← Beranda

Viral Polemik Game Upin Ipin vs Windah Basudara, Pengembang Beri Klarifikasi

Aprillia JPSabtu, 26 Juli 2025 | 22.08 WIB
Windah Basudara mempromosikan game Upin Ipin Universe saat livestream (Windah Basudara/YouTube)

JawaPos.com - Streamer populer Indonesia, Windah Basudara mengalami kerugian besar usai memainkan game Upin & Ipin Universe. Meskipun berhasil membuat game tersebut viral di Indonesia, Windah justru tidak mendapatkan keuntungan sepeser pun dan malah terkena klaim hak cipta.

Kejadian ini menjadi sorotan di media sosial dan memicu perdebatan mengenai perlindungan konten kreator di era Web2. Informasi ini pertama kali diramaikan oleh akun X (dulu Twitter) @SEAGamethetic, pada Kamis (24/7).

Windah Basudara, seorang streamer dan investor Solana yang memiliki lebih dari 17 juta subscriber di YouTube, membeli game Upin & Ipin Universe seharga sekitar Rp 650 ribu.

Baca Juga: Kolaborasi Game dan Musik: Bernadya Hadir di PUBG Mobile, Bawa Kultur Pop Lokal ke Dunia Battle Royale

Windah yang berharap mendapatkan pengalaman bermain berkualitas, justru kecewa karena game dinilai memiliki bug, animasi buruk, dan gameplay yang tidak layak.

Windah mempromosikan game tersebut lewat live streaming yang viral di Indonesia. Namun, tidak ada kesepakatan sponsor, royalti, atau imbalan resmi dari pihak pengembang.

Ironisnya, Windah justru mengalami kerugian finansial sebesar 10 sampai 20 juta rupiah karena video tersebut terkena empat klaim hak cipta musik.

Lebih mengejutkan lagi, akun resmi game Upin & Ipin disebut menggunakan cuplikan dari siarannya tanpa izin, tanpa memberikan kredit maupun bayaran. Hal ini menuai kecaman dari warganet yang menilai konten kreator di era Web2 sangat rentan dieksploitasi.

Namun, setelah viral, unggahan tersebut langsung dihapus dari kanal Youtube Les’ Copaque.

Menanggapi polemik tersebut, studio Les' Copaque selaku pemilik waralaba merilis pernyataan resmi pada Jumat (25/7) melalui media sosial mereka.

Dalam pernyataan itu, pengembang mengakui adanya masalah pada peluncuran Upin & Ipin Universe dan menyampaikan bahwa tim sedang fokus memperbaiki kualitas game, termasuk isu harga dan demonetisasi terhadap streamer.

Mereka juga menyebut bahwa harga game mencerminkan kualitas dan nilai, serta menjanjikan tambahan konten ke depannya.

Terkait masalah hak cipta musik, pengembang sedang mengembangkan fitur "Streamer Mode" dan menyarankan agar musik dimatikan saat streaming untuk menghindari pelanggaran.

Les’ Copaque mengklaim telah merilis patch besar pertama akhir pekan lalu dan akan merilis pembaruan lanjutan pada akhir pekan ini, dengan fokus pada perbaikan gameplay, kamera dua pemain, sepeda motor, dan rendering untuk platform PS4 dan Nintendo Switch.

Pihak pengembang juga mengundang pemain untuk bergabung dengan komunitas Discord resmi guna mendapatkan informasi terbaru, serta berkomitmen membagikan roadmap pengembangan.

Meskipun demikian, masih banyak warganet yang menyerukan boikot terhadap game Upin & Ipin Universe.

"Teman-teman Malaysia dan Indonesia, apapun alasan yang mereka katakan, tolong jangan dukung game ini," tulis akun @ainz_artz.

"Udah dibantu promosi, eh malah diklaim hak cipta. Padahal streamer udah beli gamenya pakai duit sendiri. Promosinya juga nggak kalian bayar," komentar @MJLPENTEST di X.

Kontroversi ini membuka mata banyak pihak akan lemahnya perlindungan hak konten kreator di platform Web2.

Pengembang telah memberikan klarifikasi dan janji lakukan perbaikan, tetapi kasus Windah Basudara menjadi contoh nyata bagaimana kreator dapat dirugikan walaupun memberi kontribusi besar pada popularitas sebuah produk.

Baca Juga: RIFTSTORM, Game Looter-Shooter dari Indonesia Tampil Perdana di Steam Next Fest 2025, Hasil Investasi Lebih dari Rp 100 Miliar!

EDITOR: Candra Mega Sari