Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 6 November 2018 | 16.05 WIB

Ratapan Keluarga Korban Lion Air: Tolong Pak, Kembalikan Keluarga Kami

Keluarga korban jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 menangis saat berlangsungnya sesi konferensi pers di Jakarta, Senin (5/11). Dalam kesempatan itu sejumlah pihak terkait memaparkan perkembangan proses evakuasi korban dan pesawat Lion Air JT 610. - Image

Keluarga korban jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 menangis saat berlangsungnya sesi konferensi pers di Jakarta, Senin (5/11). Dalam kesempatan itu sejumlah pihak terkait memaparkan perkembangan proses evakuasi korban dan pesawat Lion Air JT 610.

JawaPos.com - Haru dan pilu. Tangis dan kecewa. Dua kalimat tersebut menggambarkan suasana pertemuan keluarga korban Lion Air JT 610 kemarin (5/11). Mereka menumpahkan semua kesedihan dan keluhan saat bertatap muka dengan para pejabat yang menangani kasus tersebut.


Para keluarga korban kemarin bertemu dengan Kepala Basarnas Marsekal Madya M. Syaugi.


Selain itu, ada juga Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono, Pangarmada I Laksda TNI Yudo Margono, serta Kepala Pusat Kedokteran dan Kesehatan Polri Brigjen Arthur Tampi di ruang pertemuan Hotel Ibis Cawang, Jakarta.


Hampir semua yang diberi kesempatan bertanya menyampaikan dengan suara tercekat. Beberapa di antara mereka bahkan tak kuasa menahan tangis saat menyebutkan nama anggota keluarga yang menjadi korban. Misalnya, Moch. Bambang Sukandar, 62, asal Pati, Jawa Tengah. Dia kehilangan putranya, Pangky Pradana Sukandar, 29.


"Mohon dengan hormat, Pak. Kiranya penumpang JT 610 ini mohon segera dikembalikan ke kami, Pak. Teridentifikasi. Tolong dengan hormat, sekali lagi," kata Bambang dengan suara parau. Dia menuturkan, putranya yang bekerja di perusahaan transportasi di Bangka Belitung itu punya putri berusia 4 tahun.


Dia juga meminta penjelasan soal kabar kerusakan pesawat Lion Air yang terjadi pada malam sebelum kecelakaan. Dia menyebutkan, perlu ada penjelasan dan tanggung jawab dari teknisi yang memeriksa pesawat tersebut. "Jangan sampai kejadian ini berlanjuuut terus di Indonesia tercintaku ini," ujarnya, lantas terisak.


Bambang pulalah yang akhirnya "memaksa" pendiri Lion Air Rusdi Kirana untuk berdiri. Rusdi memang tidak berdiri di atas panggung menghadap keluarga penumpang Lion Air. Rusdi yang menjabat duta besar Indonesia untuk Malaysia itu berdiri di barisan terdepan.


"Saya belum kenal Pak Rusdi Kirana. Mohon dengan hormat untuk berdiri, Pak. Mohon dengan hormat," ucap Bambang dengan suara pelan.


Dia berharap Kementerian Perhubungan bisa memberikan alternatif penerbangan pagi untuk berbagai tujuan. Sebab, penerbangan dari Jakarta ke Babel saat pagi hanya dilayani Lion Air. "Anak saya kalau berangkat pagi dari Jakarta harus melaksanakan tugas, ndak ada pilihan flight selain Lion yang pagi."


Keluarga korban yang lain meminta evakuasi korban diutamakan, bukan hanya kotak hitam (black box). Bahkan, ada usul agar penyelam yang mendapat apresiasi bukan penemu kotak hitam, tapi siapa yang paling banyak mengangkat jenazah.


Rata-rata kekecewaan dilontarkan kepada manajemen Lion Air. Misalnya, soal cukup sulitnya komunikasi dalam sepekan masa pencarian korban. Keluhan juga disampaikan untuk identifikasi jenazah yang butuh waktu lama. Selain itu, mereka meminta ada perwakilan keluarga korban yang dilibatkan dalam penyelidikan di KNKT agar investigasi tidak "masuk angin".


Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono menuturkan, pihaknya berusaha memfasilitasi keinginan keluarga korban untuk masuk tim investigasi. Tapi bukan menjadi investigator. Sebab, KNKT adalah lembaga independen dan langsung bertanggung jawab kepada presiden. "Kami juga berupaya tidak menyalahi aturan," tegas Soerjanto.


Salah satu bentuk fasilitas itu adalah mengundang perwakilan keluarga penumpang untuk bisa berdiskusi dengan KNKT. Namun, hasil diskusi hanya untuk kalangan terbatas, bukan bahan pengajuan tuntutan. "Jadi, jangan dipakai untuk penuntutan atau masalah hukum yang lain. Kami hanya semata-mata untuk keselamatan," ujarnya.


Tim penyelidik dari KNKT sudah berhasil mengunduh salah satu kotak hitam yang berisi rekaman data penerbangan (flight data record/FDR) dengan hasil yang bagus. Isinya adalah rekaman 69 jam yang memuat data 19 penerbangan dengan total 1.790 parameter.


Dibutuhkan waktu setidaknya dua pekan ke depan untuk memverifikasi dan menganalisis data tersebut. Sementara itu, cockpit voice recorder (CVR) belum ditemukan.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore