alexametrics

Satu Tahap Saja Gagal, Hasil Arwana Super Red Tak Akan Maksimal

11 April 2021, 16:48:57 WIB

Setiap kontestasi selalu menuntut lebih untuk menjadi yang terbaik. Pun sama halnya dengan arwana super-red. Mempersiapkan mereka agar siap ”diadu” membutuhkan atensi, waktu, dan modal jauh lebih besar daripada untuk sekadar pajangan.

ADA serangkaian proses dan tahapan yang wajib dilalui dalam menyiapkan arwana kontes. Karena sifatnya wajib, satu proses saja yang tidak maksimal hampir dipastikan hasilnya tidak akan maksimal. Pendiri Iseereds Jakarta Michael Leonard memaparkan, proses melahirkan arwana super-red jempolan bahkan harus dimulai sejak pemilihan bibit. Biasanya, para pemburu mencari bibit dengan anatomi bagus dan seunik mungkin.

Misalnya, kepala dengan kontur sendok yang sempurna. Kemudian sirip dayung yang panjang hingga ekor besar yang memunculkan aura gagah. ”Masalahnya, hunting ikan dengan anatomi bagus itu nggak gampang. Karena orang sudah rebutan,” ujarnya saat ditemui di kediamannya di Sunter, Jakarta Utara, Selasa (6/4).

Untuk mendapatkan bibit unggulan, para pemburu harus datang langsung ke tempat asal super-red, yakni Kalimantan. Michael telah memiliki indukan yang dikelola kerabatnya di Putusibau, sebuah kecamatan di Kalimantan Barat yang dialiri Sungai Kapuas Hulu. Dalam satu kali masa lahiran, indukan bisa menghasilkan 30–40 bibit baru. Di situlah, proses sortir dilakukan. Bibit dengan anatomi baik akan dibawa ke Jakarta. Sementara itu, bibit yang biasa-biasa saja dilego ke pedagang atau kolektor biasa.

Saat bibit unggul didapat, proses yang tak kalah rumit adalah proses memunculkan warna. Yang bikin rumit karena arwana super-red lahir dengan warna putih. Agar didapatkan warna merah yang menggelora, dibutuhkan sentuhan yang khas. Misalnya, menyediakan ekosistem khusus. Untuk air, Michael harus menyediakan air RO dengan pH dan PDS rendah. ”Air sumur bisa saja nggak maksimal. Kami kan fokus buat ikan kontes. Jadi, untuk naikin warna lebih cepat, air harus lebih soft,” imbuhnya.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : far/c12/cak

Saksikan video menarik berikut ini:




Close Ads