JawaPos.com - Penempatan jamaah haji di pemondokan dilakukan dengan sistem qur'ah (pengundian). Hingga Jumat (1/6) siang, baru hasil pengundian pemondokan di Mekkah yang diumumkan. Hasilnya, hanya ada tujuh kloter jamaah haji embarkasi Surabaya yang menempati hotel dengan jarak terdekat ke Masjidil Haram.
Sesuai data yang dipaparkan Direktur Pelayanan Haji Luar Negeri Kementerian Agama (kemenag) Sri Ilham Lubis, pemondokan di Mekkah terbagi dalam tujuh wilayah. Yakni, Aziziyah, Mahbas Jin, Misfalah, Jarwal, Syisyah, Raudhah, dan Re'i Bakhsy. Pembagian tersebut berdasar pada jarak pemondokan ke Masjidil Haram. Dari tujuh wilayah tersebut, jarak terdekat ke Masjidil Haram adalah pemondokan atau hotel di wilayah Re'i Bakhsy.
Jaraknya hanya berkisar 708 meter sampai 1,9 kilometer. Di wilayah tersebut terdapat 15 hotel dengan total kapasitas 13.314 jamaah. Nah, khusus untuk jamaah haji dari embarkasi Surabaya, hanya ada tujuh kloter yang ditempatkan di hotel-hotel wilayah Re'i Bakhsy. Sisanya menyebar di hotel-hotel wilayah lain.
Lokasi terjauh dari Masjidil Haram adalah pemondokan di wilayah Aziziyah. Jaraknya berkisar 2,6 km sampai 4,3 km. Di sana terdapat 19 hotel dengan kapasitas total 23.420 jamaah. Nah, ada tujuh kloter haji embarkasi Surabaya yang juga ditempatkan di lokasi terjauh itu. Untuk diketahui, Embarkasi Surabaya terdiri atas jamaah asal Jatim, Bali, dan NTT.
Jika dilihat data hasil qur'ah, mayoritas jamaah haji Embarkasi Surabaya akan berada di hotel-hotel wilayah Raudhah yang berjarak 1,8 km sampai 3,5 km dari Masjidil Haram. Total ada 15 kloter yang akan menginap di 29 hotel di kawasan tersebut.
Jamaah yang lokasi pemondokannya berjarak lebih dari 1,5 km dari Masjidil Haram akan dilayani angkutan bus khusus. Fasilitas itu diberi nama layanan bus sholawat. Sri Ilham Lubis dalam laporan selaku Ketua Panitia mengatakan, qur'ah merupakan salah satu rangkaian kegiatan dalam penyelengaraan ibadah haji. "Qur'ah ditetapkan sebagai mekanisme untuk memberikan pelayanan terbaik dan berkeadilan kepada jemaah haji, terutama saat di Makkah. Untuk penempatan di Madinah, akan disesuaikan dengan kedatangan jamaah," kata Sri Ilham.
Hasil qur'ah ini, lanjut Sri Ilham, akan disosiliasikan ke jamaah, baik melalui Kanwil Kemenag Provinsi maupun website Kemenag.
Qur'ah berlangsung tiga hari, 30 Mei hingga 1 Juni 2018. Dirjen PHU Nizar Ali mengatakan, qur'ah merupakan tahap akhir dari persiapan akomodasi jamaah haji yang dilakukan Direktorat Pelayanan Haji Luar Negeri.
"Seluruh proses akomodasi Madinah dan Makkah sudah paripurna. Kita patut bersyukur tahun ini mendapatkan penempatan yang baik di Arab Saudi," ujarnya.
Menurut Nizar, sesuai kesepakatan, khusus untuk penempatan jamaah yang berangkat pada kloter pertama, dilakukan tanpa melalui qur'ah. Untuk mengantisipasi kendala transportasi pasca puncak haji, jamaah kloter awal akan ditempatkan pada lokasi terdekat ke Masjidil Haram. Dengan demikian, mereka bisa berjalan kaki dan tidak harus menunggu bus beroperasi saat akan menyelesaikan thawaf ifadah dan tawaf wada' jelang kepulangan.
"Kalau tahun sebelumnya, jamaah kesulitan transportasi. Inilah prinsip keadilan dalam konsep qur'ah sehingga tahun ini diharapkan tidak ada lagi kesulitan seperti tahun sebelumnya," tandas Nizar.