← Beranda

Melihat Oma-oma Bermain Kolintang Untuk Harumkan Nama Indonesia

Bintang PradewoSelasa, 7 Mei 2019 | 17.51 WIB
Anggota Kolintang saat tampil di Pekan Lurik Indonesia. (Yogi Wahyu/ Jawa Pos)
Kolintang merupakan alat musik yang terbuat dari bilah kayu berasal Minahasa Sulawesi Utara dan sudah ditetapkan menjadi milik Indonesia oleh Kementerian Pendidikan Nasional. Di tangan para oma-oma, alat musik ini dapat menghasilkan alunan musik yang asyik didengar. Seni musik Kolintang dimainkan oleh oma-oma yang notabene sudah menginjak usia lanjut. Dengan semangat dan kegigihanya dalam berlatih, musik Kolintang saat ini dalam proses pengajuan ke UNESCO. Ingin mengangkat citra Bangsa Indonesia menjadi motivasi para oma-oma. Musik Kolintang sendiri berdiri dibawah organisasi 'Mitra Seni Indonesia'.

YOGI WAHYU PRIYONO, Jakarta

Suara musik Kolintang terdengar jelas dari luar rumah. Dari balik kaca rumah nampak ibu-ibu tengah asyik memainkan alat musik Kolintang. Musik Kolintang itu disajikan dalam irama keroncong. Itu saya tau dari seorang ibu yang mengenakan baju kebaya warna putih batik, tidak lama setelah berkenalan. Terlihat ada delapan orang yang kompak memainkan alat Kolintang. Irama musiknya sangat nikmat untuk didengar. Sayang, saya tidak bisa menikmati alunan musik itu dalam waktu lama karena itu musik terakhir. Pertanda latihan selesai.

"Tadi itu judulnya Bunga Anggrek," kata Ketua I Mitra Seni Indonesia (MSI) Ibu Hesti Indah Kresnarini membuka percakapan sore itu.

Usia tak mematahkan semangat melestarikan seni dan budaya Indonesia bagi para pemain musik Kolintang yang tergabung di organisasi Mitra Seni Indonesia. Dimana anggotanya didominasi oleh wanita lanjut usia yakni dari 54 tahun hingga 84 tahun. Kelompok musik ini berdiri sejak tanggal 9 Agustus 2007 oleh Ir. Sanyoto Sastrowardoyo MSc (Alm.), Dra. Susrinah Sanyoto Sastrowardoyo dan Sri Harmoko, bersamaan dengan berdirinya MSI.

Tidak hanya bermain Kolintang, oma-oma ini juga mahir memainkan Choir, menari, hingga karawitan. Permainan Kolintang menjadi andalan anggota MSI saat tampil. Saat ini mereka memiliki 3 set alat musik Kolintang dan 10 group Kolintang. Awalnya, mereka melihat pertunjukkan Kolintang itu dari Dinas Pariwisata DKI. Kemudian Dinas Pariwisata DKI menawarkan pelatihan Kolintang, tapi saat itu belum punya alat.

"Kebetulan ada salah satu dari pembina kita yang mau menyumbang alat musik Kolintang. Dulu baru ada dua group lalu berkembang," tuturnya.

Saat ini Kolintang sudah banyak menguasai lagu-lagu daerah. Bahkan pada satu group saja, sebanyak 20 lagu sudah berhasil dikuasai. Sementara, masing-masing group Kolintang membawakan lagu yang berbeda-beda.

"Kolintang itu bukan hanya menyanyikan lagu-lagu Manado saja. Lagu-lagu luar negeri juga bisa. Kita itu seperti orkestra, ada dua gitarnya, ada cello, bass dan gitar melodi dua," terang Hesti yang saat itu ditemani oleh Ketua II MSI Ibu Titiek Kundjono, Anggota Dewan Pembina Bidang Pelatihan Ibu Ken Subagiyo, dan Bidang Pelatihan Non Rutine Pemain Kolintang Ibu Istyastuti Wuwuh Asri.

Semangat dari oma-oma untuk tetap berkesenian di usia yang tak lagi muda adalah untuk melestarikan seni dan budaya Indonesia. Mereka juga ikut dalam memperjuangkan alat musik Kolintang agar diakui oleh UNESCO (United Nations Education, Scientific and Cultural Organization). "Sesuai dengan visi misi kita, seni tradisional Indonesia tetap lestari. Kan sekarang globalisasi jangan tenggelam karena budaya dari luar," ujarnya.

Photo
Photo
Anggota Kolintang saat tampil di Pekan Lurik Indonesia. (Yogi Wahyu/ Jawa Pos)

Group - group Kolintang MSI telah berpartisipasi pada acara Pre Opening Asian Games ke 18 di Gelora Bung Karno (GBK) Senayan, Jakarta Pusat. Selain itu, Kolintang telah meraih berbagai prestasi salah satunya kejuaraan tingkat Provinsi maupun Nasional. Musik Kolintang merupakan salah satu dari sembilan pelatihan seni di kegiatan MSI berdasarkan Anggaran Dasar. Seperti paduan suara, Arumba, Tangklung, Angklung, Karawitan, Tari, Melukis, Membatik, dan Olah Vokal.

