alexametrics

Klaim Keliru Penyebab Kematian Burung Pipit di Bali

14 September 2021, 05:48:55 WIB

ISU chemtrails atau jejak kimiawi di angkasa kembali mencuat beberapa hari terakhir. Isu tersebut diklaim sebagai penyebab ribuan burung pipit mati di Gianyar, Bali. Contohnya, posting-an akun Facebook Degung Premana yang menanggapi ribuan burung mati itu karena efek chemtrails yang membentang di langit.

”Efek chemtrail nih,” tulis akun tersebut pada 9 September 2021 sembari menyebar video dari akun Facebook Denpasar Viral pada hari yang sama. Peristiwa itu disebut berada di wilayah Setra Br Sema Pring, Gianyar, Kamis pagi, 9 September 2021 (bit.ly/EfekChemtrail).

Isu chemtrail atau chemical trail sebelumnya pernah menyebar dan dikaitkan dengan merebaknya Covid-19. Namun, isu tersebut sudah banyak dibantah dan tidak dapat dibuktikan secara ilmiah. Portal berita NewScientist termasuk sering membongkar klaim konspirasi konyol itu. Salah satu ulasannya menyebutkan bahwa jejak seperti awan yang ditinggalkan pesawat sebenarnya hanyalah produk dari kondensasi uap air. Anda dapat membacanya di bit.ly/KondensasiUapAir.

Sebagian besar menyebut bentuk awan memanjang itu sebagai condensation trail atau contrail. Sebuah efek alami dari kondensasi udara dingin yang secara tiba-tiba menjadi hangat akibat pembakaran mesin, lalu mengandung uap air dan terbentuklah gumpalan awan. Jika disederhanakan, suhu panas di mesin pesawat bertabrakan langsung dengan udara di luar pesawat yang superdingin dan terbentuklah contrail.

Lantas, apakah penyebab matinya ribuan burung pipit di Banjar Sema, Desa Pring, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar, Bali, pada Kamis (9/9) itu? Radar Bali (Jawa Pos Group) menyebutkan bahwa BKSDA Bali tengah mendalami kasus tersebut. Kasi Wilayah II BKSDA Provinsi Bali Sulistyo Widodo mengaku telah mengambil sampel bangkai dan kotoran burung untuk dibawa ke laboratorium kesehatan hewan.

Ada tiga dugaan penyebab matinya burung pipit dalam jumlah besar itu. Pertama, burung-burung tersebut memakan pakan yang terkontamisasi atau mengandung herbisida dan atau pestisida yang sifatnya toxic bagi burung. ”Setelah memakannya, tentu burung tidak langsung mati karena proses keracunan juga memakan waktu untuk sampai tingkatan mortalitasnya,” ujarnya.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : zam/c6/fat

Saksikan video menarik berikut ini:




Close Ads