
TAK BISA LARI: Tim Konservasi Indonesia mengidentifikasi corak pada tubuh hiu berjalan untuk memantau populasinya.
SAMA seperti pari manta, hiu berjalan (Hemiscyllium spp.) juga masuk daftar merah IUCN. Elasmobranch and Charismatic Species Conservation Strategy Manager Konservasi Indonesia Iqbal Herwata menyebut teknologi pemodelan spasial sebagai salah satu cara untuk melihat pola perubahan atau pola distribusi spesies hiu berjalan.
"Ini sangat penting untuk meneliti keberadaan spesies, preferensi habitat, serta mana area yang perlu diproteksi,” ungkapnya tentang teknologi yang mengombinasikan pemodelan statistik dan artificial intelligence (AI) tersebut.
Sesuai namanya, hiu berjalan tidak bisa "berlari” atau menyeberangi jarak hingga 50 meter. Spesies endemik Indonesia itu menggunakan keempat siripnya untuk "berjalan”. Karena itu, spesies tersebut tidak mampu menghindari degradasi habitat. Hiu berjalan sangat membutuhkan proteksi dari luar.
Di Indonesia ada enam dari total sembilan spesies hiu berjalan di dunia. Empat di antaranya hanya ada di perairan kita. Hemiscyllium halmahera hanya ada di Halmahera, Hemiscyllium freycineti hanya ada di Raja Ampat, Hemiscyllium henryi hanya ada di Kaimana, dan Hemiscyllium galei hanya ada di Teluk Cenderawasih.
Dua lainnya, Hemiscyllium trispeculare menghuni perairan antara Aru dan Australia serta Hemiscyllium strahani menghuni perairan antara Papua dan Papua Nugini.
Berbeda dengan hiu dan pari yang cenderung lambat dewasa dan minim reproduksi, hiu berjalan memiliki pola pertumbuhan lebih cepat. Namun, menurut Iqbal, umur hiu berjalan relatif lebih pendek. Yakni, hanya lima tahun.
Selain itu, karena hidup di perairan dangkal, range mobilitas hiu berjalan tidak luas. Akibatnya, mereka cenderung terisolasi dan mudah terdampak perubahan lingkungan atau iklim. "Karena di perairan dangkal, jadi dekat dengan populasi manusia. Perkembangan di pesisir akan memengaruhi habitat mereka. Termasuk penangkapan lokal,” jelasnya.
Namun, Iqbal yakin teknologi yang ada dan berkembang saat ini dapat membantu proses konservasi biota laut tersebut. Khususnya, terkait genetika atau tingkat kerentanan terhadap perubahan iklim.
"Keberadaan hiu berjalan ini salah satu nilai penting bagi sumber daya kelautan karena sifatnya yang endemik. Sehingga perlu dilakukan konservasi jenis dan genetikanya,” tandas Iqbal. (mia/c7/hep)

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
