
Tradisi masyakat Kelurahan Lumpur, Kabupaten Gresik, pada Bulan Suci Ramadhan, Kedundangan.
JawaPos.com–Seni tradisi di Kabupaten Gresik banyak dicirikan dengan kentalnya budaya santri. Folklore di Kota Santri itu tampak di lembaga pendidikan agama Islam di Kabupaten Gresik yang berjumlah 1.769.
Salah satu kesenian tradisi yang sering didengar masyarakat pesisir Gresik, namun jarang terpotret adalah Kesenian Kedundangan. Seni Kedundangan merupakan tradisi lokal, yang secara turun temurun dilestarikan warga di pesisir Gresik, khususnya di Kelurahan Lumpur dan sekitarnya.
Tradisi Kedundangan juga pernah tampak dilakukan beberapa anak-anak kecil di Kelurahan Lumpur, Kecamatan/Kabupaten Gresik. Dengan penuh semangat, mereka bergerak dari pintu ke pintu membawa sebuah kotak amal. Mereka mengajak warga sekitar untuk beramal jariah.
Asal Usul Tradisi Kesenian Kedundangan
Belum diketahui pasti, kapan tradisi kesenian Kedundangan di Kelurahan Lumpur perkampungan pesisir yang lekat dengan tokoh Kiai Sindujoyo itu, digelar untuk pertama kali. Penggagas tradisi Kedundangan apakah dari pengikut atau para santri Kiai Sindujoyo atau jauh pasca era dakwah agama Islam oleh santri Wali Songo Sunan Prapen tersebut.
Namun, tradisi itu telah hadir dan terus lestari sejak ratusan tahun silam. Menurut Budayawan Kabupaten Gresik Fatah Yasin, tradisi kesenian Kedundangan merupakan tradisi masyarakat lokal Kelurahan Lumpur yang secara turun temurun memiliki peran dalam mengingatkan Ramadhan akan segera berakhir.
”Tradisi kesenian Kedundangan pada intinya untuk mengingatkan kita pada 10 hari terakhir puasa Ramadhan. Dimulai malam 21 atau malam selikur,” kata Fatah Yasin.
Fatah Yasin menjelaskan, kesenian Kedundangan dilakukan beberapa anak. Masing-masing memiliki tugas dan peran.
”Ada yang bertugas memimpin bacaan Salawat. Ada yang menabuh terbang. Ada yang bawa kotak amal jariah secara tertib sambil keliling kampung,” terang Fatah Yasin.
Menurut dia, kesenian Kedundangan berasal dari irama yang muncul dari alat yang dipakai. Seperti tradisi adat temu pernikahan yaitu Tuk-Nong sebelum agama Islam masuk di Kabupaten Gresik.
”Seperti tradisi adat Tuk-Nong dari irama alat yang dipakai dari nama alat Ketuk dan Kenong. Awalnya tradisi kesenian Kedundangan itu selain rebana juga menggunakan alat jidor dan kendang,” terang Fatah Yasin.

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Pesan Haru Milos Raickovic ke Bonek! Gelandang Persebaya Surabaya Sudah Berikan Segalanya Musim Ini
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mantan Kiper Persebaya Surabaya Buka Suara! Dimas Galih Ungkap Kondisi Ruang Ganti PSBS Biak
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
