alexametrics

Ikan Pemakan Pasir, Punya Perilaku Unik dan Belum Banyak Dibiakkan

8 Mei 2022, 18:14:10 WIB

JawaPos.com – Ada banyak jenis ikan di dunia yang berperilaku ganjil. Ikan pemakan pasir (eartheater fish) di antaranya. Sesuai namanya, ikan itu mengganjal perutnya dengan cara memakan pasir.

Tri Handoko Ali Setiawan pemilik House Spot Aquatic, Depok, memilih ikan pemakan pasir sebagai salah satu koleksinya karena statusnya yang terbilang masih langka. Belum banyak dijual di pasaran.

’’Karena mengembangbiakkannya masih sulit,’’ tutur Handoko.

Koleksi ikan pemakan pasir yang dia miliki didatangkan langsung dari Amerika Serikat. Waktu itu, dia hanya membeli sepasang dari temannya dua tahun lalu.

Ukurannya sekitar 2 sentimeter. Saat ini ikannya sudah bertumbuh besar menjadi seukuran 10 sentimeter. Ketika beranjak dewasa, corak pelangi di tubuhnya semakin terang.

Handoko membeli ikan yang masih termasuk keluarga Cichlid geophagus itu Rp 250 ribu per ekor. Kemudian, seiring berjalannya waktu, Handoko juga berhasil mengembangbiakkannya.

Hingga sekarang jumlahnya sudah 50 ekor. ’’Saya mau koleksi dulu,’’ katanya saat ditanya apakah berniat menjual ikan-ikan tersebut.

Dia mengatakan, butuh perhatian khusus dalam memijahkan ikan tersebut. Sebab, tidak segampang menernak ikan hias sejenisnya. Dia lantas menjelaskan proses perkawinan ikan pemakan pasir.

Caranya adalah si ikan betina mengeluarkan telurnya terlebih dahulu dari dalam tubuhnya. Setelah itu, ikan-ikan tersebut dibuahi oleh si pejantan.

Sekali kawin, seekor betina bisa mengeluarkan 150 butir telur. Tingkat penetasan mencapai 90 persen, dalam kondisi yang sangat ideal.

Proses berkembang biak ikan pemakan pasir itu berbeda dengan ikan dari keluarga cichlid lainnya semisal electric blue hap yang juga dikoleksi Handoko.

Ikan Pemakan Pasir punya sisik berwarna pelangi. (Salman Toyibi/Jawa Pos).

Untuk electric blue hap, si betina menyimpan telur yang sudah dibuahi di dalam mulutnya. Sama seperti ikan arwana. Karena ’’dierami’’ di dalam mulut, rata-rata hanya bisa menampung 20 butir telur.

Handoko menjelaskan, sejatinya eartheater fish tidak benar-benar memakan pasir, lalu menelannya. Yang terjadi adalah ikan tersebut mengumur-ngumurnya, kemudian dimuntahkan lagi.

Dalam proses tersebut, si ikan memilah sisa-sisa makanan yang sudah bercampur pasir. Nah, pasir yang sudah tidak mengandung makanan dimuntahkan lagi.

Karena pola makannya yang seperti itu, pertumbuhan ikan pemakan pasir tidak secepat ikan sejenisnya.

Keunggulan lain dari ikan pemakan pasir adalah pergerakannya yang sangat aktif. Selalu berenang di dasar akuarium sambil mengobok-obok pasir. Karena itu, seisi akuarium menjadi lebih hidup.

Ikan itu cocok tinggal di habitat bersuhu 25–30 derajat Celsius, dengan PH air di angka 6-7. Lalu, lebih senang dengan akuarium yang berarus sedikit deras seperti di habitat aslinya, yaitu di sungai.

Untuk makanannya, bisa digunakan pelet khusus untuk ikan cichlid. Usahakan peletnya yang bisa terendam alias tidak mengambang.

Menurut dia, pemeliharaan ikan pemakan pasir tidak terlalu sulit. Bahkan jika dibandingkan dengan ikan cichlid lainnya. Yang penting adalah bisa menjaga kondisi air seperti habitat asalnya di Sungai Amazon.

’’Mungkin PH air di Depok ini sama dengan di Amazon. Buktinya, bisa berkembang biak dengan baik di tempat saya,’’ tuturnya.

Editor : Candra Kurnia

Reporter : wan/c6/cak

Saksikan video menarik berikut ini:



Close Ads