JawaPos.com – Berbuka biasanya identik dengan sesuatu hal yang manis, karena hal tersebut dianjurkan oleh nabi dan sifatnya sunah. Tetapi apa jadinya kalau berbuka dengan kopi? Itulah kekhasan yang terjadi di Masjid Menara, Layur, Dadapsari, Semarang. Takmir masjid menjadikan kopi sebagai salah satu menu berbuka.
Tapi ingat, kopi bukan sembarang kopi, melainkan kopi arab. Kopi tersebut merupakan rajikan dari pasutri asal Semarang, Ali Mahsun 52, dan Nur Hidayati, 50. Keduanya adalah pembuat minuman Kopi Arab bagian menu takjil di Masjid Menara.
"Dinamai Kopi Arab bukan karena bibit atau bubuk kopinya dari negara Arab sana, bukan. Tapi ini resep bawaan dari orang Yaman," ujar Ali yang juga merupakan pengurus Masjid Menara ini, Sabtu (26/5).
Ditemui saat jelang waktu berbuka puasa di kediamannya yang hanya bersebelahan dengan Masjid Menara, baik Ali maupun Nur sebenarnya pada waktu itu terlihat sibuk. Mereka bergegas menyiapkan sejumlah rempah sebagai bahan dasar pembuatan Kopi Arab ala mereka.
Dilihat dari bahan bakunya saja, yakni tujuh rempah alami berupa Kapulaga, cengkeh, kayu manis, sere, jahe, pandan, serta daun jeruk, bisa dilihat bahwa yang mereka siapkan adalah bukan minuman biasa. "Ya sejenis herbal, jadi bukan bikin mules, tapi hangat di perut," jelas Ali lagi.
Terlihat keduanya di dapur melakukan tugas masing-masing. Ali disibukkan dengan menyiapkan jajan pasar hidangan buka puasa. Sedangkan Nur, bak di luar kepala paham betul jumlah takaran rempah yang harus ia pakai dalam menyiapkan Kopi Arab ini.
"Suami saya yang mengajarkan. Kalau soal takaran saya tidak tahu pasti, tapi pasti sejumput, segenggam seperti ini," ujar Nur sembari menuang air rebusan kopi bercampur rempah tadi ke dalam ceret.
"Kita sudah siap-siap sejak habis Ashar tadi. Ini kopinya tadi secangkir kecil untuk satu ceret. Lalu direbus bersamaan dengan rempah selama sekitar setengah jam lebih," lanjut Nur.
Menuju detik-detik adzan Maghrib, dua ceret penuh untuk 40-an cangkir berisi Kopi Arab dan sederet takjil lainnya telah disiapkan. Saat itu pula Ali kembali mengisahkan bahwa resep Kopi Arab ini diperolehnya dari seorang rekan Takmir Masjid Menara sekitar sepuluh tahun lalu.
"Beliau memang keturuan Yaman yang sejak dulu membawa resep ini kemari. Tapi awalnya saya kurang paham, mungkin semenjak awal-awal masjid ini ada. Karena masjid ini berdiri juga berkat mereka. Kalau idul fitri, mereka masih suka silaturahmi ke sini," imbuh Ali.
Dikatakannya, Kopi Arab sejak diberikan kepadanya dalam bentuk resep hingga detik ini tak mengalami banyak perubahan. Hanya sesekali ia masukkan beberapa sendok kopi giling ke dalam campuran rempah dan dua cangkir kopi saset tadi.
"Diminum biasa sama kurma. Semua dibeli sendiri kecuali takjil snack itu dari warga sekitar. Tapi kalau gula sama kopi ada yang mau ngasih ya saya terima-terima saja," candanya.
Kenikmatan kopi racikan Ali dan istri ternyata mengundang banyak warga untuk berbuka di Masjid Menara. Adalah Luhur Adi, 19, mahasiswa Universitas Diponegoro Semarang, jurusan Fisip. Mahasiswa asli Jember itu rela datang dari rumah kostnya di Tembalang hanya untuk mencicip dengan lidahnya sendiri menu berbuka kas Masjid Menara.
"Saya datang sama teman-teman kemarin-kemarin dengar cerita Kopi Arab ini. Dan bener saja, hangat di perut dan nggak bikin sakit perut," ucapnya sambil mengudap takjil.