alexametrics

Merawat Tin agar Mudah Berbuah

11 Januari 2022, 09:30:14 WIB

Butuh Tanah Lembap, Penggemar Cuaca Hangat

Tin bukanlah tanaman baru di Indonesia. Tanaman asal Mediterania dan Asia Barat itu sempat populer 5–6 tahun lalu. Namun, popularitasnya masih terjaga. Peminatnya masih tinggi. Harganya pun relatif baik.

MESKI bukan tanaman asli iklim tropis, tin tetap bisa beradaptasi di tanah air. Di kebun Ridwan di Balas Klumprik, Surabaya Barat, beragam jenis tin tumbuh subur. Buah pun rimbun di tanaman yang berukuran mungil maupun besar.

Menurut Ridwan, tin cukup unik. Menyukai lembap, tapi tak tahan terpapar hujan. Manja, tapi juga genjah alias mudah berbuah.

Pemilik lapak online Arafah Garden itu menjelaskan, tin memerlukan media tanam yang lembap. ’’Lembap tapi meneruskan air dengan baik, jadi nggak tergenang. Biasanya pakai campuran sekam, kompos, dan pupuk kotoran hewan,’’ papar Ridwan.

AKAN PANEN: Ridwan menunjukkan beberapa jenis buah tin yang sukses ditanamnya. (GUSLAN GUMILANG/JAWA POS)

Dolomite juga bisa ditambahkan untuk menetralkan keasaman tanah. Ridwan menjelaskan, campuran itu sebaiknya difermentasi lebih dulu dengan bantuan eco enzyme selama 2–4 minggu.

Berbeda dengan media tanam yang harus lembap, tanaman tin menggemari cuaca hangat dan kering. Musim hujan bisa mendatangkan penyakit bila tidak ada antisipasi yang baik. Ridwan menuturkan, salah satu hal yang paling umum adalah daun bebercak mirip karat. Paparan hujan terlalu lama bisa memicu pertumbuhan jamur karat yang dapat menyebar ke seluruh daun.

’’Kalau sudah terkena, biasanya diberi fungisida sesuai dosis. Cara mencegahnya, tin sebaiknya diberi pelindung,” terang pria yang menekuni bisnis tanaman buah tersebut.

Selain merusak daun, paparan hujan juga bisa membuat buah pecah. Meski belum matang atau mencapai ukuran optimal, tin bakal ’’mekar” karena overwatering. Rasa buah pun tak akan baik karena terlalu banyak menerima air.

Untuk menyiasatinya, Ridwan membuat greenhouse dengan atap plastik bening dan dinding kasa halus. Itu juga berguna untuk menghalau serangga. ’’Sebenarnya, buah atau bunganya tin nggak menarik serangga. Tapi, karena kebunnya campur dengan tanaman lain, jadi rawan kupu-kupu atau kebul (kutu putih),” ujar Ridwan. Dia pun menyarankan agar pemberantasan serangga dilakukan sejak dini dengan cara manual.

Ridwan melanjutkan, di ’’dunia” tin, harga ditentukan oleh berbagai aspek. Tanaman dengan tampilan unik biasanya dibanderol dengan harga relatif tinggi. Misalnya, jolly tiger variegated yang punya ciri khas daun dan buah belang. Variegata juga ditemui di panachee, yang buahnya berwarna semburat hijau-putih dengan bulu tipis. Meski demikian, merawat dua jenis tin belang itu terbilang tidak mudah.

Lantaran merupakan kelainan produksi klorofil, daun dengan warna dominan pucat pun rentan terkena penyakit dan gosong. Ridwan tidak menyarankan dua jenis itu karena daya tahan yang buruk. Menurut alumnus SMAN 22 Surabaya tersebut, pekebun pemula bisa memilih jenis green jordan, iraqi, dan brown turkey. Ketiganya mudah beradaptasi dan genjah. Tak perlu menunggu tinggi, tanaman mulai berbuah.

Nah, bagi pekebun yang mengincar tanaman produktif, masui dauphine bisa jadi pilihan. Tin hasil pengembangan Jepang itu dikenal memiliki buah yang berderet sepanjang cabang. Dengan catatan, tanaman mendapat nutrisi yang cukup dan tidak diterpa hujan.

Salah satu primadona di kebun Ridwan adalah UCR 143-36, tin hasil pengembangan University of California, Riverside, yang juga dikenal dengan nama emerald strawberry. ’’Bobotnya bisa sampai 100 g per buah,” ucapnya. Selain itu, jenis tin yang kerap diperjualbelikan buahnya adalah Taiwan golden fig atau TGF jumbo yang berwarna merah gelap.

BUAH TIN. (GUSLAN GUMILANG/JAWA POS)

CERMAT BERSIAP MENANAM TIN

Di lapak daring, tanaman tin ditawarkan dengan banyak pilihan. Harganya pun beragam. Sebelum menjatuhkan pilihan, berikut tips yang perlu diperhatikan.

• Riset lebih dulu. Tanya rekomendasi kepada pekebun yang lebih berpengalaman dan googling jenis yang akan dibeli.

• Cari tin yang dikembangkan di tempat beriklim hangat. Tin yang dibudidayakan di tempat dingin biasanya tidak tumbuh optimal di Indonesia.

• Pilih tanaman tin hasil grafting, bukan cangkok. Tanaman hasil grafting memiliki perakaran yang lebih baik. Sebab, batang bawah biasanya dipilih dari jenis yang memiliki perakaran kuat.

• Beli di penjual yang bonafide. Jika memungkinkan, cari yang lokasinya dekat, sehingga tanaman tidak stres karena perjalanan terlalu panjang.

MEMBUAT TIN BERBUAH

BUAH TIN. (GUSLAN GUMILANG/JAWA POS)
  • STRES AIR

Jangan siram tin selama 2–3 hari atau hingga daunnya terlihat layu. Setelah itu, siram hingga jenuh dan tiriskan agar air tidak menggenang.

  • PANGKAS DAUN

Pucuk baru maupun daun tin bisa dipangkas, sehingga energi tumbuhan bisa dialihkan untuk berbuah.

BERIKAN PUPUK BUAH

BUAH TIN. (GUSLAN GUMILANG/JAWA POS)
  • Pupuk KNO3 (kalium nitrat), MKP (monopotasium fosfat), dan Gandasil B bisa digunakan untuk merangsang pertumbuhan buah. Pastikan takaran dan frekuensi pemberiannya sesuai dengan petunjuk.

MANFAATKAN DAUN TIN

  • Selain buahnya, daun tin pun bisa punya nilai plus. Apa saja?

TEH TIN

  • Jika tin ditanam organik, daunnya bisa dimanfaatkan untuk teh. Cukup keringkan daun hingga kecokelatan dan renyah, lalu potong sesuai kebutuhan. Simpan di stoples tertutup.

KOMPOS

  • Untuk kompos, pastikan daun tin bebas dari karat daun atau infeksi lainnya. Biarkan daun kering jatuh di tanah atau olah dengan enzim.

GREEN TEA DARI TIN

  • Pucuk tin bisa diolah seperti teh hijau. Caranya, kukus pucuk tin hingga lunak. Peras airnya, lalu gulung dan keringkan. Rasa teh dari pucuk menyerupai teh hijau. Tapi, perlu diperhatikan, getah pucuk tin bisa memicu iritasi kulit.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : fam/c18/ai

Saksikan video menarik berikut ini:



Close Ads