alexametrics

Parasit Toksoplasma Bisa Nempel di Bulu

22 Februari 2021, 11:48:31 WIB

Toksoplasmosis tidak hanya berisiko menurunkan kesehatan hewan, tapi juga manusia.

SEBAGAI pencinta anak berbulu (anabul), tentu Anda tak ingin membawa risiko buruk pada kesehatan keluarga karena penyakit yang ditularkan dari hewan ini.

Toksoplasmosis adalah salah satu penyakit yang dapat menular dari hewan ke hewan serta hewan ke manusia. Penyakit tersebut bermula dari stadium toksoplasma yang infektif (ookista) dan bisa menimbulkan penyakit. Biasanya penyakit itu dibawa parasit toksoplasma gondii (T. Gondii) pada feses atau kotoran hewan yang menjadi awal mula penularan penyakit ini.

Toksoplasmosis biasanya paling banyak ditularkan tikus, anjing, dan kucing. Parasit dari feses yang bentuknya sangat ultramikro itu bisa menempel pada bulu si anabul. Bisa juga menempel pada makanan yang dikonsumsi. ”Kalau makanan yang dikonsumsi kucing itu kotor, tidak matang, tidak dicuci dengan bersih, biasanya bisa muncul si tokso,” kata dosen Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS) drh Desty Apritya MVet.

Menurut Desty, parasit ini dapat timbul dari lingkungan yang tercemar. Misalnya di pasar tradisional yang kurang bersih dan banyak tikusnya. Tikus-tikus itu, jika memang positif toksoplasmosis, bisa menularkan parasit ke sayuran maupun daging yang ada di pasar. Ketika seseorang pulang membawa belanjaannya ke rumah dan memberi makan si anabul, tanpa terlebih dahulu mencuci atau merebus pakannya, parasit dapat menempel pada bulu maupun pakan si anabul.

Toksoplasma juga dapat menempel jika feses anabul tidak segera dibersihkan. ”Makanya, jangan terlalu lama membiarkan feses itu ada di pasir atau di tanah, lalu tidak segera dibereskan. Segera bersihkan feses, siram dengan air, atau buang melalui kloset,” imbuh Desty.

Sebab, jika feses tidak segera dibersihkan, parasit yang menempel pada bulu anabul dapat berpindah ke manusia. Untuk itu, penting bagi Anda selalu mencuci tangan sebelum dan sesudah menyentuh hewan kesayangan. ”Kalau tidak cuci tangan, lalu langsung makan, misalnya, nanti parasitnya masuk ke dalam mulut melalui makanan yang kita konsumsi,” lanjut Desty.

Manusia yang terinfeksi parasit ini biasanya akan mengalami gejala yang cukup parah. Terutama pada ibu hamil. Ibu hamil yang terjangkit toksoplasmosis bisa berisiko mengalami abortus atau janin yang keluar sebelum waktunya (keguguran). Atau, jika tidak keguguran, bayi yang dilahirkan berisiko mengalami penumpukan cairan di rongga otak sehingga meningkatkan tekanan pada otak (hidrosefalus).

Risiko kecacatan pada bayi ini tentu harus dihindari. Namun, Desty mengatakan, bukan berarti ibu hamil sama sekali tidak boleh berinteraksi dengan kucing. ”Asalkan kucing itu dipelihara di lingkungan yang bersih dan sehat, ibu yang hamil juga selalu menjaga kebersihannya, ya tidak apa-apa,” jelasnya.

Desty pun menyarankan agar hewan peliharaan, baik kucing maupun anjing, menjalani general check-up minimal enam bulan sekali. Dari situ akan diketahui kondisi kesehatan hewan peliharaan. Termasuk, apakah ada toksoplasma atau tidak.

Hal itu penting untuk diketahui. Sebab, hewan yang memiliki toksoplasmosis biasanya asimtomatik alias tidak menunjukkan gejala yang berarti. Kucing misalnya. Biasanya hanya menunjukkan gejala demam atau bersin-bersin. Sehingga sering kali si pemilik mengira itu hanya gejala sakit biasa yang akan sembuh dengan sendirinya.

Baca Juga: 30 Lagu Diaransemen Ulang, Rhoma Irama Gugat Rp 1 Miliar

Setelah melakukan pemeriksaan, jika si anabul dinyatakan positif terinfeksi toksoplasmosis, segeralah berobatkan ke dokter hewan. Biasanya dokter akan memberikan instruksi berupa terapi oral. Bisa melalui terapi pakan atau antibiotik yang harus diberikan kepada si anabul.

”Pokoknya, kalau kucing itu habis dari luar atau melewati daerah yang kotor atau becek, segera dimandikan. Makanannya juga harus diperhatikan. Jangan diberi makanan yang terlalu mentah dan tidak bersih,” tutur Desty.

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : rin/c9/tia




Close Ads