Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 26 Juni 2023 | 03.25 WIB

Rentan, Hiu Berjalan Butuh Proteksi dari Luar

TAK BISA LARI: Tim Konservasi Indonesia mengidentifikasi corak pada tubuh hiu berjalan untuk memantau populasinya. - Image

TAK BISA LARI: Tim Konservasi Indonesia mengidentifikasi corak pada tubuh hiu berjalan untuk memantau populasinya.

SAMA seperti pari manta, hiu berjalan (Hemiscyllium spp.) juga masuk daftar merah IUCN. Elasmobranch and Charismatic Species Conservation Strategy Manager Konservasi Indonesia Iqbal Herwata menyebut teknologi pemodelan spasial sebagai salah satu cara untuk melihat pola perubahan atau pola distribusi spesies hiu berjalan.

"Ini sangat penting untuk meneliti keberadaan spesies, preferensi habitat, serta mana area yang perlu diproteksi,” ungkapnya tentang teknologi yang mengombinasikan pemodelan statistik dan artificial intelligence (AI) tersebut.

Sesuai namanya, hiu berjalan tidak bisa "berlari” atau menyeberangi jarak hingga 50 meter. Spesies endemik Indonesia itu menggunakan keempat siripnya untuk "berjalan”. Karena itu, spesies tersebut tidak mampu menghindari degradasi habitat. Hiu berjalan sangat membutuhkan proteksi dari luar.

Di Indonesia ada enam dari total sembilan spesies hiu berjalan di dunia. Empat di antaranya hanya ada di perairan kita. Hemiscyllium halmahera hanya ada di Halmahera, Hemiscyllium freycineti hanya ada di Raja Ampat, Hemiscyllium henryi hanya ada di Kaimana, dan Hemiscyllium galei hanya ada di Teluk Cenderawasih.

Dua lainnya, Hemiscyllium trispeculare menghuni perairan antara Aru dan Australia serta Hemiscyllium strahani menghuni perairan antara Papua dan Papua Nugini.

Berbeda dengan hiu dan pari yang cenderung lambat dewasa dan minim reproduksi, hiu berjalan memiliki pola pertumbuhan lebih cepat. Namun, menurut Iqbal, umur hiu berjalan relatif lebih pendek. Yakni, hanya lima tahun.

Selain itu, karena hidup di perairan dangkal, range mobilitas hiu berjalan tidak luas. Akibatnya, mereka cenderung terisolasi dan mudah terdampak perubahan lingkungan atau iklim. "Karena di perairan dangkal, jadi dekat dengan populasi manusia. Perkembangan di pesisir akan memengaruhi habitat mereka. Termasuk penangkapan lokal,” jelasnya.

Namun, Iqbal yakin teknologi yang ada dan berkembang saat ini dapat membantu proses konservasi biota laut tersebut. Khususnya, terkait genetika atau tingkat kerentanan terhadap perubahan iklim.

"Keberadaan hiu berjalan ini salah satu nilai penting bagi sumber daya kelautan karena sifatnya yang endemik. Sehingga perlu dilakukan konservasi jenis dan genetikanya,” tandas Iqbal. (mia/c7/hep)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore