alexametrics

Kisah Keluarga Sandra Brail dan Kucing-Kucing Asuh Mereka

Datang Sendiri dengan Kondisi Spesial
11 Oktober 2020, 17:50:57 WIB

Populasi kucing sudah banyak. Apalagi kucing-kucing jalanan atau kucing yang dibuang pemiliknya. Hati Sandra Brail selalu teriris saat melihat kucing tidak terawat di jalanan. Jika mampu, dia membawanya ke rumah untuk dirawat.

”Saya percaya aja sih soal keseimbangan di dunia,” ucapnya. Jadi, menjaga hewan-hewan di sekitar juga berdampak pada kita sebagai manusia. Itulah yang diyakini Sandra Brail. Sejak lima tahun terakhir, Sandra dan keluarganya mengasuh kucing dan anjing di sekitarnya.

Mereka datang dengan kondisi berbeda. Ada yang kemudian menetap, ada pula yang datang beberapa waktu lalu berkelana sendiri. ”Ada sih yang ambil karena nemu di jalan. Tapi, biasanya mereka datang dengan kondisi unik masing-masing untuk minta tolong,” ungkapnya.

Salah satunya, si Bubu. Kucing persilangan persia dan domestik itu berbulu abu-abu. Saat ditemukan di sekitar rumah Sandra, tubuh Bubu sudah dipenuhi scabies. ”Kok ya pas sakit, lalu dibuang. Padahal, penyakitnya itu bisa sembuh lho,” kenang Sandra.

Karena tidak tega, Sandra langsung membawa Bubu opname di klinik hewan. Bubu dirawat sekitar dua bulan. Saat itu ia menginap di klinik kurang dari tiga hari. Namun, Sandra harus rajin memberinya nutrisi dan salep. Sekarang Bubu sudah sembuh dan tampak seperti kucing persia biasa. Gerakannya aktif meski sedikit antisosial dengan kucing-kucing lain. ”Memang suka menyendiri nih,” kata Ratna Brail, adik Sandra, sambil mencolek Bubu.

Ada pula si Bonbon. Kucing anggora campuran domestik yang ditemukan Sandra dan Ratna di pasar dekat rumah. Saat itu Bonbon masih sangat kecil. Bonbon sendirian dan tidak terlihat bermain dengan siapa pun. Karena khawatir, keduanya memilih membawa Bonbon. ”Awalnya, kami lihat gerak-geriknya dulu. Ternyata nggak kelihatan ada keluarga atau pemiliknya,” ujar Sandra.

Bonbon tumbuh sehat di rumah Sandra. Tidak ada kondisi tubuh unik yang dimiliki Bonbon. Yang dilakukan Sandra hanya mensterilkan Bonbon. ”Di sini kan bebas. Jadi, yang perempuan pasti disteril,” jelasnya.

Memang Sandra termasuk tim prosteril. Menurut dia, populasi kucing saat ini banyak sekali sehingga tidak seluruhnya dirawat dengan baik. Menurut Sandra, mensterilkan kucing tak lantas memusnahkan spesies hewan lucu tersebut. Mensterilkan kucing berarti memastikan sumber daya yang ada cukup untuk kucing yang dimiliki. ”Ya, kayak kami gini, kalau memang nggak mampu nampung lagi, ya open adopt,” tuturnya.

Itu pun tidak mudah. Sandra biasanya mengecek latar belakang dan kebiasaan calon pemilik. Dia tidak mau kucing yang ditemukan malah jatuh ke tangan yang salah. ”Kadang begini, anaknya masih kecil. Jadi, main hewannya parah sampai hewan tersiksa. Atau, anaknya di usia mudah bosan, sekarang mau, nanti buang,” tegasnya.

Sandra lantas menceritakan kisah Mama. Kucing domestik itu dipanggil Mama karena ditemukan bersama anak-anaknya yang baru dilahirkan. Ya, Mama dibuang setelah melahirkan empat anak. Mereka ditaruh dalam satu kardus di warung dekat rumah Sandra. ”Nah, si Mama ternyata ingat rumah pemiliknya. Jadi, ia suka bolak-balik minta makan ke sana,” kenang Sandra.

Karena penasaran, Sandra mengikuti Mama ke rumah pemiliknya. Saat itu Sandra bermaksud mengajak pemilik mensterilkan Mama. Namun, ajakan tersebut tidak disambut baik. ”Ya, akhirnya kami bawa saja si Mama dan anak-anaknya. Khawatir setelah itu mereka malah dibuang makin jauh dan nggak terawat,” ucapnya.

Sandra menuturkan, memelihara kucing merupakan komitmen panjang. Hewan peliharaan juga berperasaan. Jadi, apa yang kita lakukan juga bisa menyakiti mereka.

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : dya/c14/tia




Close Ads