JawaPos.com - Soal siapa yang sebenarnya bertanggung jawab membersihkan alat peraga kampanye (APK), Rendy Aditya Wachid sebenarnya tak terlalu peduli. Yang jadi kepedulian utamanya: sampah-sampah itu ada dan harus ditangani.
"Sebab, kalau tidak, berbagai sampah APK itu akan kian membebani TPA (tempat pembuangan akhir, Red)," ujar founder Parongpong Recycle and Waste (RAW) Management itu kepada Jawa Pos.
Rendy tidak memungkiri bahwa perayaan pemilu tahun ini memang sangat meriah. Sebab, pemilihan presiden, anggota legislatif DPR/DPRD, hingga anggota DPD menjadi satu. Banyak caleg yang berlomba-lomba melakukan promosi.
Begitu pula tim sukses kedua calon presiden dan wakil presiden. Memasang spanduk, reklame, hingga baliho berukuran besar di berbagai tempat.
Saking banyaknya jumlahnya, juga saking seringnya melihat, Harits Alfadri Dewanto sampai hafal mimik senyum orang-orang yang tak dikenalnya itu. Juga nama partai beserta nomor urut masing-masing.
"Ketika di jalan melihat pemandangan kiri kanan, terlihat jelas bertumpuk baliho, poster, atau apa pun seperti menyerupai tatanan kolase," ungkap founder produk jasa kustom lukis apparel Funky Scars yang tiap hari wira-wiri Cililitan, Jakarta Timur, ke Bekasi, Jawa Barat, itu kepada Jawa Pos.
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo juga sampai berkali-kali bergurau tiap mencopoti APK beragam bentuk di Semarang. Misalnya saat mencopot baliho seorang calon anggota legislatif perempuan. "Sori ya Mbak, gambarmu takcopot. Padahal, ayu lho fotone," ujarnya bercanda.
Tejet -sapaan akrab Harits Alfadri Dewanto- pun langsung teringat dengan pelajaran kuliah di Jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) Sekolah Tinggi Desain Interstudi. Saat itu, dalam pembuatan poster, spanduk, atau lainnya, harus ada pernyataan dan poin utama.
"Tapi, kok semua yang dilihat itu poin utama ya? Malah jadi bingung mereka itu (para calon, Red) siapa. Tanpa pergerakan bisa mesem di sana (APK)," ungkapnya.
Keprihatinan Rendy pada tambahan APK selama masa kampanye bertumpu pada minimnya kebiasaan orang Indonesia memisahkan limbah. Semua dicampur begitu saja. Praktis, upaya pemerintah dan perusahaan untuk menyediakan tempat sampah terpisah menjadi sia-sia.
"Nah, Parongpong ingin stop itu. Jadi, kenapa harus beli spanduk baru kalau spanduk lama banyak yang terbuang? Kan sayang banget," tutur bapak satu anak tersebut.