alexametrics

Aymee Sidarta dan Serunya Jadi Arsitek Busana Anjing

18 Oktober 2020, 17:17:28 WIB

Ada Shiro, Petto, dan Usagi. Di hadapan tiga Pekingese menggemaskan itu, duduklah Aymee Sidarta sambil senyum-senyum.

Dia adalah desainer pakaian tiga anjing yang diasuh Johan Wijaya dan Steffi Karsono itu. Sabtu siang (17/10) mereka janjian fitting baju.

’’Gampang-gampang susah,’’ ungkap Aymee tentang profesinya sebagai desainer baju anjing. Ada saja kejadian yang membuat dia tak pernah bisa melupakan momen saat mendandani anjing. Khususnya tiga anak asuh Johan dan Steffi itu.

Petto pernah membuat Aymee repot pada Maret 2018. Ketika itu, anjing berbulu putih tersebut ikut fashion show. Sang pawrent, Steffi, jelas tak mau setengah-setengah. Maka, didapuklah Aymee sebagai desainer. Gaun pink dengan ornamen bulu-bulu dipilih Steffi sebagai kostum Petto. Ada aksen ekor panjang pada kostum itu. Tentu saja, sarat hiasan bulu pula.

’’Ini mungkin yang paling ribet. Kalau motong kain bulu itu, bulunya terbang ke mana-mana. Sampai-sampai serumah bulu semua,’’ kenang Aymee saat dijumpai di kawasan CitraLand kemarin.

Meskipun ribet, alumnus Arsitektur UK Petra itu tak butuh waktu lama untuk menyelesaikan gaun Petto. ’’Ngerjainnya bener-bener mepet. Kayaknya, semalam udah jadi ekornya itu,’’ ujar Aymee. Setelah urusan ekor dan bulu-bulu beres, sisa proses pembuatan gaun pun gampang saja.

Esoknya, gaun itu dipakai Petto untuk berlenggak-lenggok di catwalk. Nah, Aymee beralih profesi dari desainer menjadi fotografer. Itu merupakan bentuk dukungan Aymee untuk Steffi dan Johan, pawrent Petto yang sekaligus teman baiknya.

Selama menekuni profesi sebagai pet fashion designer, pengalaman apa yang paling emosional buat Aymee? ’’Waktu itu sempat ada baju pesanan yang udah jadi, tapi ada bagian yang kotor kena tanda jahitan,’’ ungkapnya. Demi kesempurnaan, dia pun berinisiatif mencuci bagian yang kotor itu.

Tapi, setelah dicuci, ternyata noda penanda jahitan itu malah melebar ke mana-mana. ’’Aku coba kucek. Eh, kainnya makin rusak. Mau nangis rasanya,’’ kata Aymee. Kini, kejadian itu bisa dia kenang sambil tertawa-tawa.

Selain soal kain, perempuan 25 tahun tersebut juga sering dibikin pusing karena klien. Ya, anjing-anjing lucu yang jadi pelanggannya. ’’Kalau dibuat ukuran S, M, L itu nggak bakal bisa. Soalnya, proporsi setiap jenis juga berbeda. Ada yang kakinya pendek, kurus, atau lehernya kecil. Ketebalan bulu juga macam-macam,’’ jelasnya.

Karena itu, Aymee selalu melebihi ukuran pada bagian-bagian tertentu. Itu untuk mempermudah pemakaian baju dan menghindari kesempitan. Sebab, sering kali saat tiba waktunya fitting, ukuran tubuh para klien sudah berubah. ’’Kayak baju udah jadi, tapi ternyata anjingnya gemukan. Akhirnya mesti benerin lagi,’’ ceritanya.

Aymee yang kini berkecimpung di dunia fashion anjing mengaku belajar secara otodidak. Dulu, dia memang pernah ikut kursus fashion selama sebulan. Tapi, itu fashion untuk manusia. Bukan anjing.

Aymee menjadi percaya diri setelah sukses membuatkan pakaian untuk anjing salah seorang teman. ’’Terus, iseng saya upload di Instagram. Ternyata banyak yang suka,’’ ucap owner Petiquet tersebut.

Dari otodidak dan iseng, dia kini menekuni aktivitas yang jauh berbeda dengan bidang ilmunya di dunia arsitektur. Dan, banyak pakaian rancangannya yang memenangi fashion show atau kompetisi kostum.

Ikuti Tren Baju Manusia

Agar berbeda, Aymee mengaku tetap menggunakan ilmu arsiteknya untuk merancang pakaian anjing. Dunia arsitektur menuntut dia selalu berpikir untuk menciptakan desain yang tidak sama dengan yang sudah ada. Kini, prinsip itu juga dia terapkan untuk bisnis yang ditekuninya.

Perempuan yang berulang tahun tiap 22 Desember itu mengaku terinspirasi baju-baju manusia. ’’Gimana caranya aku bisa jadiin desain baju manusia itu menjadi pakaian juga untuk anjing,’’ terang Aymee. Itu memaksanya untuk terus berkreasi dan mengikuti tren.

Misalnya, baju rumahan yang kini sedang tren. Aymee lantas menggagas baju kembaran antara pawrent dan anjing yang diasuhnya. Dia menamai desain itu Twinsie Loungewear. ’’Fungsinya sama kayak semacam piyama-piyama yang sekarang booming. Dipakai di rumah aja oke, dipakai keluar bentar juga masih oke,’’ sambungnya.

Jenis kain yang Aymee pakai pun beragam. Tidak hanya berfokus pada kain katun. Dia mengaku lebih sering menggunakan kain daces. ’’Kain ini terkesan elegan mewah gitu. Tapi, biasanya juga dikombinasikan dengan kain katun dan kain-kain yang lain juga,’’ tuturnya.

Selain pakaian, Aymee juga mengkreasikan fashion yang lain. Mulai cape, tudung, dress, collar tie, bow tie, vest, suit, hingga kimono. Aksesori tambahan seperti topi dengan berbagai bentuk juga pernah dia ciptakan. Di antaranya, witch hat, boater hat, baker hat, topi santa, dan topi cheongsam dengan ekor rambut. Setelah anjing dan beberapa kali kucing, kini Aymee berpikir untuk merancang busana buat kelinci.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : ama/c18/hep




Close Ads