---
DI tanah air, episcia telah lama jadi langganan penghias rumah. Meski sempat tergusur keluarga aroid seperti filodendron serta aglaonema, tanaman tersebut tetap punya penggemar setia. Salah satunya, Gien Karyadi. Di lantai 2 rumahnya, episcia dalam berbagai corak dan warna ada. Dari yang telah membentuk rumpun rimbun sampai yang masih ”bayi” dengan dua daun.
Gien bercerita, dirinya rajin mengoleksi episcia sejak Juni lalu. Dari yang lokal hingga impor. ”Yang lokal, daunnya cenderung tipis. Sementara yang impor, bulu-bulu daunnya kelihatan tebal,” paparnya.
Karena berasal dari negara tropis, episcia pun bisa beradaptasi baik di tanah air. Baik di dataran tinggi yang sejuk maupun di dataran rendah dengan suhu tinggi seperti Surabaya. ”Yang penting, tetap mendapat teduhan,” lanjutnya.
Pemilik lapak daring Kebunku Semi itu menjelaskan, karakter tiap varian episcia berbeda-beda. Gien mengaku, butuh beberapa kali percobaan untuk mengetahui ”selera” tanaman. ”Ada yang suka sangat teduh. Tapi, ada juga yang bagus kalau dapat sinar matahari cukup banyak,” ungkapnya.
Dia mencontohkan, salah satu episcia jenis spring symphony koleksinya berubah warna karena diletakkan di tempat yang terlalu teduh. Warna daun cokelat kemerahan dengan tulang daun hijau berubah lebih redup. ”Sekilas, kata orang kusam. Tapi, inilah yang bikin khas,” lanjut Gien. Dia menyarankan, jika tanaman sudah mendapat ”spot” favorit, maka jangan terlalu sering dipindahkan.
Penyiraman juga tak perlu terlalu sering. Sebab, episcia punya cabang dan daun yang lunak. Dengan begitu, jika terlalu banyak disiram, tanaman malah busuk. Perempuan yang juga seorang arsitek itu menilai, episcia terbilang mudah dirawat walau butuh trial and error. ”Tanaman ini juga unik. Kalau enggak kita perhatikan, kadang malah lebih bagus dibanding saat kita rajin mupuk atau rawat,” papar Gien. (fam/c13/ai)
AGAR EPISCIA MAKIN RIMBUN
- PERTUMBUHAN
Episcia memang relatif cepat. Namun, agar tanaman lekas rimbun, ada beberapa trik yang bisa dilakukan.
- PANGKAS DAUN TUA
Ketika daun tua dipotong, nutrisi bakal ”dialihkan” untuk menumbuhkan tunas daun, bunga, dan anakan.
- BERIKAN PUPUK KHUSUS DAUN
Gien menyarankan pemberian Gandasil D (sesuai takaran) sebulan sekali agar pertumbuhan daun lebih bagus.
- LAKUKAN REPOTTING SECARA BERKALA
Jika daun sudah menutupi tepian pot, maka saatnya melakukan repotting. Ketika dipindah, pastikan sebagian media tanah lama masih menempel di akar tanaman.
- SATUKAN RUMPUN
Jika tak ingin menggantung tanaman, maka stolon (atau anakan) yang tumbuh bisa diletakkan di pot. Namun, pastikan dulu ruang di pot masih cukup agar tak saling berdesakan.
APA SAJA YANG PERLU DISIAPKAN?
- TEMPAT TANAM
Hindari menggunakan pot terlalu besar, karena hal itu bisa memicu akar tumbuh memenuhi pot. Pertumbuhan daun pun lebih lambat.
- TEDUHAN
Idealnya, tanaman ada di luar ruangan dan di bawah teduhan. Jika tepian daun gosong, tandanya tanaman mendapat terlalu banyak paparan sinar.
- MEDIA TANAM
Gunakan campuran sekam, tanah kebun, dan pupuk kandang untuk episcia. Untuk menahan kelembapan, bagian atas media bisa ditambah lumut segar.
TRIVIA
- Banyak yang keliru menyebut episcia berasal dari Afrika lantaran masih satu genus dengan African violet.
- Di tanah air, episcia identik dengan bunga berwarna merah cerah. Namun, ada varian lain yang memiliki bunga merah muda, oranye, kuning, bahkan putih.
- Untuk pemula, Gien menyarankan episcia silver shield maupun episcia hijau yang relatif tahan banting.
- Perbanyakan episcia melalui stolon, yakni bagian batang yang tumbuh menjuntai dan di ujung ruasnya ditumbuhi tunas baru. Akar tanaman baru biasanya tumbuh 1–2 minggu setelah anakan dipisah.