JawaPos.com – Palangka Raya menjadi cikal bakal ibu kota pilihan sejak era Presiden Soekarno. Palangka Raya dinilai paling ideal karena bebas gempa dan berada di tengah Indonesia. Wacana ini lantas kembali digulirkan Presiden Joko Widodo. Namun, benarkah Palangka Raya adalah kota yang paling tepat untuk dijadikan ibu kota?
Pengamat Tata Kota, Nirwono Yoga memberikan pemaparan berbeda terkait hal ini. Menurutnya, Palangka Raya dari sisi topografi dan geografis tak sepenuhnya bebas bencana.
“Aman dari bencana tak hanya bebas gempa, tetapi bagaimana dengan cuaca ekstrem, kebakaran hutan, banjir, dan lainnya,” tegasnya kepada JawaPos.com, Kamis malam (6/7).
Dari sisi banjir, beberapa kali Palangka Raya juga dihantam bencana banjir. Sungai-sungai di Palangka Raya juga seringkali meluap. Selain itu, Kalimantan juga sering terjadi kebakaran hutan.
“Bisa bayangkan nanti ibu kota terdampak kabut asap,” papar Nirwono.
Selanjutnya cuaca ekstrem, Palangka Raya juga seringkali mengalami masalah ini. Sejumlah penerbangan sering tertunda karena masalah cuaca. “Coba bayangkan kalau ada tamu kenegaraan yang tertunda karena cuaca ekstrem,” jelasnya.
Masalah kondisi lahan, Nirwono menilai banyak status lahan di Palangka Raya adalah lahan gambut. Kemudian juga harus dipikirkan masalah ketersediaan air bersih dan sarana lainnya.
“Kalau lahan gambut tak bisa membangun lebih dari 10 lantai, tak kuat tanahnya,” paparnya.
Atas dasar itu, Nirwono menilai ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan sebelum pemerintah memutuskan di mana kotanya. Salah satunya, kata dia, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) harus menyusun proposal selama enam bulan terkait alasan paling urgensi mengapa ibu kota harus pindah.
“Baru nanti akan tahu apa alasannya. Jangan karena Jakarta banjir dan macet ya, karena enggak akan pengaruh bagi Jakarta kalau alasannya itu. Saya sih enggak lihat ada urgensinya pindahkan ibu kota,” tukas Nirwono. (cr1/JPG)