Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 13 Januari 2025 | 13.30 WIB

Ada Yang Penasaran hingga Pelarian serta Benar-Benar Kejar Prestasi Jadi Alasan Berkuda Makin Digemari

KONSISTEN: Belajar berkuda sejak 2022, Niken Larasati tengah mempersiapkan diri untuk seleksi porprov cabang horseback archery. Sebelumnya, Niken aktif di olahraga wushu. (ROBERTUS RISKY/JAWA POS) - Image

KONSISTEN: Belajar berkuda sejak 2022, Niken Larasati tengah mempersiapkan diri untuk seleksi porprov cabang horseback archery. Sebelumnya, Niken aktif di olahraga wushu. (ROBERTUS RISKY/JAWA POS)

Berkuda kini kian digemari, terutama oleh kelompok usia remaja. Pelatih berkuda K-Satria Stable Surabaya mencatat adanya peningkatan jumlah peminat.

”Bisa 6–7 kali ngajar untuk sesi pagi aja. Sebelumnya kurang dari 5 orang. Mulai anak-anak, remaja, hingga dewasa. Paling banyak usia 20 tahunan,” ujar Imam Bukhori saat ditemui setelah melatih di lapangan pacu kawasan Medayu, Rungkut, Surabaya, pekan lalu.

Alasan peminat menjajal berkuda pun beragam. ”Aku baru 3–4 bulan ini latihan. Penasaran pengin coba aja, ternyata seru meski masih ngeri-ngeri sedap takut kepreset kudanya,” kata Karin setelah berlatih pagi itu (4/1).

Sebagian besar datang mencoba karena dorongan rasa penasaran. Tidak sedikit yang akhirnya serius menekuninya hingga menjadi atlet berkuda. ”Ada juga yang menjadikannya pelarian karena habis putus cinta. Ada yang ikut-ikutan atau FOMO (fear of missing out, Red) ya istilahnya. Tidak apa-apa, selama itu kegiatan yang positif. Tapi, kalau ditekuni, sebetulnya bisa jadi prestasi,” beber Imam.

NGERI-NGERI SEDAP: Berawal dari penasaran, Karin sudah 3–4 bulan belakangan berlatih berkuda di K-Satria Stable Surabaya. (ROBERTUS RISKY/JAWA POS)

Ambil contoh RA Niken Larasati Wirawan. Atlet wushu itu baru belajar berkuda pada 2022, tapi sudah melenggang di kejuaraan. Bahkan, Niken kini tengah fokus pada olahraga memanah sambil berkuda. ”Ini lagi latihan buat seleksi porprov Februari mendatang untuk cabang horseback archery,” ujar alumnus Sastra Inggris Unair itu.

Imam mengatakan, belajar berkuda tidaklah susah. Asal niat belajar, berani, dan patuh instruksi pelatih. Di awal latihan pun, kuda tidak langsung dilepas begitu saja. ”Nanti kalau penunggang sudah bisa rising trot atau gerakan naik turun itu dan keseimbangannya sudah bagus, baru coba dilepas. Tiga kali pertemuan biasanya sudah bisa, tapi tetap diarahkan,” jelas Imam.

Imam memaparkan, idealnya minimal usia 7–8 tahun untuk belajar berkuda. Pada usia tersebut, anak sudah bisa memahami instruksi dan fokus. ”Kalau buat pengenalan aja boleh dari kecil asal anaknya berani,” lanjut Imam.

Apa saja yang perlu disiapkan? Pastikan mengenakan celana panjang yang tidak ketat dan kaku. Gunakan kaus kaki supaya kaki tidak lecet saat bergesekan dengan sepatu. Perlengkapan lain seperti sepatu bot dan helm sudah tersedia di stable dan dapat dipinjam. (lai/c7/nor)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore