---
JIKA Indonesia punya jeruk bali, Jepang punya dekopon. Sama-sama berukuran besar, tetapi jauh berbeda dari segi rasa. Dekopon lebih asam dengan perpaduan manis. Segar.
Dekopon tengah naik daun. Banyak keistimewaan dari jeruk yang bentuknya mirip kendi itu. Mulai ukuran buah dan bulirnya yang besar, bebas biji, hingga kandungan air yang lebih banyak daripada jeruk-jeruk pada umumnya. Ditambah, tampilannya yang menggoda dengan warna oranye menyala membuat orang penasaran akan kesegaran buahnya.
Kelebihan tersebut membuat jeruk yang mulai dibudidayakan di Lembang, Bandung, sekitar 2008 tersebut memiliki harga yang fantastis. Di wisata petik buah, dua sampai tiga buah dekopon bisa dihargai Rp 100 ribu. Yups, dekopon masuk deretan jeruk termahal di dunia. ’’Makanya, disebutnya jeruk sultan,’’ ujar Cecep Hidayat, owner Kebun Bibit Buah Bandung.
Pemeliharaan dekopon tak rewel. Menurut Cecep, jenis jeruk itu bisa dibudidayakan di semua tempat. Baik itu dataran rendah maupun dataran tinggi. Bahkan di tabulampot. Dengan catatan, hindari adanya unsur tembaga atau zat besi yang terlalu tinggi di media tanamnya.
Namun, hasil buahnya tetap beda di setiap lokasi. Untuk hasil budi daya di dataran tinggi, buah dekopon akan terlihat lebih oranye. Lalu, teksturnya lebih glowing. Kandungan air pun lebih tinggi daripada buah yang ditanam di dataran rendah.
Tidak berarti di dataran rendah tak memiliki kelebihan. Dekopon hasil budi daya di dataran rendah cenderung lebih manis. Sinar matahari yang lebih banyak membuat rasa manis dari jeruk dengan bentuk unik itu lebih keluar. Bahkan, sebelum matang pun, rasa manisnya sudah keluar. ’’Kadar brick-nya lebih manis. Tapi, tampilannya lebih kusam,’’ jelasnya.
Sayang, kekusaman itu yang membuat distribusi buah yang memiliki bentuk unik itu agak sulit. Pasalnya, masyarakat cenderung lebih mengutamakan tampilan ketimbang kualitas secara keseluruhan. ’’Orang Indonesia lebih suka yang glowing,” sambung pria yang menekuni dunia bibit buah sejak 2011 itu.
Tak rewel tidak berarti bisa dibudidayakan secara asal. Sama dengan tanaman buah lainnya, ada trik-trik khusus agar hasil buah yang diperoleh bisa maksimal. Cecep mencontohkan, untuk menghasilkan buah dengan ukuran besar, harus dilakukan eliminasi bunga tanaman.
’’Yang tidak diinginkan, kita buang,’’ tegasnya. Biasanya, hanya bunga yang berada di pangkal tanaman yang disisakan. Dengan trik ini, memang dalam satu tanaman hanya akan menghasilkan 5–8 buah. Namun, ukurannya jauh lebih besar ketimbang tanaman dengan 10 buah. ’’Trik-trik gini yang jadi seninya dalam pertanian,” imbuhnya.
Walaupun berukuran besar, tak perlu alat potong untuk bisa menikmati kesegaran dekopon. Pemilik nama ilmiah Citrus reticulata ’Shiranui’ itu bisa dikupas layaknya jeruk buah yang umum dijumpai.
Dia mengakui bahwa dekopon memang sangat diistimewakan. Selain urusan rasa dan ukuran, jeruk yang sekilas mirip Sunkist itu ternyata memiliki masa panen yang lebih cepat daripada jenis lainnya. Hanya 7–8 bulan sejak awal berbunga hingga memasuki masa panen. Namun, lagi-lagi ada teknik khususnya. ’’Masalah musim bisa diatur. Makanya, ada yang bilang dekopon nggak ada musiman. Tapi, ada yang bilang juga dekopon bisa panen tiga kali dalam dua tahun. Bener semua,’’ paparnya.
Cecep mengaku seluruhnya bisa dipelajari. Dulunya, dia pun tak banyak mengerti hal tersebut. Meski terjun di dunia pertanian sejak 2008, dia tak langsung ikut budi daya. Hanya nyambi jualan tanaman hias sembari kuliah saat itu. Hingga akhirnya, dia terbawa arus dan kecemplung sepenuhnya di dunia pertanian. Khususnya di pembibitan buah yang sangat masif di lingkungannya. ’’Ya akhirnya jadi penangkar bibit. Tapi, cobain juga budi daya,’’ pungkasnya.
- NAMA POPULER: Jeruk dekopon
- NAMA ILMIAH: Citrus reticulata ’Shiranui’
- ASAL: Jepang
- ASAL BIBIT: Hasil persilangan antara kiyomi dan ponkan jeruk mandarin
- REKOMENDASI TUMBUH OPTIMAL: Dataran tinggi
- IKLIM TUMBUH OPTIMAL: Iklim subtropis dengan suhu 20–26 derajat Celsius
- KEBUTUHAN SINAR MATAHARI: Sepanjang hari
- MASA PRODUKTIF: Berbuah dalam 1–3 tahun
Diolah dari berbagai sumber