
KARENA CINTA: Bimbim di tengah kucing-kucing yang diselamatkan di Rumah Singgah Clow. Dia harus memutar otak agar selter tetap berjalan. Bimbim pun bersyukur banyak pihak yang men-support.
Bimbim tak pernah mengira bahwa statusnya sebagai cat owner akan berubah menjadi cat lover atau bahkan cat rescuer. Bagi dia, seorang animal owner belum tentu memiliki kepedulian dan kecintaan pada hewan yang dipeliharanya.
---
"DULU saya hanya suka, hobi saja. Nggak sampai benar-benar cinta,” ujarnya kepada Jawa Pos saat dijumpai di Parung, Bogor, belum lama ini. Hingga sekitar tujuh tahun lalu, pria bernama asli Wahyu Winono itu menemukan sejumlah kucing yang dijual di Pasar Jatinegara.
Namun, perhatiannya tertuju pada seekor kucing yang dijual dalam kondisi sakit. Karena tak tega, Bimbim memutuskan untuk membelinya dengan niat mengobati kucing tersebut.
”Saya obati. Saya pelihara sampai ia sembuh. Saya kasih nama Cleo,” kenang Bimbim. Pertemuannya dengan Cleo itu mengubah hidupnya. ”Saya bernazar akan bantu kucing-kucing jalanan yang membutuhkan pertolongan,” katanya sambil memandikan sejumlah kucing dan anjing rescued.
Bimbim menyadari betul kapasitasnya. Sebagai manusia biasa, tentu dia tak bisa membantu seluruh kucing yang membutuhkan. Namun, dia juga yakin bahwa niat baiknya untuk menolong akan berbuah manis. Bimbim memercayai bahwa banyak orang di dunia ini yang memiliki hati mulia untuk membantu sesama makhluk hidup.
Dalam suatu momen, Bimbim bertemu dengan rekan-rekan sesama cat lover. Pada 9 Oktober 2016, dia dan beberapa rekannya itu berkeinginan mendirikan sebuah selter.
Pada Maret 2017, berdirilah selter tempat penampungan kucing-kucing telantar bernama Rumah Singgah Clow. Nama Clow merupakan akronim dari cat lovers in the world. Pria 34 tahun itu menyadari bahwa membuat selter tentu memerlukan dana.
Berbekal kemampuan marketing selama menjalani pekerjaan sebagai event organizer, dia mulai berikhtiar. ”Karena membuat selter itu nggak bisa hanya berbekal dari donasi orang. Akhirnya, saya cari mitra. Lalu, dibantu MMI Petfood yang sekarang jadi Amore,” jelasnya.
Klinik itu cukup dikenal di kalangan animal lover karena menawarkan berbagai layanan kesehatan bagi hewan dengan biaya yang sangat terjangkau. Berbagai usaha dilakoninya, mulai membuat bazar hingga berjualan makanan hewan. Pelan-pelan keuntungan didapat. Pundi-pundi itu digunakan Bimbim untuk mengobati kucing-kucing hasil rescue.
Perjalanan Bimbim dan Rumah Singgah Clow bukannya mulus tanpa halangan. Berbagai isu dan tudingan miring pernah ditujukan kepadanya. Namun, dia tak ambil pusing.
”Saya hanya bisa membuktikan bahwa apa yang dituduhkan yang jelek-jelek itu tidak benar. Yang penting, saya tetap usaha dengan baik, ya jualan, ya ikut bazar,” jelas pria yang berulang tahun setiap 23 Juli tersebut.
Seiring dengan berjalannya waktu, Rumah Singgah Clow makin berkembang. Selter itu terus berfokus menampung kucing telantar yang sakit, kucing kecelakaan yang butuh penanganan, dan kurang gizi (malanutrisi). Kini sudah lebih dari 1.400 kucing yang ada di situ.
Seluruh anabul itu dirawat dengan diberi makanan dan vitamin, dijaga kebersihannya, dan dicek kesehatannya oleh dokter hewan. Clow juga menerima kucing jalanan untuk ditampung. Hanya dengan membayar biaya administrasi Rp 100 ribu per kucing, siapa pun bisa membantu me-rescue kucing jalanan. Biaya orang tua asuh (OTA) itu juga hanya dibayar sekali saat membawa kucing hasil rescue.
