alexametrics

Manfaatkan Waktu di Tengah Pandemi Bisa Lakukan Urban Farming

21 Juli 2020, 22:32:47 WIB

JawaPos.com – Pandemi Covid-19 telah mengubah tatanan hidup dan perekonomian secara drastis. Juni lalu, Kamar Dagang Indonesia (Kadin) mencatat bahwa ada setidaknya 6,4 juta pekerja yang merasakan dampak Covid-19. Dampak tersebut beragam, mulai dari pemotongan gaji hingga pemutusan hubungan kerja (PHK). Krisis ekonomi akibat pandemi saat ini bahkan sering dibandingkan dengan krisis moneter 1998 di mana pada waktu itu, ketika perusahaan-perusahaan skala besar gulung tikar, UMKM tetap bertahan, bahkan mampu menjadi penyelamat bagi perekonomian nasional.

Bagaimana dengan sekarang? Meski hantaman virus Korona tak dapat dihindari oleh pelaku UMKM, Menteri Koperasi dan UKM menyebutkan bahwa terdapat sejumlah sektor UMKM yang mengalami peningkatan signifikan. Hal itu dirasakan oleh UMKM produk hobi outdoor dan indoor yang naik 60 persen, produk kesehatan naik 90 persen, produk makanan herbal naik 200 persen dan produk bahan pokok naik 350 persen.

Pelaku UMKM, atau siapa pun yang bertekad memulai usaha untuk menambah penghasilan, harus jeli dalam melihat peluang dan menciptakan produk yang dibutuhkan masyarakat. Yang terjadi saat ini adalah pola konsumsi masyarakat cenderung lebih konservatif.

Oleh sebab itu, ada baiknya jika UMKM memproduksi sesuatu yang tengah menjadi kebutuhan, atau bahkan dapat menjawab kegelisahan masyarakat terkait situasi yang terjadi. Melihat produk-produk yang mengalami kenaikan permintaan dari data Menteri Koperasi dan UKM, urban farming adalah salah satu ide bisnis yang potensial dan bisa dilakukan sendiri sembari mengisi waktu luang di tengah pandemi.

Urban farming merupakan aktivitas pertanian di kota, yang dapat dilakukan dengan memanfaatkan lahan terbatas seperti halaman atau atap rumah. Selama
periode work from home, urban farming tengah menjadi tren bagi masyarakat di perkotaan.

Banyak orang menjalani urban farming sebagai hobi baru bersama keluarga di rumah untuk melepas stres. Bercocok tanam sendiri mungkin adalah sesuatu yang tidak pernah terpikir akan dilakukan pada hari-hari dalam kondisi normal. Lebih dari itu, sayuran hasil kebun sendiri juga digemari karena masyarakat semakin aware dengan kesehatan.

Melalui urban farming, seseorang dapat memastikan seluruh proses dan kandungan sayur aman untuk dikonsumsi oleh keluarga. Konsen masyarakat Indonesia terhadap gaya hidup sehat telah meningkat sejak tahun lalu. Pada laporan 2019 Year in Search, Google mencatat bahwa masyarakat Indonesia tengah mencari alternatif makanan dan minuman yang lebih menyehatkan.

Pandemi yang tengah berlangsung diperkirakan akan membuat masyarakat semakin selektif terhadap makanan yang mereka konsumsi. Makanan-makanan sehat yang organik dan dapat membantu daya tahan tubuh akan banyak dicari.

Jika dilihat lebih jeli, tren hidup sehat dan urban farming ini juga menawarkan sebuah peluang usaha yang menjanjikan. Selain untuk konsumsi keluarga, hasil bercocok tanam dapat dipasarkan dan diolah
menjadi menu makanan sehat yang tengah digemari seperti salad wrap, smoothies, hingga detox juice.

Soal urban farming, salah satu pegiatnya yang juga menjabat sebagai Chief Marketing Officer Ninja Xpress, penyedia jasa pengiriman, Andi Djoewarsa punya tips terkait urban farming. Menurut dia, urban farming dapat dilakukan di mana saja termasuk di rumah dengan alat dan bahan sederhana.

“Terlebih, urban farming dapat dilakukan dari rumah dengan alat dan bahan sederhana serta modal yang
tidak terlalu besar,” ujar Andi berbagi tipsnya kepada JawaPos.com.

Untuk memulai urban farming, dirinya menyebut sarana belajar bisa dari banyak sumber. Di tengah kecanggihan teknologi saat ini, referensi terkait urban farming bahkan bisa diakses di platform berbagi video YouTube.

Di bidangnya, Andi menyebut belajar urban farming juga kini tersedia di YouTube Ninja Xpress. Berkolaborasi dengan para kreator, konten tersebut juga bertujuan untuk memberikan inspirasi bagi siapa saja untuk memulai usaha dan produktif untuk mencoba hal baru dari rumah.

Selanjutnya, gunakan media tanam yang tepat. Sayuran perlu media tanam yang subur. Oleh karena ini tanah saja tidak cukup, padukan dengan sekam bakar dan pupuk agar akar dapat menembus pori-pori tanah serta mendapatkan nutrisi yang cukup dengan menggunakan pupuk alami seperti pupuk kandang, atau pupuk kompos yang dapat dibuat dari sampah sisa makanan.

Kemudian, menyiram tanaman dapat dilakukan kapan saja. Pagi hari identik sebagai waktu terbaik untuk menyiram tanaman. Tapi ternyata hal ini dapat dilakukan kapan saja, baik pagi, sore, ataupun malam hari.

Yang terpenting menyiram tanaman harus dilakukan rutin tiap hari. Dengan demikian, urban farmer pemula tak perlu pusing untuk menyisihkan waktu merawat tanaman di tengah kesibukan.

Hasil akhir dari urban farming adalah lebih menghargai makanan. “Selain untuk dikonsumsi atau dijual kembali, melalui urban farming kita memiliki kesempatan untuk back to nature,” ungkap Andi.

Kehidupan kota yang serba instan mungkin membuat banyak orang asal dan tak tahu bagaimana proses yang harus dilalui sayur, buah dan makanan lain untuk sampai dan terhidang di meja makan kita. “Ketika urban farming dilakukan dengan sepenuh hati, secara tidak langsung kita dapat lebih menghargai makanan,” tandas Andi.

Editor : Edy Pramana

Reporter : Rian Alfianto



Close Ads