alexametrics

Dear Produsen Hoaks, Ini Bukan Foto Terawan dapat Penghargaan dari WHO

14 November 2020, 05:05:51 WIB

KABAR palsu yang satu ini sebenarnya terkesan menyanjung Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto. Namun karena tidak sesuai fakta, hal itu justru bisa membuat sang menteri merasa malu. Kabar tersebut berupa foto beserta keterangan bahwa Terawan mendapatkan penghargaan dari WHO.

”Piala dan penghargaan dari WHO untuk dr Terawan. Piala ini rencananya akan dititipkan di rumah nasja sihab sebagai ucapan terimakasih karena telah membully dirinya beberapa saat yang lalu di acara mata najwa,” begitu keterangan dari akun Facebook Satria Bagus pada 8 November 2020 (bit.do/PenghargaanWHO).

Akun Satria Bagus juga menyertakan foto Menkes dr Terawan membawa trofi dan piagam penghargaan. Lengkap beserta medalinya di sebuah ruang kerja.

Salah satu keanehan dalam foto itu, Terawan masih mengenakan seragam militer. Padahal, saat ini dia sudah berstatus purnawirawan dengan pangkat akhir letnan jenderal TNI. Asumsi awal sebelum cek fakta, momen itu diabadikan saat Terawan masih menjabat di instansi militer. Bukan foto baru, apalagi dikaitkan dengan kinerja penanganan Covid-19 atau acara Mata Najwa September lalu.

Saat ditelusuri, foto itu ternyata pernah diunggah akun Instagram milik Lembaga Prestasi Indonesia Dunia (LEPRID) pada Agustus 2019. Pada 17 Juli 2019, LEPRID berada di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta, untuk memberikan apresiasi atas prestasi yang telah diraih Terawan.

Penghargaan itu diberikan karena Terawan menemukan metode cuci otak (brainwash) dengan modifikasi program Digital Substraction Angiography (DSA) untuk penyakit stroke. Metode pengobatan tersebut bahkan telah diterapkan di Jerman dengan nama paten, Terawan Theory. Anda dapat membacanya di bit.do/Penghargaan2019.

Jawapos.com pernah memberitakan temuan dr Terawan tersebut pada 2 April 2018. Dijelaskan, ”cuci otak” itu sebenarnya merupakan metode radiologi intervensi dengan memodifikasi DSA (Digital Substraction Angiogram).

Sebelum menjalani DSA, tahap awal pasien diperiksa lengkap. Mulai MRI, EKG, sampai CT scan. Tujuannya, mengidentifikasi titik penyumbatan seperti di bagian kepala dan jantung. Lalu, DSA dijalani pasien selama 40 menit melalui proses kateter (seperti pemasangan ring pada pasien jantung). Melalui mesin monitor dan mesin spray, dimasukkan cairan (temuan dokter Terawan) ke bagian tubuh yang ingin di-spray sumbatannya.

”Semua proses spray cairan termonitor di layar dan bisa terlihat saat cairan tersebut membersihkan titik-titik sumbatan sampai bersih,” ujar politikus PKS Mahfudz Siddiq. Dia sangat mengagumi metode tersebut. Sebab, metode itu membantu pasien tetap hidup dengan pola makan dan pola hidup yang baik agar tak ada sumbatan baru. Anda dapat membacanya di bit.do/MetodeCuciOtak.

FAKTA

Penghargaan yang diterima Terawan dalam foto itu bukan dari WHO. Melainkan dari LEPRID di RSPAD Gatot Soebroto pada 17 Juli 2019. Apresiasi itu diberikan atas prestasi dr Terawan sebagai penemu metode cuci otak (brainwash) untuk penyakit stroke.

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : zam/c6/fat



Close Ads