Bayi-Bayi Manta Karang Nyaman di Laguna Wayag
Ikan pari manta terancam punah. Indonesia menjadi mata rantai penting reproduksinya. Laguna Wayag merupakan area pembesaran pari manta karang terbesar di dunia.
Di sana, pari manta oseanik dan pari manta karang –yang habitat normalnya terpisah– hidup bersama.
INTERNATIONAL Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) menaikkan status pari manta dari vulnerable (rawan terancam punah) menjadi endangered (terancam punah). Status itu berubah lantaran populasi pari manta di seluruh dunia terus menurun.
Tapi, jangan sedih. Saat populasi dunia merosot tajam, pari manta karang (Mobula alfredi) yang menghuni Raja Ampat justru bertambah. ’’Kalau di tempat lain menurun atau stabil, di Raja Ampat tumbuh hingga 10 persen dalam 10 tahun terakhir,’’ ujar Edy Setyawan, peneliti pari manta yang juga PhD candidate di Institute of Marine Science The University of Auckland.
Dalam webinar Hari Laut Sedunia pada awal Juni 2023, Edy mengatakan bahwa pertumbuhan populasi pari manta di Raja Ampat adalah bukti keberhasilan konservasi. Semua itu tak lepas dari pemanfaatan inovasi dan teknologi.
Hasil konservasi pari manta bisa menjadi patokan dalam upaya perlindungan dan pengembangbiakan spesies ikan yang identik dengan ’’sayap’’ yang khas itu. ’’Selama 15 tahun terakhir, kolaborasi stakeholders hingga faktor alam sangat mendukung pertumbuhan populasi di Raja Ampat,’’ paparnya.
Edy menjelaskan, ada dua jenis pari manta di dunia. Pertama, pari manta oseanik (Mobula birostris). Dengan ukuran badan hingga 7 meter, jenis pari manta itu bisa ditemukan hampir di seluruh dunia. Yang kedua, pari manta karang yang berukuran sekitar 4,5 meter dan tidak ditemukan di Samudra Atlantik.
Di perairan Indonesia, sebaran pari manta karang merata. Mulai dari Derawan, Nusa Penida, Komodo, hingga Raja Ampat. Yang spesial, dua spesies pari manta hidup berdampingan di Raja Ampat. ’’Tidak semua tempat memiliki dua spesies yang hidup berdampingan. Di sini, kita bisa menemukan mereka di cleaning station sedang membersihkan diri bersama-sama,’’ ucap Edy.
Populasi pari manta di Raja Ampat merupakan yang terbesar kedua di dunia. Tepatnya sekitar 1.700 pari manta karang dan lebih dari 850 pari manta oseanik. Di sana pun ditemukan empat area pembesaran pari manta karang.
Pari manta masuk daftar merah IUCN karena reproduksinya minim. Hewan ovovivipar itu hanya punya satu bayi dalam kurun waktu 1–6 tahun. Masa kehamilan alias kehidupan embrio setelah menetas dari telur di dalam tubuh sang induk pun tergolong lama. Yakni, 12–13 bulan. Ancaman lainnya adalah jaring nelayan. Ikan pari manta kadang terjerat jaring penangkap ikan.
Edy lantas merumuskan empat inovasi untuk mendukung konservasi. Cara pertama adalah pendekatan identifikasi fotografis. Yakni, memotret perut pari manta dengan kamera pocket atau GoPro. Pada bagian perut terdapat totol-totol yang unik dan berbeda di setiap individu. ’’Itu seperti sidik jari kita. Nah, pari manta punya sidik perut,’’ jelasnya.
Cara kedua yang Edy pakai adalah telemetri satelit. Lewat pendekatan itu, alat khusus dipasang pada tubuh pari manta untuk mengamati pergerakan dan posisinya.
Edy juga menggunakan telemetri akustik pasif yang ibarat mesin kehadiran di kantor. Setiap pari manta ditempeli satellite tag dan ketika datang ke cleaning station akan terdeteksi kehadirannya.
Teknologi lain yang Edy gunakan adalah drone. Cara itu baru diterapkan empat tahun terakhir.
Berdasar penelitiannya, Edy berhasil mengonfirmasi area pembesaran pari manta karang pertama di dunia. Yakni, di Laguna Wayag. Sampai berumur satu tahun, bayi pari manta karang tidak meninggalkan Laguna Wayag. ’’Sangat jarang keluar karena di sana ada cukup makanan dan proteksi,’’ tuturnya.
Fakta itu menjadi dasar ajakan bagi stakeholders agar bersedia ambil peran dalam pengelolaan wisata di sana. Termasuk pengelolaan sampah hingga cara menangkap ikan di area Raja Ampat dan sekitarnya. ’’Yang paling penting diperhatikan adalah pengelolaan wisata berbasis pari manta,’’ pungkas Edy. (mia/c18/hep)