← Beranda

Yuk! Mengenali Sejarah Masjid Tertua di Jakarta

Bintang PradewoMinggu, 27 Mei 2018 | 12.10 WIB
Masjid Jami Angke, bangunan yang berusia lebih dari 250 tahun berlokasi di Jalan Gang Masjid I RT 01/RW 05, Kelurahan Angke, Tambora, Jakarta Barat.

Indonesia adalah negara yang penduduknya berasal dari berbagai macam suku dan budaya. Pada zaman dahulu, para masyarakat membangun sebuah bangunan untuk sesuatu hal. Bangunan-bangunan itu, akhirnya menjadi sebuah bangunan cagar budaya yang dilindungi pemerintah.


Sachril Agustin, Jakarta


Di Jakarta sendiri, nyatanya ada sebuah masjid cagar budaya. Bernama Masjid Jami Angke, bangunan ini berlokasi di Jalan Gang Masjid I RT 01/RW 05, Kelurahan Angke, Tambora, Jakarta Barat.


Meski sedikit tersembunyi karena tidak berada di jalan utama, masjid ini tetap dijaga dan dirawat oleh pengurus dan masyarakat sekitar. Tapi, masjid yang telah ada dari 1751 ini, dahulu digunakan tak hanya sebagai tempat beribadah saja.


"Awal mulanya, masjid ini dibangun selain sebagai tempat beribadah, juga sebagai penggemblengan atau pembinaan pejuang muslim. Juga, untuk merancang strategi dalam melawan Belanda pada saat itu," kata Ketua III Bidang Sarana dan Prasarana Masjid Jami Angke, Muhammad Abyan Abdillah kepada JawaPos.com, di Masjid Jami Angke, Jakarta, Sabtu (26/5).


Bila dilihat, ada banyak ornamen-ornamen yang unik dan indah. Ternyata, ornamen ini dibuat dengan perpaduan dari berbagai budaya. Desain ini nyatanya bukan tanpa sebab. Menurut Abyan, ornamen ini diadopsi untuk menjelaskan bahwa masjid Jami Angke berada di lingkungan dengan berbagai suku, etnis dan budaya berbeda-beda.


Salah satu Ketua pengurus masjid ini mengungkapkan sejarah masjid Jami Angke. Dahulu, di abad 14-15, tempat dimana masjid Jami Angke berada dikenal dengan sebagai perkampungan orang Hindu-Bali.


"Setelah islam masuk ke Jakarta, yang dibawa oleh kerajaan Islam Demak, barulah islam itu berkembang di Jayakarta (Jakarta) hingga ke kampung Angke ini sendiri. Dari yang awalnya masyarakat Hindu-Bali, kemudian masuk muslim, mereka disini mereka hidup berdampingan," tuturnya.


Tak hanya itu, di abad ke-17, Tionghoa (Cina) masuk ke Jakarta atau dikenal dengan Batavia pada saat itu. Mereka (Tionghoa) menyebar hingga sampai ke perkampungan Angke. Meski pendatang baru, masyarakat sekitar menerima Tinghoa dan hidup rukun dan damai meski dengan suku dan kepercayaan yang berbeda-beda.


"Barulah di 1751, masjid Jami Angke ini berdiri. Ornamen yang ada itu mengadopsi beberapa seni arsitektur, yaitu Bali, Tionghoa, Eropa, Jawa, dan Arab. Jadi kesemuanya itu mungkin, menggambarkan situasi lingkungan yang ada pada zaman itu," tutur Abyan.


Masjid ini memiliki dua lantai, meski sekarang lantai atasnya sudah tidak digunakan. Tapi secara historis, dahulu lantai atas (lantai dua) tak hanya digunakan sebagai tempat mengumandangkan adzan saja. Lantai ini, juga dipakai masyarakat untuk memantau pergerakan musuh dalam rangka peperangan pada zaman penjajahan dulu.


Bila melihat sekeliling masjid, akan ditemukan beberapa makam. Ternyata, makam ini bukan makam sembarangan. Dikatakan Abyan, sebelah barat masjid Jami Angke, adalah makam para pendiri masjid dan keluarga besar Kesultanan Banten, Cirebon, dan Demak.


Di sebelah timur, adalah tempat peristirahatan para pemuka muslim, yang salah satunya adalah makam Sultan Pontianak, yaitu Syarif Hamid Alkadrie.


Restorasi


Sekarang, masjid ini sedang dalam tahap restorasi meski sedang diberhentikan. Restorasi dihentikan sementara karena para pengurus masjid Jami Angke tidak ingin menganggu jamaah yang datang ke masjid ini.


"Masjid ini memiliki dua lantai meski lantai atas sudah tidak digunakan. Lantai dua sekarang itu hanya sebagai monumental saja. Restorasi kami hentikan di bulan Ramadan dan akan dilanjutkan setelah Lebaran nanti," bebernya.


Restorasi dipilih karena mereka (pengurus) ingin mempertahankan bentuk asli dari masjid ini. Pemugaran, akan dilanjutkan dengan merestorasi bagian atap masjid.


"Sekarang itu masjid akan sedikit bocor bila hujan deras. Jadi ada tampias sedikit. Restorasi masjid Jami Angke dimulai dari 2017 dan setelah Lebaran akan dilanjutkan. Insya Allah, 3 atau 4 bulan akan rampung," jelasnya.


Dana pemugaran ini dikatakan Abyan didapat dari sumbangan masyarakat sekitar dan bantuan dari Pemprov DKI Jakarta serta yayasan terkait, yaitu Lingkar Warisan Kota Tua Jakarta. Meski begitu, ia mengaku terkadang kesulitan mendapatkan barang untuk pemugaran masjid ini.


"Kami ingin mempertahankan bentuk asli bangunan ini dan terkadang kesulitan mendapatkan barang. Seperti kayu, masjid ini memakai kayu jati. Kayu yang akan dipakai untuk restorasi ini dibeli dari Yogyakarta, yaitu kayu dari bekas rumah Joglo yang sudah dibongkar," lanjutnya.


Tapi, tak hanya restorasi. Sebelumnya, renovasi dilakukan pada masjid ini. Seperti pembuatan tempat wudhu dan toilet. Restorasinya, hanya dilakukan untuk bangunan utama, yaitu masjid Jami Angke.


"Dulu, didepan masjid ada tenda, aula dan Taman Pendidikan Al Quran (TPA). Tapi sekarang sudah dipindahkan. Di masjid ini pula terkadang datang tamu untuk berziarah," katanya.


Masjid ini dikatakan Abyan dibuka selama 24 jam. Dari itu, terkadang ada orang yang datang untuk sekedar berziarah atau berdoa di dalam masjid sampai Subuh. "Kami menerima tamu dari mana pun. Cuma, kami akan meluruskan agar para tamu tidak salah kaprah dalam mendatangi makam. Hal ini dilakukan agar tidak mengarah ke syirik," tutupnya.

EDITOR: Bintang Pradewo