alexametrics

Tour de Madura hingga Telo Challenge ala Komunitas Bikeberry

6 September 2020, 17:17:23 WIB

JawaPos.com – Komunitas sepeda biasanya akan spesifik mengotak-ngotakkan brand sepeda yang dipakai. Namun, tidak dengan Bikeberry. Komunitas sepeda asal Surabaya itu lebih fleksibel dengan pemilihan sepeda apa saja yang dipakai para anggotanya. Mulai sepeda lipat, sepeda roadbike, bahkan sepeda keranjang yang biasa dibawa ke pasar. Motonya, yang penting sepedaannya bukan apa sepedanya. Begitulah yang selalu digaungkan komunitas yang berdiri sejak 2008 silam tersebut.

Namun, tidak berarti mereka juga tak megikuti tren. Karena saat ini trennya adalah seli, hampir 100 persen anggota Bikeberry pasti punya sepeda jenis tersebut. ”Kami rata-rata memang nggak hanya satu sepeda. Jadi, kalau misal touring gitu kami buat kesepakatan. Yang mau PP biasanya bakal pakai sepeda yang nggak bisa dilipat. Kalau yang mau berangkatnya aja, dan pulang naik kereta, mereka bakal pakai seli,” jelas public relation Bikeberry Fahmi Ndut.

Sudah berdiri hampir 12 tahun, komunitas yang kini anggotanya mencapai 300 orang itu tentu punya agenda menarik tiap tahunnya. Salah satunya, yaitu Tour de Madura (TDM). ”Yang menarik dalam TDM ini sebenarnya petualangannya. Dulu sebelum ada Suramadu kami ke Madura pasti naik kapal. Pulangnya pasti kami bawa banyak cerita seru dari Madura itu,” ceritanya.

Petualangan tersebut sebenarnya sangat melelahkan karena udara yang panas, angin yang tidak bersahabat, hingga jalanan yang masih terbuat dari batu kapur. Bahkan, anggota Bikeberry mengaku akan kapok dengan perjalanan tersebut.

”Istilahnya ’kapok lombok’. Pulang dari TDM biasanya nggak ada yang mau lihat sepeda lagi karena saking capeknya. Tapi ya gitu, begitu ada lagi, langsung pada ikut lagi,” kenangnya.

Hal-hal gila lainnya yang biasa dilakukan komunitas yang lahir pada 28 Oktober itu adalah Telo Challenge yang diagendakan dua bulan sekali. Agenda tersebut biasa dilakukan anggota dengan mengundang komunitas sekitar. Yakni, gowes minimal 75 kilometer. Rekor paling jauh yang pernah mereka pecahkan adalah gowes sejauh 150 kilometer di area Surabaya Raya. ”Inilah kenapa namanya Telo Challenge. Kaki jadi hitam kayak telo bakar setelah gowes jauh,” jelas Fahmi, lantas tertawa.

Sedihnya, kegiatan-kegiatan seru itu harus tertunda di tahun ini karena pandemi. Pria kelahiran Januari tersebut menambahkan, gowes biasanya tetap dilakukan, tapi tidak semasif dulu. Biasanya hanya diagendakan lewat grup telegram untuk gowes-gowes ringan. ”Mungkin untuk menyikapi ramainya bersepeda sekarang ini, kita harus lebih hati-hati di jalan jangan sok-sokan. Setiap pengguna jalan punya hak yang sama. Harus berbagi dan mematuhi lalu lintas. Yang terpenting juga safety juga harus dijaga. Minimal helm lah. Atau saat ini ditambah dengan masker,” pesannya.

AGENDA RUTINAN BIKEBERRY

  • Petualangan Tour de Madura setiap tahun sekali.
  • Telo Challenge setiap dua bulan sekali.
  • Gowes tujuh belasan dengan kilometer tertentu sesuai dengan usia Indonesia.
  • Fun riding tiap Sabtu dan Minggu. Sabtu untuk jarak yang agak jauh, Minggu untuk recovery.

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : ama/c13/tia



Close Ads