← Beranda

Menyelamatkan Ribuan Kucing dan Anjing di Rumah Singgah Hewan

Ilham SafutraSenin, 13 Februari 2023 | 15.34 WIB
Rumah singgah hewan CLOW menampung ribuan ekor kucing dan anjing. Rumah singgah itu berlokasi di Parung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. (Hendi Novian/Radar Bogor)
JawaPos.com - Kucing-kucing itu berlarian sembari bermain satu sama lain. Ada juga yang mengengong-ngeong manja. Ada juga anjing yang tidak kalah lucu bertingkah. Pemandangan itu membuat mata tak jemu melihatnya.

Tingkah-tingkah hewan itu terdapat di penampungan hewan bernama Rumah Singgah CLOW. Nama CLOW merupakan singkatan dari Cat Lovers in The World. Letaknya di Desa Waru, Parung, Kabupaten Bogor.

Bimbim selaku founder Rumah Singgah CLOW menuturkan, kucing-kucing yang ditampungnya berjumlah 1.500 ekor dan 120 ekor anjing. Umumnya kucing jalanan yang ditampung dan diberi perlakuan layak sebagai peliharaan. Sisanya kucing yang direlokasi dari wilayah Jabodetabek dan daerah lain.

"Hampir 70 persen kucing jalanan itu bermula dari kondisi sakit atau malnutrisi," ungkap Bimbim, seperti dikutip dari Radar Bogor, Senin (13/2).

Kucing dan anjing itu tidak semuanya dikandang khusus. Hewan-hewan itu berinteraksi satu sama lain dalam bangunan seukuran rumah kontrakan.
Makanan hewan itu tertata di tempatnya masing-masing. Lantai keset. Tak terlihat kotoran dari ribuan kucing.

Sementara, tak ada kotak pasir yang biasanya dipakai untuk menampung kotoran kucing. Kendati itu bernama penampungan hewan, namun rumah singgah CLOW tetap terlihat bersih dan kinclong.

“Kami tidak pakai pasir. Setiap hari lantai langsung dibersihkan. Setiap ada kotoran, langsung diangkat,” ujar lelaki yang tinggal di Depok itu.

Rumah singgah hewan itu mengundang daya tarik tersendiri. Tidak sedikit orang melihat tingkah-tingkah lucu hewan di rumah singgah CLOW. Baik sekadar cuci mata atau sekadar berdiskusi dengan Bimbim.

Cuma para pengunjung tidak menyentuh hewan-hewan tersebut. Pengunjung dibatasi kaca nan luas. Jadi melihat kucing dan anjing itu seperti di ruang NICU.

“Dulu kita biarkan tamu masuk berinteraksi langsung dengan kucing-kucing. Berkerumun kucingnya. Tapi, setelah dievaluasi, ternyata banyak kejadian kucing yang mati setelah kunjungan. Akhirnya, kita batasi lewat areal kunjungan saja. Kita juga perluas sehingga bisa lihat dari atas balkon,” tutur Bimbim.

Untuk anjing, kata Bimbim, ditampung di shelter tersendiri. Hanya beberapa ekor yang dibiarkan berkeliaran di luar ruangan dan bermain menyambut tamu.

“Ini pun tidak kita publish untuk menampung anjing. Karena kita lebih fokus dengan kucing-kucing jalanan. Beberapa anjing ada yang diserahkan sama owner-nya,” ucap Bimbim yang kini berusia 34 tahun.

Bimbim mengaku memelihara ribuan kucing dan ratusan anjing selain hobi, juga niat. Sebab, kucing dan anjing yang mendapat perlakuan baik hanya kategori tertentu. Sementara ribuan ekor lainnya hewan itu kerap disiksa, dibunuh, ditelantarkan sampai sakit. "Tidak ada yang peduli. Itulah awal saya berinteraksi dengan kucing-kucing jalanan ini,” papar Bimbim.

Sehingga, pada 2017 dia memulai membangun rumah singgah hewan bersama beberapa temannya. Mereka memanfaatkan rumah kontrakan di Parung, Bogor untuk menampung kucing-kucing jalanan. Sewa bangunan itu hanya berjalan selama 5 tahun dan memaksa mereka mencari lahan yang lebih luas.

Setelah lima tahun menempati kontrakan, dia lantas pindah dan membangun rumah singgah hewan yang lebih luas dan layak. Ukurannya hampir setengah hektare.

Rumah singgah itu dilengkapi dengan ruan penampungan, ruang tamu, klinik, hingga lahan untuk pemakaman kucing-kucing yang mati. Dalam membangun infrastruktur sebesar itu dia telah menghabiskan dana sekitar Rp 1,2 miliar.

Lahan itu pun masih akan diperluas Bimbim. Kucing yang masuk setiap hari akan menambah daya tampung areal shelter. Sehari, bisa 20 kucing yang masuk. Bahkan, mereka pernah merelokasi 400 kucing dalam sehari dari kawasan Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang. Dalam mengelola bangunan seluas itu Bimbim dibantu 43 pegawai.

"sudah nazarin, ketika rejeki saya lancarkan, maka saya akan terus bantu. Kecuali saya sudah tidak mampu memberi makan mereka, menggaji pegawai di sini, mengelola shelter," ujar lelaki asal Makassar, Sulawesi Selatan itu.

Untuk pembiayaan rumah singgah hewan itu, Bimbim tak sekadar mengandalkan donasi. Dia upaya penyelamatan tidak bisa berkelanjutan jika hanya mengandalkan donatur.

Setelah berhasil mengembalikan kesehatan kucing-kucing jalanan itu, rumah singgah CLOW juga melayani adopsi. Artinya bagi masyarakat yang serius mengadopsi untuk memelihara kucing dan anjing, maka diperbolehan. "Tentu ada administrasinya. Dana diputar lagi untuk sterilisasi maupun proses rescue lainnya," terangnya.
EDITOR: Ilham Safutra