan. (DOAN WIDHIANDONO/JAWA POS)

Problem baru muncul di kawasan kota lama. Haltenya berbeda. Peta pada halte tidak lagi berupa diagram jalur. Hanya tabel nomor bus dan jalur yang dilalui. Tanpa bahasa Inggris. Halte pun terasa lebih kuno ketimbang halte baru yang berdinding kaca. Sebagian halte lawas hanya berwujud tempat duduk dengan naungan atap sederhana.

Di salah satu halte kota lama itulah saya sedikit kehilangan arah. Irasyid dan Askhad, dua warga yang saya temui di halte itu, tak banyak membantu. Mereka tidak hafal jalur bus. Juga tak bisa berbahasa Inggris. Berbekal aplikasi penerjemahan, saya minta mereka membantu saya mencari bus ke Museum Nasional Kazakhstan yang terletak di belakang Istana Presiden. Irasyid akhirnya menelepon kawannya dan memastikan ke sopir bus tentang jalur yang harus saya tumpangi.

Bus hopping itu saya sudahi pukul 17.00. Hari sudah mulai senja saat saya memasuki hotel. ”Bagaimana? Tersesat?” kata resepsionis hotel. ”Sedikit,” jawab saya. (*)

Editor : Ilham Safutra



Close Ads