Anggota Dewan Pembina Bidang Pelatihan Ken Subagiyo masih teringat jelas kapan dan bagaimana berdirinya MSI. Ia mengingat, berdirinya MSI tidak lepas dari Yayasan Seni Rupa Indonesia. Itu didirikan tahun 1994. Ketika itu, seni rupa dalam kondisi tenar-tenarnya sehingga dibangun seni rupa oleh dr. Oei Hong Djien, SpPA, seorang kolektor lukisan asala Magelang, Jawa Tengah.

"Dari situ mulai ada kompetisi Indonesian Art Award. Itu yang mendanai perusahaan Sampoerna. Jadi kontradiksi, seni dihubungkan dengan rokok. Tapi itu tetap berjalan. Sudah bertahun-tahun dan sifatnya adalah Asean. Dilakukan di negara masing-masing kemudian di lombakan, secara bergantian. Itu Indonesia sering mendapat juara," ingat Ken Subagiyo.

Lantaran Seni Rupa Indonesia merupakan suatu Yayasan dan tidak memiliki member. Dari situ Ken beserta pengurus lain berfikir bagaimana supaya yayasan ini memiliki member. Sebab, banyak orang-orang yang ingin bergabung tapi tidak bisa tari karena usianya yang sudah tidak lagi muda. Munculah ide untuk membentuk Mitra dari yayasan Seni Rupa yang bernama Mitra Seni Indonesia.

"Mangkanya dulu waktu kita (MSI) lahir namanya tidak pakai yayasan, yakni Mitra Seni Indonesia. Waktu launching dulu yang membuka bapak Jero Wacik, beliau adalah Menteri Pariwisata. Kita bentuk susunan pengurus dan kegiatannya. Bahkan kita membentuk anggaran dasar, " terangnya.

Menurut Hesti, Indonesia merupakan negara yang kaya dengan keberagaman seni dan budaya. Lebih dari 400 etnis ada di Indonesia. Hal inilah yang mendasari pembentukan MSI pada saat itu. MSI merupakan wadah dimana ibu-ibu dapat melestarikan seni dan budaya yang bangsa Indonesia miliki.

"MSI memberikan wadah kepada mereka yang peduli, mencintai ataupun mereka yang ingin menjadi pelaku seni untuk bersama-sama memajukan seni dan budaya Indonesia," kata Hesti.

Saat ini, MSI sudah beranggotakan lebih dari 750 anggota. Sebagian besar anggota merupakan ibu-ibu yang telah berusia diatas 45 tahun. Untuk itu, diharapkan kedepan MSI dapat menarik generasi muda supaya mau bergabung, melestarikan dan mengembangkan seni dan budaya Indonesia.

"Dulu kita hanya memiliki paduan suara yang beranggotakan 38 orang, itu pertama kali berdiri. Tapi sekarang paduan suara kita punya dua group. Satu group itu anggotanya 40-50 orang, ada Kolintang sepuluh group dan satu group 9 orang, ada Karawitan, Angklung, Tanglung, Tari, melukis, pokoknya komplit. Jadi ada sembilan pelatihan, " jelasnya.

Walaupun MSI bergerak dibidang kesenian, tapi MSI memiliki sifat sosial. MSI kerap mengadakan pagelaran seni yang hasilnya diberikan kepada seniman kurang mampu. Dana yang didapat itu sebagai biaya sekolah atau membeli peralatan mereka. Di hari Kartini kemarin, MSI telah memberikan hadiah untuk para seniman. Kemudian mengadopsi salah satu kampung di daerah Bandung, dimana warganya meminta untuk dibuatkan lokakarya.

"Bermodal dana Rp 100 juta hasil dari pagelaran seni, MSI bekerjasama dengan Maestro lukis Sunaryo, dibuatlah lokakarya. Kini harga lukisan yang awalnya seharga Rp 100 ribu meningkat menjadi belasan juta rupiah. Jadi mereka lebih bangga," tuturnya.

Menurutnya, MSI tidak hanya sekedar melestarikan melainkan ingin menjadi bagian masyarakat yang kreatif serta cinta seni. Dalam kreatif itu tentu tidak cukup untuk melestarikan tapi juga mengembangkan, karena seni dinamis dan berkembang seiring berjalannya zaman. Adanya MSI, membantu pemerintah melestarikan seni dan budaya secara tidak langsung.

"Memberi contoh kepada yang muda, kami yang sudah tua pun peduli. Selain itu, kalau orang tidak melihat langsung itu tidak tau. Tapi kalau orang itu datang di pagelaran MSI yang rutin dilakukan setiap tahun dengan menampilkan hasil pelatihan orang itu pasti tau. Itu yang dateng tidak sedikit, sampai ratusan salah satunya anak muda," ujarnya.

Melestarikan seni dan budaya bagi MSI tidaklah cukup. Melainkan harus disertai dengan adanya pengembangan, kreatifitas dan inovasi. Selain itu, menurut Hesti, seni harus dapat dinikmati oleh penontonnya, sehingga harus berkembang jaman, sesuai dengan selera penonton. Dengan pengembangan kreasi ataupun inovasi dan improvisasi seni dan budaya yang disesuaikan dengan selera masyarakat serta perkembangan saat ini, diharapkan dapat lebih diminati oleh masyarakat, baik didalam maupun luar negeri.

"Mudah-mudahan kedepan MSI dapat menyuguhkan paduan seni dan budaya yang kreatif dan inovatif, sehingga dapat mengangkat Citra Bangsa Indonesia," tuturnya.
Photo
Photo
EDITOR: Bintang Pradewo